Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Caper


__ADS_3

Valen keluar dari ruangan operasi beriringan dengan Nathan.


"Gue antar balik, yah," kata Nathan membuat langkah kaki Valen terhenti. Otomatis Nathan juga berhenti berjalan.


Valen tidak ingin kesalahpahaman terjadi jika Nathan akan mengantarnya pulang. Apa lagi dia baru saja baikan dengan Rifal dan ingin memulai kembali hubungan dengan Rifal.


"Maaf, Nath. Gue dijemput sama suami gue," kata Valen menolak secara halus permintaan Nathan. Dia merasa tidak enak karna selama ini Nathan banyak membantunya. Namun dia juga tidak mau hubungannya renggang lagi bersama dengan Rifal.


Sangat susah menumbuhkan kepercayaan seseorang lagi kepada kita.


Nathan mengangguk kecil dengan jawaban yang diberikan oleh Valen. "Hmm Ok," kata Nathan dengan suara rendah.


"Kalau gitu gue duluan," pamit Valen meninggalkan Nathan sehingga Nathan hanya menatap punggung milik Valen.


Nathan tersenyum kecut. Tolong hapus perasaan ini, jika hanya akan membuat ku kecewa kembali dengan orang yang berbeda. Nathan hanya membatin lalu melanjutkan langkah kakinya untuk segera pulang ke apartemen miliknya.


Valen berjalan di koridor rumah sakit dengan tangannya sibuk mengirimkan pesan kepada Rifal jika dia sudah pulang.


Valen tersentak kaget saat tangan kekar menariknya, dia ingin berteriak saat ini juga namun suara familiar tersebut mengurungkan niatnya.


Dia tidak melihat wajah siapa karna posisinya sedang membelakangi seseorang yang menarik tangannya dia menutup mulut Valen menggunakan tangannya.


"Ini aku, jangan panik," bisik Rifal ditelinga Valen membuat Valen menghembuskan nafasnya legah. Dia pikir dia akan diculik malam ini, ternyata pikirannya salah.


Rifal melepaskan tangannya lalu Valen menghadap kearah Rifal yang hanya menggunakan baju kaos santai serta celana pendek yang sangat menggoda.


Sehingga memperlihatkan bulu kakinya serta kakinya yang putih bersih.


"Kenapa?" tanya Valen menghadap Rifal sehingga mereka berdua saling bertatapan.


Rifal mengerutkan keningnya dalam-dalam dengan pertanyaan yang diberikan oleh Valen. "Apanya yang kenapa?" tanya Rifal membuat Valen memutar bola matanya malas kearah Rifal.


"Ngapain lakuin kayak gini, kalau aku sampai jantungan gimana? Kasihan juga kan anak kita," kata Valen membuat Rifal meneguk Saliva nya susah payah.

__ADS_1


"Maaf," kata Rifal sembari membolak-balik badan Valen membuat Valen kembali heran.


"Kenapa digituin?" tanya Valen yang merasa Rifal sedikit aneh.


"Aku takut kamu kenapa-napa," kata Rifal membuat Valen ingin tertawa.


"Aku nggak apa-apa," kata Valen dengan yakin. "Yuk pulang!" lanjutnya menarik tangan Rifal Namum cowok itu tidak beranjak dari tempatnya hanya dengan tarikan Valen.


"Ayok," kata Valen melihat kearah Rifal yang masih tidak bergeming ditempatnya.


"Cium dulu," kata Rifal dengan manja membuat Valen melepaskan tangannya yang memegang tangan Rifal. Selama ini dia tidak pernah melihat Rifal semanja ini kepadanya.


Oh my God, ini pertama kalinya Valen melihatnya.


"Fal," beo Valen yang merasakan kengerian melihat Rifal manja kepadanya.


"Cium dulu, baru kita pulang. Kalau nggak mau kita bakalan tetap disini," ancam Rifal membuat Valen menggelengkan kepalanya. Dia ingin segera pulang untuk merehatkan tubuhnya.


Valen mendekati Rifal sehingga mereka berdua saling bertatapan, Rifal menyungkirkan senyum tipisnya kearah Valen membuat Valen jadi gelagapan.


Valen memejamkan matanya untuk mencium Rifal membuat Rifal ingin tertawa saja.


Cup


Bukan Valen yang mencium Rifal, melainkan Rifal yang langsung mencium Valen. Dia gemas melihat tingkah Valen yang terlalu lelet hanya untuk menciumnya.


Valen membuka matanya dengan membesarkan pupil matanya saling terkejutnya, Rifal mencium keningnya membuatnya terkejut. Karna dia pikir dia yang akan mencium Rifal namun ini malah sebaliknya. Padahal Rifal yang meminta untuk dicium.


"Kamu terlalu memakan banyak waktu," kata Rifal santai.


"Yaudah, kita pulang. Udah tengah malam, nggak baik buat ibu bumil," kata Rifal lalu menarik tangan Valen untuk segera pergi.


Rifal berjalan beriringan dengan Valen dengan menggenggam erat tangan Valen, seakan-akan dia tidak ingin melepaskan tangan perempuan itu.

__ADS_1


Mereka berdua kembali berjalan di koridor rumah sakit, hingga langkah kaki mereka berdua terhenti karna adanya seseorang dihadapannya.


Rifal melihat Amora yang tengah menenteng plastik berisikan obat. Amora melirik kearah tangan Valen dan Rifal yang sedang bergandengan tangan membuat Valen langsung refleks melepaskannya. Padahal tidak apa-apa, dia merasa seperti sedang didapat selingkuh dengan suami orang ditatap seperti itu oleh Amora.


Rifal tidak suka saat Valen melepaskan genggaman tangannya, dia mengambil tangan Valen kembali lalu menggengamnya membuat Valen tersentak kaget. Padahal seharusnya Valen tidak usah khawatir dengan Amora karna dirinya adalah istri sah. Bukan seorang pelakor yang ketahuan jalan bersama dengan suami orang hingga ketahuan seperti ini. Perlu ditekankan Valen itu istri sah Rifal semenjak mereka duduk dibangku SMA.


Rifal menggenggam kembali tangan Valen lalu menatap Amora yang tengah menghalangi jalannya. "Minggir!" sentak Rifal membuat Valen terkejut dengan perkataan pria itu.


"Fal," beo Valen sehingga Rifal melirik kearah Valen. "Kita lewat pinggir aja," saranya membuat Rifal kembali menatap Amora.


Amora tertawa kecil melihat kedekatan mereka berdua membuat Valen menggengam erat tangan Rifal takut melihat Amora seperti ini, seperti sedang kerasukan tertawa tanpa sebab padahal tidak ada yang lucu disini.


"Enak yah kalian bahagia, sementara orang yang lo sakiti sedang berjuang didalam!" Raung Amora kepada Valen menunjuk kearah Valen membuat Valen semakin takut


Raut wajah Amora memang menakutkan, dia sangat cocok berperan sebagai wanita antagonis sih.


"Lo lupa atau apa, kalau masa SMA Adelia yang nyelamatin nyawa lo. Lo nggak bakalan berdiri disini dan nggak bakalan pake jas kedokteran lo itu kalau bukan karna Adelia!" lanjut Amora membuat bola mata Valen ingin segera menumpahkan air matanya.


"Jaga ucapan lo!" marah Rifal kepada Amora membuat Amora kembali tertawa kecil.


"Emang kenyataannya seperti itu," kata Amora membuat rahang milik Rifal mengeras.


"Lo itu bertugas sebagai dokter, seharunya lo tau nyawa itu berarti buat lo selamatin!" kata Amora lagi. Rifal ingin memberikan pelajaran kepada Amora namun tangannya langsung ditahan oleh Valen.


"Dia perempuan," kata Valen disertai dengan air matanya tak lupa dia memberikan senyuman kepada Rifal.


Tidak apa jika dirinya membuat Valen menangis, namun jika orang lain yang membuat Valen menangis membuat Rifal menghajar orang itu.


"Dia seorang dokter, maka jagalah lisanmu," mereka langsung melihat kearah asal suara. Muncullah sosok Nathan dengan jasnya dia tenteng membuat Rifal menatapnya.


"Menyakiti aparat kesehatan, sama saja memberikan masalah sama yang lain," lanjut Nathan.


"Ck, caper," desis Rifal lalu menarik tangan Valen untuk segera pergi dengan menatap sinis kearah Nathan dan juga Amora.

__ADS_1


__ADS_2