
Nando membaringkan Lea dikursi belakang, sementara Rifal sudah mengendarai mobilnya sendiri. Dia percaya jika Nando tidak akan macam-macam kepada Lea.
"Berat banget nih bocah, badan kecil beratnya bikin istighfar," keluh Nando lalu menutup pintu mobil belakang lalu masuk kedalam mobilnya untuk segera mengemudikan mobilnya.
Nando langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang, sekitar sepuluh menit mengendarai mobil akhirnya mobil milik Nando telah sampai didepan rumah milik Lea.
Nando membalikan badannya melihat kearah belakang, dia masih melihat Lea tengah tertidur nyenyak tanpa gangguan sama sekali.
"Dasar kebo," ketus Nando. Entah sudah berapa banyak nama panggilan yang dia berikan untuk Lea selama dia bersama dengan gadis itu.
"Idiot bangun." Nando membangunkan Lea dengan posisinya masih berada dikursi pengemudi.
"Lea, bangun. Atau saya bawa kamu ke apartemen saya," ancam Nando agar gadis itu bangun. Namun gadis itu hanya menggeliat lalu tidur nyenyak kembali.
"Bangun!" kata Nando lagi lebih keras sembari menoel pipih milik Lea.
"Apasih! Ganggu orang tidur aja. Nggak sopan!" gadis itu marah-marah dengan matanya masih terpejam membuat Nando menatapnya dengan tatapan datar.
"Ini bukan dikamar kamu Lea. Kamu sedang berada dikamar saya!"
Dengan spontan Lea langsung membuka mantanya lalu memeriksa seluruh tubuhnya apakah dia masih menggunakan pakaian utuh atau tidak.
Nando yang melihat tingkah Lea berusaha menahan tawanya.
"Andai sedari tadi saya mengatakan seperti ini, mungkin saja saya tidak menunggu kamu bangun sampai dua jam lamanya tidur di mobil saya," bohong Nando kepada Lea. Padahal, dia baru-baru saja sampai didepan rumah Lea.
"Jangan buat kaget deh, Lea masih suci," kata gadis itu mengusap matanya karena rasa kantuknya yang masih ada.
"Banyak bicara, kamu," kata Nando dengan ketus.
"Terserah!" kata Lea dengan setengah sadar lalu membuka pintu mobil Nando untuk segera keluar.
Brak
"Innalilahi!" sentak Nando mengusap dadanya saking terkejutnya dengan tindakan Lea yang menutup pintu mobil sangat keras.
__ADS_1
Dengan santainya Lea muncul di jendela mobil pengemudi. "Siapa yang meninggal?" tanya gadis itu santai membuat Nando lagi-lagi terkejut dengan keberadaan gadis itu.
"Kamu masuk saja, kehadiran kamu membuat saya serangan jantung!" kata Nando menutup kaca jendela mobilnya lalu menyalakan mobilnya meninggalkan rumah milik Lea.
"Aneh!" teriak Lea setelah mobil milik Nando telah menjauh.
"Baru ada beberapa jam mengenal tetangga Rifal udah buat saya stress, seperti menjaga bayi besar!" oceh Nando.
Dia mengemudikan mobilnya untuk segera ke apartemen miliknya. Apartemen milik Nando tidak terlalu jauh dari rumah mil Rifal. Alasannya cukup simpel, agar saat dia menjemput Rifal tidak perlu waktu lama untuk sampai kerumah pria itu.
***
Daniel mengusap rambut hitam milik putranya yang tengah tertidur. Dia ingin mencarikan ibu sambung untuk Agrif namun dia belum menemukan wanita yang cocok untuk menggantikan posisi almarhum istrinya.
Dia ingin menikah kembali karna kasihan melihat putranya yang menginginkan kasih sayang seorang ibu. Daniel ingin mencari istri yang tulus menyayangi anaknya.
Karna Daniel bekerja hingga larut malam hanya untuk memenuhi seluruh kebutuhan putranya. Agar saat dewasa dia bisa mewariskannya kepada Agrif.
Agrif membuka matanya secara perlahan-lahan karna merasakan sentuhan pada kepalanya.
"Kamu tidur yah, besok kita jalan-jalan," kata Daniel membuat Agrif langsung tersenyum. Daniel itu sangat sibuk, bahkan dia sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali dia mengajak Agrif untuk jalan-jalan.
"Beneran?" tanya anak itu memastikan.
Daniel mengangguk mengiyakan. "Makanya kamu tidur, besok kita akan jalan-jalan," kata Daniel dan dibalas anggukan semangat oleh Agrif.
Besok Daniel akan meminta libur satu hari kepada Frezan, dia ingin mengajak anaknya untuk jalan-jalan.
Daniel menelfon Frezan, dia asik berbincang-bincang dengan Frezan lalu mematikan handphonenya setelah dia mendapatkan izin dari Frezan untuk tidak masuk bekerja besok.
Daniel mematikan lampu kamar Agrif hanya menyisakan lampu tidur lalu dia menutup pintu kamar Agrif. Besok dia akan mengajak Agrif jalan-jalan kemana yang dia mau.
Daniel membaringkan tubuhnya diatas kasur miliknya, dia mengingat kejadian dimana Kayla menanyai kabarnya namun dia hanya cuek saja.
Padahal, dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia merindukan gadis itu. Semenjak dia menikah dengan ibu yang melahirkan Agrif dia belum pernah melupakan sosok Kayla.
__ADS_1
Bagaimanapun, sosok Kayla sangat berkesan dalam hidupnya yang mewarnai masa SMA-nya semenjak kenal dengan sosok Kayla.
"Gue rindu sama lo, Kay," kata Daniel tersenyum simpul. "tapi gue juga sadar, kalau gue udah nggak punya hak lagi semenjak gue relain lo nikah sama, Elga," menolognya sembari menatap langit-langit kamarnya.
***
Jam sepuluh malam, Rifal siap-siap untuk menjemput Valen. Meski dia sudah tau jam 11 nanti Valen baru akan pulang, namun dia memilih untuk berangkat lebih awal agar Nathan tidak mempunyai waktu untuk modus kepada Valen.
Rumahnya dari rumah sakit tidak terlalu jauh, jadi Rifal tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Rifal memarkirkan mobilnya untuk segera masuk kedalam rumah sakit, dia berinisiatif menunggu Valen dikantin rumah sakit atau tidak diruangan milik Valen.
Handphone milik Valen belum juga aktif, menandakan jika perempuan itu belum kelar menyelesaikan tugasnya, untuk melakukan tindakan operasi malam ini.
"Rifal!"
Langkah kaki Rifal langsung terhenti saat seseorang memanggil namanya. Perempuan itu menggunakan celana kulot serta baju yang sangat ribet jika dilihat serta dia menggunakan lipstik merah dibibirnya.
Amora langsung menghampiri Rifal. "Waktu lo buat Adelia mana?" tanya Amora seakan-akan menuntut kepada Rifal.
"Dan satu lagi, jangan sangkut pautkan masalah ini dengan masalah pekerjaan," lanjutnya dengan Rifal masih menatap perempuan dihadapannya.
"Urus adik lo sendiri, gue udah lepasin, Adelia," kata Rifal penuh penekanan kepada Amora.
Amora tersenyum sinis. "Nggak bisa kayak gitu, lo udah janji sama Adelia dan seenaknya lo mau lepasin dia begitu aja," desis Amora membuat Rifal menyungkirkan senyum tipisnya kearah Amora.
"Gue ini seorang bajingan, gue nggak perlu ngertiin perasaan seseorang saat gue sakiti dia," kata Rifal membuat tangan Amora terkepal hebat.
"Jangan pernah hubungin gue mengenai Adelia," lanjutnya lalu pergi meninggalkan Amora dengan tangan terkepal hebat.
"Gue pastiin lo bakalan nyesel!"
Langkah kaki Rifal kembali terhenti, dia membalikkan badannya sehingga bertatapan dengan Amora. "Gue nggak bakalan nyesel dengan gue pilih istri gue sendiri!" kata Rifal dengan penuh penekanan lalu melanjutkan langkah kakinya berjalan kearah kantin rumah sakit.
Sebenernya dia ingin melihat keadaan Adelia, tapi karna adanya Amora membuat niatnya terurungkan.
__ADS_1