
Farel terbangun dari tidurnya. Dia mengucek kedua matanya seraya melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 14:20.
Bocah itu bangun dari tempat tidurnya lalu berlalu pergi meninggalkan kamarnya. Dia ingin menemui Tegar.
Dia yakin, jika keponakanya itu sudah pulang sekolah.
''Mbak Rara,'' panggil Farel kepada Rara yang baru saja keluar dari kamar Kayla.
''Kenapa, Rel?'' Rara bertanya seraya menutup pintu kamar Kayla.
‘’Tegar mana?'' Farel bertanya.
''Lagi di lantai atas, main basket,'' jawab Rara.
''Yaudah mbak. Farel susul Tegar dulu,'' pamit anak itu dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Farel menaiki lift untuk menyusul Tegar yang berada di lantai atas bermain basket.
Farel keluar dari lift lalu berjalan menuju lapangan basket yg di buat oleh Frezan di lantai atas.
''Tegar!'' panggil Farel sehingga Tegar menghentikan langkah kakinya mengambil bola basket.
__ADS_1
''Kamu kenapa nggak ke sekolah?'' Tanya Tegar seraya menghampiri Farel yang sudah lebih dulu duduk di dekat meja.
''Pr belum selesai,” jawab anak itu enteng.
''Padahal om Nathan datang ke sekolah tadi, mau jemput kamu.'' Tegar menjelaskan membuat Farel menelan salivanya susah payah.
Itu berarti Nathan sudah mengetahui jika hari ini dia tidak ke sekolah?
''Apa muka bang Nathan marah?” Tanya Farel dan dibalas anggukan kepala oleh Tegar.
''Iya.''
''Mampus,'' ucap anak itu sembari menepuk jidatnya.
''Kamu main aja, aku lebih suka main skateboard,'' jelas Farel. ''Aku kesini cuman mau ajak kamu kerja sama buat bujuk ayah kamu,'' lanjutnya membuat Tegar bertanya tanya.
''Ayah ku belum pulang. Lagian aku juga tidak mau ikut campur urusan orang dewasa.'' Sebelum Farel menjelaskan tujuannya pada Tegar. Terlebih dahulu Tegar menebak keingin Farel.
‘’Ayolah, bantu Om mu ini,'' rengek Farel.
''Nanti ayah marah padaku.'' Tegar menolak keras kemauan Farel. ‘’Ayah akan berkata padaku, kalau ini bukan urusan anak kecil, tapi ini urusan orang dewasa.''
__ADS_1
''Kamu nggak kasihan sama teman bermain kamu, Dyta. Dia nangis karna rindu sama papahnya.''
‘’Aku tidak berani,''lagi-lagi Tegar menolak kemauan Farel. ''Aku kasihan dengan Dyta, tapi aku akan tidak sopan jika mencampuri urusan orang dewasa.''
Farel membenarkan apa yang dikatakan oleh Tegar. Namun dia ikut serta merasakan apa yang dirasakan oleh Dyta.
Farel sudah tidak mempunyai papah. Papahnya sudah meninggal dunia. Sementara maminya Reta, dia tidak tau dia sekarang di mana.
Tapi seingat Farel, Nathan mengatakan jika mamihnya itu berada di luar negeri dan lebih memilih hidup bersama dengan keluarga barunya.
Ada sedikit rasa dendam dalam benak farel kepada maminya. Bagaiamana tidak, maminya itu tidak datang di tempat terakhir Alex untuk istirahat panjang.
“Rel,'' panggil Tegar karna melihat adik dari papahnya itu sedang melamun.
Farel tersentak kaget lalu kemudian berbicara. ‘’Yaudah kalau tidak bisa, aku hanya ingin membantu Dyta, karna aku udah rasain gimana rasanya hidup tanpa kedua orang tua.'' Farel berkata dengan senduh, lalu pergi meninggalkan Tegar.
Anak kecil itu terdiam, dia ingin membantu Farel untuk bicara kepada ayahnya namun dia juga takut kepada Frezan.
Tegar kembali bermain seorang diri.
Farel kembali memasuki lift, dia ingin bermain di taman bermain untuk menghilangkan pikiranya yang terus terus berpikir.
__ADS_1
Aku masih kecil, pasti kak Eza nggak akan dengar omongan bocah ingusan kayak Farel.