
Malam haripun tiba, dimana saat ini Valen masih setia menunggu suaminya untuk bangun karna dokter Hamka tadi mengatakan dalam waktu dekat ini Rifal akan bangun.
Sudah pukul sembilan malam, Rifal belum juga memberikan tanda-tanda jika dia akan sadar membuat Valen menarik nafasnya panjang.
Seorang perawat masuk kedalam ruangan Rifal untuk memanggil Valen.
“Dokter Valen,” panggil perawat tersebut dengan sopan kepada Valen.
“Iya kenapa?” Tanya Valen penasaran karna perawat tersebut nampak buru-buru.
“Apakah kondisi dokter Valen sudah membaik? Jika sudah membaik apakah dokter Valen ingin menemani dokter Hamka untuk melakukan operasi mendadak? Karna dokter Nathan belum juga balik dari luar kota.” Perawat tersebut menjelaskan tujuannya memanggil Valeen.
Valen melirik kearah Rifal yang masih memejamkan matanya, dia harus menjalankan tugasnya juga sebagai seorang dokter, dia harus bersikap profesional.
Dia harap, setelah dia menjalankan operasi dia kesini dan sudah melihat Rifal sadar.
“Siapkan saya alat medis, saya akan kesana,” kata membuat perawat tersebut langsung mengangguk mengerti.
Valen mencium kening Rifal lalu pergi meninggikan ruangan milik Rifal, Valen sudah menyuruh salah satu perawat untuk menjaga Rifal Disini.
Karna Nando belum juga balik kesini. Mungkin saja pria itu mengurus sesuatu sehingga dia harus lambat kerumah sakit.
Dokter Kiki yang melihat kepergian Valen langsung menarik nafasnya panjang.
Dokter Kiki langsung mendorong kursi roda yang di atasnya ada Adelia dengan wajahnya yang pucat pasih. Sejak kejadian itu membuat Adelia menjadi banyak diam dan tidak ingin melakukan pengobatan apapun lagi, membuat dokter Kiki menjadi ibah padanya.
Setelah tempo hari pengobatan Adelia berhasil, namun perempuan itu tidak pernah mengucapkan sepatah katapun membuat dokter tidak tau menahu apa yang di rasakan oleh Adelia karna perempuan itu hanya diam dengan matanya menatap kearah depan dengan tatapan kosong.
Dokter Kiki meletakkan bubur diatas meja untuk dia berikan pada Adelia.
Dokter Kiki juga kasihan pada Adelia, perempuan itu makan sedikit namun enggan untuk berbicara.
“Apakah dokter ingin membawa ku menemui Rifal?”
__ADS_1
Dokter Kiki terdiam.
Ini pertama kalinya Adelia membuka bicara semenjak kejadian tempo hari. Perempuan itu bertanya pada dokter Kiki tanpa mengalihkan pandanganya dari depan dengan tatapan kosong.
Dokter Kiki belum juga menjawab kemauan Adelia, andai saja Adelia bisa berjalan sendiri dia akan pergi tanpa meminta bantuan orang lain.
“Aku mohon, izinkan aku bertemu dengan Rifal,” isaknya membuat Dokter Kiki menjadi kasihan, perempuan itu kembali menangis.
“Saya akan membawamu bertemu dengan Rifal.”
Dokter Kiki mengingat janjinya kemarin jika dia akan membawa Adelia untuk bertemu dengan Rifal.
Dokter Kiki menepati janjinya, dia mendorong kursi roda milik Adelia untuk segera masuk kedalam ruangan Rifal.
Dia sudah memberitahukan pada peraawat yang ingin menjaga Rifal tadi jika dia yang akan menjaga Rifal sampai Valen kembali.
Dokter Kiki terlebih dahulu menutup pintu.
Dia kembali mendorong kursi roda milik Adelia untuk mendekat pada Rifal.
“Aku cinta sama kamu!” kata-kata itu langsung keluar dari mulut Adelia, dia menangis sembari memegang tangan Rifal dengan erat.
“Kamu ingkar janji kamu buat nikahin aku Fal. Lihat, apa yang kamu peroleh dengan janji kamu!” isaknya lagi dengan pilu.
“Aku ingin kamu hidup dan aku juga menginginkan mu untuk mati!” racau perempuan itu membuat dokter Kiki menjadi siaga karna perkataan ambigu perempuan itu, jangan sampai tangan Adelia tiba-tiba saja bergerak dan mencabut salah satu alat pada tubuh Rifal.
“Aku ingin kamu hidup untuk aku miliki dan aku ingin kamu mati karna kamu ingkar janji!” jeritnya menggenggam tangan Rifal dengan erat.
“Aku mencintaimu dengan tulus, Fal. Ayo bangun kita mulai dari awal hubungan kita dan tinggalkan dokter Valen!” racaunya membuat dokter Kiki beranggapan jika Adelia begitu terobsesi pada suami teman barunya itu.
“Tapi gimana kalau kamu bangun, kamu nggak mau balik sama aku?” tawanya dengan piluh di iringi dengan tetesan air mata.
“Pengobatan ku saja kamu tidak ingin menemani aku, bagaiamana bisa kamu meninggalkan dokter Valen!” tangisnya didepan Rifal.
__ADS_1
“Aku cinta sama kamu, ayo kembali setelah kamu sadar!”
“Aku cinta sama kamu Rifal, kamu jahat. Kamu ingkar semua janji kamu. Kamu jahat, kamu bilang bakalan nikahin aku setelah aku sadar, tapi nyatanya kamu mencintai perempuan lain!” Adelia terus saja menangis didepan Rifal yang belum membuka matanya.
“Kamu yang ninggalin aku, bukan aku yang ninggalin kamu!” isaknya terdengar begitu piluh.
“Aku nggak bakalan ninggalin kamu Fal, aku nggak bakalan ninggalin kamu, aku bakalan selalu ada sama kamu. Aku nggak mau jauh sama kamu, kita harus selalu sama-sama bagaimanapun caranya….Atau bahkan dengan cara yang menyedihkan biar kita tetap sama, aku akan mau dan rela!”
Dokter Kiki mendongakkan kepalanya, dia berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.
Adelia begitu mencintai Rifal sehingga dia seperti ini.
“Kita balik yah, karna sebentar lagi dokter Valen akan kembali,” kata dokter Kiki dengan lembut pada Adelia namun perempuan itu menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau!” tolaknya.
“Aku mau Disini, sampai orang yang aku cintai itu sadar,” lanjutnya degan kekeh.
“Bagaiamana jika dia sadar dan kamu ada di sini? Dia akan semakin membenci mu karna saat dia bangun kamu yang dia lihat bukan istrinya, Valen,” kata dokter Kiki membuat Adelia semakin menangis.
“Kita balik ke kamar kamu, saya janji akan membawa kamu kesini lagi untuk melihat Rifal,” kata Dokter Kiki.
Adeli tidak menjawab membuat dokter Kiki langsung mendorong kursi roda Adelia untuk segera keluar, Kiki sudah menyuruh perawat untuk kembali menjaga Rifal.
Tanpa mereka sadari, tangan Rifal sudah bergerak sejak Adelia datang dan mendengarkan semua apa yang di katakan gadis itu dengan isakan tangis.
Air mata Rifal keluar dari pelopak matanya, dia berusaha mencoba membuka matanya untuk melihat namun semuanya terasa sulit dan dia memaksanya membuatnya semakin kesakitan.
Perkataan Adelia tadi membuat Rifal menjadi ibah. Namun dia sudah teguh pada pendiriannya untuk tidak memberikan harapan pada Adelia lagi.
Dia ingin perempuan itu membencinya agar bisa melupakannya, dia tau jika dia yang salah dia tidak bisa mempertanggung jawabkan perkataanya karna sudah terlanjur mencintai Valensia.
Isakan tangis Adelia membuat Rifal semakin bersalah pada Adelia, dia juga tidak menyangka jika gadis itu mengeluarkan semua unek-uneknya dan sakit hatinya saat dia tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Rifal masih berusaha membuka matanya, semakin dia paksa semakin rasa sakit yang dia peroleh membuat Rifal hanya pasrah Saja sampai dokter akan datang.