
Sedari tadi Valen hanya diam saja dibansal tempat dia berbaring, dokter belum melepaskan selang infus ditangan Valen karna kondisi Valen saat ini masih lemah, di tambah dia sedang hamil.
Valen menatap langit-langit kamar yang dia tempati dengan selang infus masih setia ditanganya.
Lagi dan lagi air matanya jatuh dikedua pipinya dengan matanya fokus menatap langit-langit kamar tempatnya berbaring. Dia tidak tau apakah hadiah yang diberikan Tuhan untuknya merupakan kado paling istimewa atau sebaliknya.
Dia mengetahui dirinya hamil bertepatan dengan kesadaran Adelia saat ini. Valen tidak tau, bagaimana nasibnya nanti kedepan-nya bersama dengan anaknya. Apakah dia tetap bersama dengan Rifal atau sebaliknya? Memikirkan hal itu membuat Valen semakin meneteskan air matanya.
Valen tidak tau, apakah Rifal telah mengetahui jika Adelia sadar atau belum. Apakah Valen harus bersyukur karna kembalinya Adelia yang telah mereka fikirkan tidak akan kembali.
Apakah Valen akan mengatakan kepada Rifal jika dirinya saat ini mengandung?
Ceklek
Valen langsung melihat kearah pintu yang dibuka oleh sosok pria tampan yang menggunakan jas berwarna putih.
Valen langsung melihat kearah samping, tak dipungkiri air mata gadis itu semakin deras saat mendengar langkah kaki Nathan berjalan kearah tempatnya berbaring saat ini.
Valen membuang wajahnya kearah samping tak ingin melihat wajah Nathan karna dia sedang menangis saat ini.
"Valen," panggil Nathan dengan suara lembutnyaa, dia yakin jika Valen mendengar panggilannya namun gadis itu tidak melihat kearahnya.
Terdengar isakan kecil dari mulut Valen saat ini yang masuk kedalam indra telinga Nathan, sudah Nathan duga jika Valen saat ini sedang menangis.
"Jaga kesehatan lo," kata Nathan kepada Valen yang masih membelakangi dirinya.
"Lo harus ingat, ada nyawa dalam perut lo saat ini ," sambungnya membuat Valen semakin terisak. Bukan hal tabuh lagi, jika Nathan akan mengetahui ini juga dari dokter yang memeriksanya tadi.
Isakan kecil yang dibuat oleh Valen semakin besar membuat Nathan merasa ibah kepada Valen. Dia yakin, Valen adalah sosok gadis yang kuat buat menghadapi ini semua.
"Sekarang Adelia sadar," kata Valen dengan isakan tanpa mengubah posisinya."Dan gue hamil," sambungnya dengan isakan yang lolos dari mulutnya.
"Gue nggak tau nasib gue kedepan kayak gimana, lo tau sendirikan hubungan Adelia dengan Rifal," ucap Valen dengan lirih membuat Rifal ingin memeluk Valen saat ini untuk memberikan kenyamanan namun dia tidak melakukannya karena takut Valen akan menolaknya.
__ADS_1
"Gue takut Rifal bakalan ninggalin gue kalau dia udah tau kalau Adelia sadar. Gue sadar kalau gue udah cinta sama suami gue sendiri," sambungnya dengan isakan piluh dari gadis itu.
Perkataan Valen tadi sama sekali tidak membuat Nathan terkejut jika Valen sudah mencintai Rifal. Itu suatu hal yang wajar karena mereka sudah lama bersama tinggal bersama dengan atap yang sama, sudah pastinya akan timbul perasaan.
Nathan yakin jika Rifal juga mulai mencintai Valen, namun Rifal belum mengetahui akan hal itu.
"Kalau Rifal ninggalin lo, gue masih ada yang siap jemput lo," kata Nathan dengan yakin membuat Valen semakin terisak. Perkataan Nathan nampak tulus namun Valen tidak tau mencintai seseorang lagi jika Rifal benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
Isakan kecil keluar dari mulut Valen dengan sesegukan, sekarang dia hamil anak Rifal.
"Masih ada orang yang sayang sama lo, Va." Nathan mengucapkan kata-kata begitu tulus kepada Valen. Meski Valen belum mengubah posisinya tetap membelakangi Nathan.
Seharusnya Rifal yang menemaninya saat ini. Namun, dia sadar jika dia tidak pernah berkomunikasi dekat dengan Rifal saat kejadian nasi goreng itu.
Valen membalikkan badannya secara perlahan-lahan sehingga dia bertatapan dengan Nathan yang menggunakan jas berwarna putih. Dia semakin terisak melihat senyuman yang di pancarkan oleh Nathan saat ini.
"Gue yakin lo bisa lewatin ini semua," kata Nathan dengan yakin membuat Valen semakin terisak. Perkataan Nathan yang lembut membuat mentalnya down.
"Gue sadar kalau gue udah jatuh cinta sama suami gue sendiri," sambungnya dengan isakan yang sangat pilu didengarkan oleh telinga.
"Adelia sadar bertepatan gue hamil," ucap Valen lagi dengan lirih.
"Masih ada gue, yang siap terima lo, kalau Rifal ninggalin lo," kata Nathan yakin membuat Valen menatap ke arah Nathan, menatap manik mata cowok itu.
Nampaknya perkataan Nathan begitu tulus kepada Valen.
"Tap-" belum sempat Valen menyelesaikan perkataannya, pintu ruangan tempat Valen dibuka oleh seseorang.
Ceklek
Valen dan Nathan langsung melihat kearah pintu yang dibuka oleh seseorang.
"Rara," gumam Valen dengan suara seraknya melihat seorang gadis berada diambang pintu yang tak lain adalah Kevyra Anastasya.
__ADS_1
Rara langsung merentangkan tangannya berjalan menghampiri Valen, air mata Valen semakin deras.
"Selamat, yah," kata Rara dengan menitihkan air matanya penuh haruh sembari memeluk Valen dengan erat.
Valen tidak menyahut dia hanya memeluk Rara. Karna saat ini dia membutuhkan pelukan dari orang terdekatnya.
Rara menghapus air mata Valen dengan ibu jarinya, dia tersenyum kearah Valen yang masih saja menangis.
Rara mendonggakkan kepalanya agar air matanya tidak lolos dari pelupuk matanya. Dia datang kesini untuk memberikan semangat untuk sahabatya bukan larut menangis dengan semua ini.
"Sekali lagi selamat, yah. Kamu nggak lama lagi bakalan jadi orang tua," kata Rara menghapus jejak air mata Valen dengan lembut.
"Hmm." Nathan berdehem membuat Rara tersenyum kearah iparnya itu.
"Kalau gitu gue duluan, jaga Valen yah, Ra," kata Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Nathan langsung keluar dari ruangan Valen, karna dia ingin memberikan ruang antara Rara dan juga Valen saat ini.
"Jangan nangis, Va," kata Rara menghapus air mata Valen yang keluar dari pelupuk matanya.
"Kamu harus jaga kesehatan kamu." Nasehat Rara kepada sahabatnya itu," karna ada janin dalam kandungan kamu, yang harus kamu jaga," sambungnya menggengam tangan Valen dengan erat.
Seakan-akan memberikan semangat untuk sahabatya untuk tidak terpuruk dengan dua kabar yang sangat penting ini tentang kehamilan dan juga kesadaran Adelia dari koma semenjak masa SMA mereka.
"Adel-"
Rara langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir Valen agar gadis itu tidak melanjutkan perkataannya yang akan membuatnya menangis lagi.
"Aku udah tau," kata Rara dengan senyuman melekat diwajahnya," kamu nggak usah mikirin Adelia lagi yah, kamu hanya perlu fokus dengan kandungan kamu." Sambungnya kepada Valen.
"Apa lagi ini kehamilan pertama kamu," ucap Rara lagi melepaskan tangannya disertai senyuman.
Rara menggengam jemari Valen," aku tau, Va. Kamu pasti kuat hadapin ini semuanya," kata Rara lagi memberikan kata semangat kepada Valen.
__ADS_1