Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Fighting gaun pengantin


__ADS_3

Satu minggu berlalu, baru hari ini waktu senggang untuk Nathan ke butik Rosa melihat baju yang akan di coba Lea.


''Kenapa lama sekali datangnya!'' Rosa setengah perempuan setengah laki-laki datang menghampiri Nathan dan Lea.


''Saya sibuk, Sa,'' jawab Nathan seraya duduk di kursi sofa yang tersedia di butik Rosa.


''Mana calon pengantin mu, kenapa kau tidak membawanya?''


Lea tersenyum masam, apakah Rosa tidak melihat dirinya? Apakah ia sekecil itu.


''Dia calon pengganti ku,'' jawab Nathan melirik Lea membuat Rosa sedikit terkejut.


''Dia seperti adikmu, kau ini...'' Rosa tidak sanggup lagi meneruskan perkataanya.


Rosa tersenyum kearah Lea. ''Sini anak cantik, kita coba baju untukmu tunangan minggu depan, sekaligus mencoba baju pengantinmu,'' ujar Rosa memanggil Lea dengan senyuman.


Nathan menaikkan alisnya sebelah. ''Apa baju pengantinya sudah siap?'' tanya Nathan.


''Tentu saja.''


Lea berdiri dari kursi sofa yang ia duduki, namun tanganya langsung di cekat oleh Nathan.


Rosa yang melihat itu tersenyum kecil.


''Rosa, kau masuk saja duluan. Nanti Lea akan masuk,'' perintah Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Rosa.


Akhirnya Rosa masuk duluan meninggalkan Lea dan Nathan di kursi sofa.


''Dokter Nathan kenapa?'' tanya Lea melihat tanganya di genggam oleh Nathan.


''Kamu nggak Deg-degan?'' tanya Nathan membuat Lea terdiam.


Jujur saja, jantungnya sedari tadi berdetak saat masuk kedalam toko ini. Ini adalah pengalaman pertamanya akan mencoba baju pernikahan dan baju pelamaran mereka.


''Lea...''


Cup


Lea langsung melotokan matanya saat Nathan mengecup punggung tanganya. Nathan menatap mata Lea masih setia mencium punggung tangan Lea seperti tangan anak kecil.


Benar kata Rosa, tapi untung saja ia tampan dan bisa mengimbanginya.


''Ingat kata mama Novi.'' Nathan mengingatkan kepada Lea, apa yang Novi katakan sebelum mereka kesana.


''Berdoa sebelum mencoba baju yang di impikan seluruh wanita di dunia ini,'' ucap Lea membuat Nathan tersenyum lalu melapskan bibirnya dari tangan Lea yang ia cium.


''Mau aku temani?'' tanya Nathan dan dibalas gelengan kepala oleh Lea.


''Tidak usah dok, biar Lea masuk sendiri.'' Lea menggeleng menolak.

__ADS_1


''Ok.''


Lea langsung masuk kedalam, karna Rosa sudah menunggu dirinya. Sementara Nathan menunggu di sofa luar.


Gabut, tidak ada yang ia buat di sini. Nathan beranjak dari kursi sofa yang ia duduki berjalan menuju mobilnya.


Ia akan memgambil laptop di dalam mobilnya, untuk mengisi kekosongannya.


Nathna membuka laptopnya, kembali mendudukkan bokongnya di kursi sofa.


''Cara menjadi suami idaman,'' Nathan mencari di gogel kata yang barusan ia ucapkan.


Deretan jawaban sudah terterah di dalam layar laptop.


Nathan mulai membacanya satu persatu, lalu senyuman terbit di wajahnya.''tidak semenyeramkan itu.''


Sudah tiga puluh menit ia membuka laptop, seraya menunggu Lea keluar menggunakan gaun pelamaran mereka.


''Kau sangat cantik,'' puji Rosa melihat dari bawah hingg ujung penampilan Lea.


Lebih dulu Rosa menyuruh Lea mencoba baju pengantinya, dengan di bantu dua orang pekerja Rosa di butik ini.


Gaun pengantinya sangat pas untuk tubuh Lea, sangat cantik. Beberapa bulan yang lalu pekerja Rosa yang mengukur Lea untuk di buatkan baju pengantin.


Rosa sendiri yang menjahit dan merancang baju untuk Lea, beberapa bulan yang lalu.


''Kau sangat cantik!'' puji Rosa dengan senyuman mengambang. ''Gaunya sangat pas untuk dirimu!'' Rosa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat Lea yang sangat Perfect.


''Gaunya sangat cantik, kak,'' ucap Lea menatap dirinya di depan cermin.


Gaunya sangat mewah, bahkan Lea tidak tau berapakah harga gaun secantik dan semewah ini yang ia kenakan.


Kedua wanita yang membantu Lea memakai gaun tadi sudah keluar dari ruangan percobaan baju.


''Terimaksih kak, Rosa. Gaunya cantik banget untuk Lea. Pasti gaunya sangat mahal.'' Blink-Blink mengiasi gaun yang ia kenakan, warnanya berwarna putih cantik dengan berbagi macam hiasan di gaun itu.


Rosa tersenyum. ''Harganya tujuh ratus juta.''


Lea melotokan matanya, saat dengan santainya Rosa mengatakan harga gaun yang ia kenakan.


Rosa tertawa melihat raut wajah Lea. ''Tujuh ratus juta itu, untuk dua gaun anak cantik. Gaun pengantin mu dan gaun saat hari pelamaran nanti.''


''Gaun ini aku rancang sendiri terkhusus untuk pernikahan Nathan dan dirimu. Aku mengerjakan kedua gaun ini 5 bulan lamanya. Untuk menghasilkan gaun yang indah dan memukau. Apakah kau tau, pernikahan Nathan sangat aku nantikan, karna hanya dia saja yang belum menikah, padahal sebayanya sudah mempunyai anak. Dan saat saya tahu dia mempunyai kekasih di situlah aku dengan semangat akan merancang gaun terkhusus untuk pengantinya.''


''Tapi ini san—''


''Jangan pikirkan harga, ini semua tanggung jawab calon suami mu,'' tawa Rosa tanpa beban. ''Lagian, Nathan itu orang kaya, jadi uang sebanyak itu hanya kecil untuknya.''


''Apa Lea liatin gaun ini untuk dokter Nathan?'' tanya Lea membuta Rosa menggeleng menolak.

__ADS_1


''Jangan di perlihatkan, cukup jadikan kejutan saat waktunya sudah tiba.''


''Tap—''


''Anak kecil nggak baik menolak.''


Setelah mencoba dua gaun mewah untuk acara pernikahan dan acara lamaran, kini dua pekerja Rosa di butik membantu Lea untuk melapskan gaun yang ia kenakan.


''Terimakasih,'' ucap Lea kepada dua wanita yang membantunya.


''Sama-sama,'' ucap mereka kompak lalu melenggang pergi.


Sudah satu jam Nathan membuka laptop, ia menutup laptopnya karna sampai sekarang Lea belum juga keluar.


Padahal ia sangat penasaran melihat Lea menggunakan gaun indah yang di rancang khusus Rosa untuk calonya.


''Dokter Nathan.'' Suara Lea langsung masuk kedalam indra telinganya.


Nathan mengangkat alisnya sebelah melihat Lea menggunakan baju yang tadi, ia tidak menggunakan baju gaun.


''Lea, apa kamu tidak mencoba gaunya?'' tanya Nathan berdiri dari sofa yang ia duduki.


''Lea coba kok, tapi kak Rosa bilang nggak boleh lihatin dokter Nathan. Biar jadi kejutan kalau udah acara.''


Nathan tersenyum kecut, padahal ia sudah menunggu satu jam lamanya namun ia tidak melihat Lea menggunakan gaun tersebut.


Setelah Nathan dan Lea berpamitan dengan Rosa, mereka kini meninggalkan butik Rosa untuk mengantar Lea pulang.


''Kamu suka bajunya?'' tanya Nathan setelah mereka masuk kedalam mobil.


''Lea suka.''


Nathan mengangguk seraya menyalakan mesin mobilnya.


''Tapi gaunya kemahalan,'' lanjut Lea membuat Nathan tertawa kecil.


''Apa Rosa memberitahumu harga kedua gaun itu?''


Lea mengangguk mengiyakan ucapan Nathan. ''Kenapa dokter Nathan pesan gaun mahal kayak gitu. Padahal, kan, uangnya bisa dokter Nathan tabung buat beli rumah nanti.''


Nathan sekali lagi tertawa. ''Pernikahan itu sekali, jadi apa salahnya jika aku mengeluarkan uang banyak untuk acara yang hanya bisa di lakukan sekali seumur hidup.''


Ucapan Nathan ada benarnya juga membuat Lea hanya mengangguk.


''Aku ingin meratukan kamu di hari spesial kita,'' lanjut Nathan memberhentikan mobilnya karna sedang lampu merah.


''Terimaksih karna dokter Nathan beneran mau sama Lea.''


''Seharusnya aku yang berterimakasih, karna kamu mengorbankan masa muda mu hanya untuk menikah dengan aku.''

__ADS_1


''Nggak apa-apa kok, kan, Lea emang suka sama dokter Nathan dari pertama kali Lea praktek di rumah sakit.''


Nathna mengacak rambut Lea dengan gemas, lalu kembali menjalankan mobilnya karna sudah lampu hijau.


__ADS_2