Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Lea dan Nando


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Nando telah sampai didepan gerbang kampus. Nando tidak habis pikir dengan Lea, tadi dia mengatakan jika dia telah pulang kampus makanya dia mampir ke restoran. Tapi mengapa gadis ini kembali ke kampus?


"Biar saya yang bukakan pintu," kata Nando keluar dari mobil menggunakan kacamata hitam.


Nando keluar dari mobil sehingga menjadi pusat perhatian mahasiswa dalam lingkup kampus.


"Saya tau, saya tampan. Untung saja saya sadar diri," menolog Nando seorang diri sembari memperbaiki kacamatanya yang melekat di hidungnya yang mancung.


"Silahkan turun, beban," kata Nando mempersilakan Lea untuk turun.


"Lea bukan beban," ketus Lea lalu turun dari mobil.


Benarkan, apa yang Lea bilang. Lea pasti jadi pusat perhatian diantar kak Nando ke kampus.


Nando melirik Lea. "Kamu kenapa?" tanya Nando melihat raut wajah Lea yang tidak enak untuk dipandang.


"Saya tau saya tampan, makanya saya sadar diri. Saya tau teman kampus mu itu sedang memperhatikan wajah tampan milik saya. Wajar aja yah, namanya juga keturunan tampan," bangga Nando membuat Lea ingin sekali mencakar wajah tampan milik Nando saat ini.


"Bisa diam nggak sih, cerewet banget," kata Lea sembari menatap kearah depan.


"Duh, ada Kania lagi," menolog Lea saat melihat Kania tengah menghampirinya.


"Hey, Lea!" panggil Kania sehingga Lea yang sedang menyembunyikan wajahnya menggunakan tas ketahuan.


"Wow, sexy," puji Nando saat melihat Kania tengah berjalan menghampirinya, lebih tepatnya lagi menghampiri Lea.


Nando menaikkan kacamatanya keatas kepalanya sembari bersiul menggoda kearah Kania membuat Kania jadi kikuk.


"Kamu jomblo nggak cantik? Kalau jomblo sama dong," kata Nando begitu saja. Padahal dia baru melihat Kania.


"Sugar Daddy lo tampan," bisik Kania kepada Lea yang masih didengarkan oleh Nando.


Nando menyungkirkan senyum tipisnya.


"Buk_" Perkataan Lea langsung tercekat di tenggorokannya karna Nando lebih dulu merangkul pundaknya.

__ADS_1


"Sugar Daddy Lea memang tampan, apa kamu mau jadi baby sugar saya juga? Seperti Lea?" perkataan Nando sukses membuat bola mata Lea ingin keluar dari matanya saling terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Nando yang kelewat santai.


"Jadi, lo udah nggak anu 'kan, Lea?" tanya Kania ragu-ragu. Dia masih tidak percaya jika gadis bermuka polos seperti Lea sudah tidak menjadi gadis lagi.


"Nah, apa kamu bilang memang benar. Jika Lea sudah tidak anu lagi!" Nando yang menjawab pertanyaan Kania membuat Lea refleks menginjak kaki Nando.


"Awkh!" Ringis Nando karna mendapatkan serangan tiba-tiba oleh Lea.


"Ngomong anu apa sih! Nggak jelas banget!" kesal Lea kepada Nando yang menjawab asal-asalan.


Sementara Nando masih meredam rasa sakitnya yang diciptakan oleh Lea tadi.


"Eh Lea, jangan kurang ajar sama sugar Daddy lo sendiri. Entar lo nggak dikasi uang jajan," kata Kania yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Lea menginjak kaki Nando.


"Teman kamu aja tau, kalau apa yang kamu lakukan kepada saya itu salah besar, Lea," kata Nando semakin membuat air semakin keruh.


"Kak Nando!" geram Lea kepada Nando membuat Nando semakin semangat membuat Lea semakin memanas sehingga dia lupa akan tugasnya yang diberikan oleh Rifal tadi.


"Iya sayang, kenapa!?" balas Nando sengaja membesarkan suaranya membuat Kania mengigit bibirnya.


"Kalau sugar Daddy-nya kayak om sih, Kania juga mau," kata Kania membuat Nando tertawa kecil.


"Orang gila ketemu sama orang gila, jadinya gorila!" sungut Lea lalu pergi meninggalkan Kania dan juga Nando didekat mobil.


"Om beneran sugar Daddy-nya, Lea?" tanya Kania yang masih tidak percaya jika pria yang didapatkan oleh Lea jauh dari bayangannya.


Dia pikir pria yang didapatkan oleh Lea yang mempunyai tekstur tubuh gendut, perut buncit, serta wajahnya yang jelek sangat.


"Saya bukan sugar Daddy-nya, Lea. Tapi saya calon suaminya. Sebenarnya saya sudah ingin melamar Lea. Tapi dia mengatakan sekalian selesai wisuda saja. Jadi saya menunggunya saja," kata Nando lalu kembali memakai kacamatanya yang berwarna hitam.


Perkataan Nando tadi sukses membuat mulut Kania terbuka, saking terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Nando tadi.


Nando langsung masuk kedalam mobil, dia hampir saja lupa dengan tugas yang diberikan oleh Rifal. Hampir saja gajinya akan dipotong hanya karna berbicara dengan anak kuliahan tadi.


Mengingat wajah lucu Lea tadi membuat Nando menyungkirkan senyum tipisnya dengan matanya fokus menyetir mobil untuk segera ke Danau tempatnya dengan Rifal jika berbicara serius.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit mengemudi, akhirnya Nando telah sampai ditempatnya.


"Apa perlu saya minta bantuan?" menolog Nando. "Kalau dekor kayak gini sih, cuman perempuan aja yang tau," keluh Nando.


Dia sudah menelfon orang dikantor untuk membawakanya bahan dekorasi, dia akan mendekorasi tempat ini sebaik mungkin.


"Lebih baik telfon mantan untuk membantu saya mendekor," kata Nando mengeluarkan handphonenya dari saku celananya bersamaan dengan Lea yang menelfon dirinya.


"Kenapa Lea, saya pikir kamu lagi marah sama saya," kata Nando membuat Lea diseberang telfon mengerucutkan bibirnya.


"Kak Nando, jemput Lea dong di kampus. Lea ada didepan gerbang kampus," kata Lea diseberang telfon.


"Ok, otw!"


Tanpa menunggu jawaban dari Lea diseberang telfon, Nando langsung mematikan handphonya, dia tidak jadi menghubungi mantan-mantannya untuk membantunya mendekorasi tempat ini.


Pegawai kantor yang ditelpon oleh Nando tadi sudah sampai membawa barang yang akan dia pakai nantinya untuk mendekorasi tempat ini.


Lea masih menunggu Nando, saat melihat mobil yang dikemudikan oleh Nando sudah terlihat matanya dia langsung melambaikan tangannya membuat Nando didalam mobil menggelengkan kepalanya, dia seperti supir taxi saja untuk Lea.


"Masuk!" kata Nando kepada Lea setelah dia singgah didepan Lea.


"Tanpa disuruh, Lea juga bakalan masuk!" balas Lea langsung masuk kedalam mobil.


"Kamu didepan Lea, saya bukan supir kamu," kata Nando karna Lea telah masuk kedalam mobil namun dia duduk dibelakang.


"Bawel banget sih!" sungut gadis itu lalu pindah tempat melalui jalan pintas.


"Bar-bar bener. Benar kata bocah yang direstoran tadi. Kalau kamu nggak cocok untuk dokter Nathan yang masyaallah dengan kamu yang astaghfirullah!" kata Nando membuat Lea langsung mencubit perut cowok itu sakiny kesalnya.


"Lea apa adanya!" ketus Lea membuat Nando seketika terdiam.


"Eh, kita mau kemana?" tanya Lea karna Nando berjalan kearah lain sementara jalan rumahannya tinggal lurus saja.


"Diam aja, nggak usah banyak bicara!" kata Nando.

__ADS_1


"Kak Nando nggak nyulik Lea kan?" tanya Lea membuat Nando melirik Lea dengan tatapan tidak percaya jika gadis itu berpikir sampai kesana.


"Kalaupun saya jual kamu, nggak bakalan ada yang beli modelan kayak kamu."


__ADS_2