
Lea dengan cepat-cepat memasukkan peralatannya kedalam tasnya. Rasanya dia sangat malas untuk ke kampus, namun jika dia tidak ke kampus dia akan bosan lama-lama dirumah.
Dia ingin pergi jalan-jalan, namun siapa yang akan mengantar dirinya?
Mau minta tolong sama dokter Nathan? Oh tidak bisa, mungkin saja saat Lea menelfon pria itu dia Nathan lebih dulu menolaknya.
Ingin minta tolong sama Rifal? Lea tidak mau, bisa-bisa dia akan merusak momen kebahagiaan dokter Valen dan juga om Rifalnya itu jika dia meminta tolong kepada Rifal.
Dia malas ke kampus, apa lagi beritanya yang digosip menjadi simpanan sugar Daddy sudah terdengar luas dikampus.
Ada juga yang percaya dengan gosip itu, ada pula yang tidak percaya. Mereka percaya Lea tidak melakukan hal seperti itu. Ada pula yang mengatakan Lea munafik muka polos tapi sangat pandai bermain.
"Kesellll!" oceh gadis itu menyimpan tasnya diatas meja kayu yang cantik. Setelah memasukkan keperluannya dalam tas dia kembali duduk.
"Kania, cabe!" Bahkan Lea sampai greget saat mengingat nama Kania teman kampusnya itu.
Lea langsung tersenyum sumringah saat mengingat satu nama yang akan bisa membantunya.
"Biarin deh buat darah Lea naik asal kak Nando bisa antar Lea," kata gadis itu menekan nomor Nando. Dia berharap pria itu sedang cuti meski kemungkinannya sangat kecil.
Nando yang sedang merapikan rambutnya didepan cermin melirik handphonenya yang berdering, tertuliskan nama idiot. Iyah, dia memberikan nama idiot untuk Lea, menurut Nando nama tersebut sangat cocok untuk gadis seperti Lea.
"Halo, dengan Fernando tampan disini," Nando menjawab telfon Lea sehingga Lea yang mendapatkan perkataan seperti itu kepada Nando memutar bola matanya malas.
Meski baru mengenal Nando baru-baru ini membuat Lea sudah tau sedikit karakter pria itu, yang membuat orang selalu ingin berdebat dengannya.
Menghubungi Nando, jadi Lea sudah tau apa konsekuensinya jika menghubungi pria cerewet yang pertama kali Lea kena.
"Kak Nando kerja nggak hari ini?" Lea sudah mulai bertanya kepada Nando dengan suara baik yang dia buat-buat. Sehingga Nando langsung melihat kearah handphonenya.
Ini benarkan nomornya si idiot?
"Soalnya Lea mau minta tolong sama kak Nando, buat antar ke tempat yang pengen Lea kunjungi," Lanjut Lea diseberang telfon membuat Nando menatap dirinya didepan cermin yang sudah siap dengan style kantornya. Menandakan ini hari dia tidak libur sama sekali.
Namun mengapa mulutnya sangat gatal ingin mengatakan jika dia tidak sedang bekerja, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Ok idiot, kamu tunggu saya disana. Sebentar lagi saya akan jemput kamu. Jadi kamu siap-siap." Lepas mengucapakan kata itu, Nando langsung mematikan handphonenya.
Padahal, pagi ini dia akan mengadakan rapat dengan klien baru ditempat semalam Rifal dan Valen mengadakan Diner.
__ADS_1
"Gimana yah caranya saya minta izin sama Rifal. Ini semua gara-gara gadis idiot itu." Mulut Nando langsung saja refleks mengatakan kata seperti tadi.
"Yes!" Sementara Lea langsung bahagia saat Nando mengatakan dia sedang tidak bekerja. Gadis itu langsung mengganti bajunya. Hari ini dia tidak masuk kuliah karna berita tersebut yang membuat moodnya akan hancur jika dia berangkat ke kampus pagi ini.
Tangan Nando mengetik sebuah pesan untuk dikirimkan kepada Rifal.
Ting
Saat berhasil mengirim pesan, Nando langsung membuang handphonenya keatas kasur. Dia sangat takut jika Rifal tidak memberikannya izin untuk pergi padahal dia sudah berjanji kepada Lea.
"Ada yang ngirimin kamu pesan," kata Valen memperbaiki dasi milik Rifal.
"Minta tolong handphonenya diambil dulu," kata Rifal sehingga Valen berjalan kearah nakas untuk mengambil handphone milik Rifal.
Rifal membuka pesan tersebut, yang rupanya dikirim oleh Nando.
"Fal, hari ini saya izin cuti yah. Soalnya badan saya mules."
Rifal mengerutkan keningnya dalam-dalam, ini pertama kalinya dia mendengar badan mules.
"Oky!"
Ini pertama kalinya Nando minta cuti kepadanya, Rifal pikir penyakit pria itu lumayan parah. Karna bagaimanapun sakitnya Nando jika dia masih bisa bergerak dia tetap ke kantor. Namun sekarang pria itu minta cuti padanya.
Nando langsung mengganti pakaiannya menjadi sedikit santai, tidak senormal tadi.
"Siapa?" tanya Valen setelah selesai merapikan dasi milik Rifal.
"Nando," jawab Rifal. "Kita jenguk Nando yah," lanjutnya sehingga Valen melirik Rifal.
"Emangnya asisten kocak kamu itu kenapa?" tanya Valen.
"Dia lagi sakit. Sepertinya sih lumayan parah, biasanya kalau dia sakit dia tetap berangkat kerja. Sekarang dia minta libur satu hari," kata Rifal mengingat jika asistennya itu tidak suka mengambil cuti, dia lebih suka dikantor daripada tinggal seorang diri di apartemen.
"Dia sakit apa?" tanya Valen.
"Katanya sih badanya mules," kata Rifal sembari menatap penampilannya didalam cermin yang sangat perfeck. Apa lagi Valen yang memasangkannya dasi.
"Badannya mules?" tentu saja Valen merasa aneh dengan penyakit tersebut.
__ADS_1
"Katanya sih gitu."
Valen manggut-manggut. "Mungkin aja perutnya yang mules," kata Valen memperbaiki kata-kata tersebut.
"Sekalian kamu periksa nantinya, kasi obat," kata Rifal karna bagaimanapun istrinya itu seorang dokter.
Valen mengangguk mengiyakan ucapan Rifal.
Valen mengganti bajunya untuk segera siap-siap berangkat bersama dengan Rifal untuk menuju ke apartemen milik Nando, untuk menjenguk pria itu.
Tak lupa pula, Valen membawa alatnya untuk memeriksa Nando nantinya.
Rifal mengemudikan mobilnya untuk menuju apartment milik Nando. Sampai-sampai dia mengkensel rapat pagi ini bersama dengan klien barunya hanya untuk menjenguk Nando.
"Oh iya Fal. Entar di Indomaret singgah yah. Aku mau beliin buah-buahan untuk Nando," kata Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
Rifal menepikan mobilnya untuk singgah di Indomaret.
"Biar aku aja yang turun," kata Valen.
"Kamu yakin?" tanya Rifal.
"Aku cuman bentar."
"Yaudah kalau gitu," kata Rifal final. "Hati-hati, kalau ada sesuatu langsung telfon aku," lanjutnya dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
Valen keluar dari mobil untuk segera masuk kedalam Indomaret. Dia membeli buah-buahan untuk Nando dan juga makanan sehat.
Indomaret dari rumah Valen tidak jauh, Valen berjalan ke kasir untuk membayar belanjaannya.
"Dokter Valen," Lea langsung menyapa Valen yang berada didepan kasir untuk membayar belanjaannya.
"Eh Lea, kamu mau kemana beli kue sebanyak ini?" kata Valen melihat makanan ringan terlalu banyak di troli milik Lea. "Jangan keseringan, nggak baik buat kesehatan."
Lea cengengesan kearah Valen, "Iya dok," kata Lea.
Valen mengambil belanjanya lalu memberikan ATM tersebut kepada kasir. "Sekalian saya bayar belanjaannya dia," kata Valen menunjuk kearah Lea.
Kasir tersebut mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
"Makasih dok," kata Lea.
"Sama-sama."