
Valen telah menggunakan dres berwana abu-abu, dres yang Valen gunakan pemberian dari Rifal yang harus dia gunakan untuk diner malam ini.
Valen melihat dirinya didepan cermin yang menggunakan dress berwarna abu-abu dengan rambutnya dia sanggul dengan sedikit berantakan namun terlihat elegan pada dirinya.
Dia menggunakan lipstik warna merah, tidak terlalu terang karena dia tidak suka, karna seperti tante-tante saja. Dia menggunakan sepatu yang sedikit tinggi.
Sebenernya, Valen sempat menolak sepatu tersebut namun Rifal memaksanya untuk memakainya.
"Cantik banget sih gue," puji Valen pada dirinya sendiri didepan cermin. "Tapi sering di sia-siain," lanjutanya dengan tawa kecil.
Dia seperti sedang melawak didepan cermin sendiri.
...Tok.....
Valen langsung terkejut dengan ketukan pintu tersebut, Valen yakin jika itu adalah Rifal.
"Bentar!" teriak Valen dari dalam kamar lalu mengambil tasnya lalu berjalan keluar kamar.
Ceklek
Valen langsung membuka pintu kamarnya, dia sudah melihat Rifal sedang menelfon membuat Valen menjadi kikuk.
Semogah aja penampilan gue nggak norak, supaya Rifal nggak ilfil sama gue.
"Gue udah mau berangkat," kata Rifal diseberang telfon lalu mematikan handphonenya. Ternyata benar kata orang, jika orang penting tidak perlu menunggu jawaban dari seberang telfon lagi.
"Udah siap," kata Rifal membalikan badannya, dia sudah melihat Valen dengan penampilan yang sangat menawan malam ini menggunakan dres berwarna abu-abu serta sepatu yang sedikit tinggi.
Beberapa detik Rifal terkesima dengan penampilan Valen malam ini, dia menggunakan make up yang tidak terlalu tebal yang sangat pas untuk wajahnya.
"Jelek, yah," kata Valen dengan suara pelan karena Rifal tidak bergeming melihat dirinya membuatnya bertanya -tanya apakah penampilannya sangat berlebihan.
"Nggak, kamu cantik," puji Rifal membuat Valen terdiam dengan pujian yang diberikan oleh Rifal.
"Yaudah kalau gitu, kita berangkat," kata Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
__ADS_1
Valen langsung tersentak kaget karna Rifal menggandeng tangannya.
Rifal sengaja memberikan Valen dres berwarna abu-abu karna dia juga mengenakan setelan tuxedo berwarna abu-abu yang sangat serasi untuk mereka berdua.
Rifal juga tak kalah tampannya, dia mengenakan setelan tuxedo berwarna abu -abu serta rambutnya yang tertatah rapih membuatnya semakin tampan.
Rifal membukakan Valen pintu mobil. "Makasih," kata Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
Rifal langsung masuk ke kursi pengemudi untuk mengemudikan mobil untuk segera menuju ketempat tujuannya malam ini membawa Valen.
"Kita mau diner direstoran mana?" tanya Valen yang sedari tadi mempertanyakan dalam hati, dimanakah Rifal mengajaknya untuk diner malam ini.
Sikap Rifal dan tindakan Rifal membuat Valen lupa dengan tujuannya untuk melupakan Rifal sebelum dia semakin mencintai pria itu.
Rifal melirik Valen. "Rahasia," jawab Rifal lalu kembali fokus mengemudi mobilnya.
Valen tersenyum simpul, dia seperti diberikan kejutan oleh orang yang selama ini membuatnya mencintai tanpa dicintai, meski tidak seperti itu kenyataannya.
Huft
Mereka berdua berbaring diatas karpet dengan matanya melihat keatas langit yang diterangi oleh bintang dan juga bulan. Mereka berbaring dengan berlawanan arah.
"Kira-kira om Rifal mau tembak dokter Valen nggak sih, nyiapin acara kayak gini?" menolog Lea membuat Nando yang sedari tadi memperhatikan bulan dan bintang melirik kearah Lea.
Dia melirik Lea yang sedang menatap keatas langit. "Emangnya mereka masih lajang?" tanya balik Nando membuat Lea melirik kearah Nando sehingga mereka berdua saling bertatapan dengan kepalanya bersentuhan dengan kakinya secara berlawanan.
Nando dan Lea saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, membuat Nando menahan nafasnya ditatap dengan tatapan polos milik gadis disampingnya ini.
"Nggak juga," kata Lea santai.
"Terus, ngapain kamu bilang kalau Rifal bakalan nembak dokter Valen?" tanya Nando lebih tepatnya sebuah pernyataan untuk Lea.
"Siapa tau aja," kata Lea membuat Nando menggelengkan kepalanya.
"Kak Nando," panggil Lea kepada Nando.
__ADS_1
Mereka berdua kembali menatap kearah langit sembari menunggu kedatangan Valen dan juga Rifal.
"Menurut kak Nando, Lea cantik nggak sih?" tanya gadis itu serius tanpa mengalihkan pandangannya dari atas langit.
"Kamu memang cantik, bahkan seluruh perempuan juga cantik," kata Nando tanpa mengalihkan pandangannya dari atas langit sembari mengingat wajah-wajah cantik milik mantanya yang sudah dia tinggalkan karna rasa bosan.
"Tapi kenapa dokter Nathan nggak lirik Lea?" tanya Lea dengan senduh membuat Nando tertawa geli dengan perkataan Lea tadi.
"Nggak usah mikirin cinta-cintaan dulu. Kamu fokus kuliah dulu baru mikirin itu semua. Kalau perlu nggak usah pacaran, tapi langsung nikah lebih keren," kata Nando membuat Lea mengerucutkan bibirnya dengan pernyataan yang diberikan oleh Nando malam ini.
"Lea tau, kalau Lea kalah jauh sama dokter Valen. Jadi dokter Nathan lebih suka dokter Valen daripada Lea," kata gadis itu lagi membuat Nando mengalihkan pandangannya dari langit lalu melirik Lea yang masih menatap kearah atas.
"Cantik aja nggak cukup, Lea," kata Nando sehingga Lea juga melirik kearah Nando sehingga mereka berdua kembali bertatapan malam ini.
"Maksud kak Nando?" tanya Lea yang penasaran dengan apa yang ucapakan oleh Nando. Setahunya, pria akan melihat kecantikan seseorang terlebih dahulu.
"Sebagain laki-laki pasti mandang wajah atau pisik, tapi tidak semuanya seperti itu. Cantik hanya nilai plus untuk diri sendiri yang diberikan oleh Tuhan. Seiring berjalannya waktu kecantikan dan ketampanan seseorang akan pudar dimakan oleh umur," kata Nando serius kepada Lea masih setia bertatapan dengan Lea. "Yang nomor satu itu kenyamanan, serta sikap seseorang," lanjutnya membuat Lea manggut-manggut kecil dengan apa yang dikatakan oleh Nando.
"Jadi selama ini dokter Nathan nyaman yah sama dokter Valen," menolog Lea membuat Nando menatapnya datar.
"Nggak gitu juga konsepnya," kata Nando lalu beranjak dari pembaringannya. Dia takut khilaf bertatapan dengan begitu dekat dengan Lea disuguhkan pemandangan yang membuat imam orang akan naik turun.
"Kalau kak Nando sendiri gimana?" tanya Lea kepada Nando yang sudah duduk diatas karpet, sementara Lea masih seperti tadi.
"Gimana apanya?" tanya Nando mengeluarkan rokoknya dari saku celananya. Guna menghilangkan otaknya yang tiba-tiba berkelanah akibat bertatapan dengan Lea.
Andaikan Lea seperti gadis lain, sudah sedari tadi Nando membuat Lea bungkam dengan mencium bibir gadis itu. Meski belum cukup satu hari mengenal Lea, Nando bisa melihat jika gadis itu gadis baik-baik apa lagi Rifal melarangnya untuk macam-macam kepada tetangganya itu.
Nando menyesap asap rokoknya sembari menunggu kedatangan Rifal dan Valen. "Gimana kalau Lea buat nyaman kak Nando."
***
🙏🙏🙏
Jangan lupa mampir di novel Ketua kelas pilihan
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian yah, jangan lupa like and comen yah🙏 Soalnya novel yang Ketua kelas pilihan author ikutin lomba 🙏 Ditunggu kalian mampir, tinggal klik profil author