
Valen dan Nathan masih saling bertatapan diatas roftop rumah sakit. Rambut milik Valen diterbangkan oleh angin diatas roftop rumah sakit.
Nathan belum mengiyakan atau menidakkan perkataan Valen tadi ingin melepaskan Rifal.
Nathan menghembuskan nafasnya dalam-dalam lalu menatap kearah depan. "Yang tau cuman lo." Sekian menit terdiam, akhirnya Nathan mengangkat bicara.
"Karna lo yang akan jalanin kehidupan lo dengan keputusan yang lo buat," lanjutnya melirik Valen kembali sehingga mereka berdua kembali beradu tatapan.
Valen menitihkan air matanya menatap kearah depan melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Lo nggak tau yang sebenernya, Nath," keluh Valen dengan menitihkan air matanya membuat Nathan tersenyum simpul.
"Mungkin gue nggak tau semuanya. Tapi gue tau intinya," kata Nathan membuat Valen menghapus jejak air matanya.
"Gue mulai sayang sama suami gue sendiri. Gue nggak tau kapan rasa cinta dan sayang gue ini gue kasi ke Rifal," keluhnya sembari tersenyum getir kearah Nathan.
Valen mengusap air matanya dengan ibu jarinya. "Gue nggak tau, takdir gue sama Rifal seperti apa. Lo tau sendirikan kalau Adelia sudah sadar," lanjutnya.
"Dan buat gue sedih Rifal udah janji sama Adelia bakalan nikahin Adel udah sadar," lirihnya dengan suara bergetar. "Dan sekarang Adel udah sadar."
Isakan Valen semakin terdengar jelas ditelinga Nathan.
Entah mengapa melihat Valen sesedih ini membuat Nathan refleks membawa Valen kedalam dekapannya.
"Gue selalu ada buat lo, Va. Apapaun yang lo butuhin gue bakalan kasi ke lo," kata Nathan dengan Valen masih dalam dekapannya.
Valen ingin melepaskan pelukan Nathan namun hatinya menolak pikirannya terus-menerus mengatakan jika yang dia lakukan ini salah!
"Gue cinta sama lo dengan tulus, Va. Meskipun lo udah nikah sama Rifal," kata Nathan sangat yakin sembari mengusap rambut milik Valen.
Perkataan Nathan tadi mampu membuat Valen semakin terisak dan memeluk Nathan begitu erat. Pikirannya tidak bisa berpikir lagi jika yang dia lakukan ini adalah salah!
Dia butuh sandaran, dan Nathan siap akan hal itu demi Valen.
Angin roftop rumah sakit dan juga awan menjadi saksi melihat Valen menumpahkan segala kesedihannya didalam dekapan Nathan.
Mereka berdua menggunakan jas yang sama, yaitu jas kedokteran.
__ADS_1
Setelah sedikit tenang, Valen melepaskan pelukannya sehingga matanya yang sembab bertatapan dengan Nathan yang menatapnya dengan tatapan kasihan.
"Gue bakalan selalu ada buat lo. Meskipun nanti Rifal ninggalin lo demi, Adelia." Nathan mengucapkan kata-katanya dengan yakin kepada Valen.
Perkataan yang keluar dari mulut Nathan ingin sekali Valen dengarkan melalui mulut Rifal. Namun semua itu hanya mimpi jika dia bisa mendapatkan perkataan manis itu.
"Makasih, Nath!" Valen kembali memeluk Nathan.
Sehingga mereka lupa untuk kembali keruangan Adelia.
Sosok pria yang melihat Valen memeluk Nathan mengepalkan tangannya jangan lupa wajahnya yang sangat menyeramkan serta hatinya bergemuruh.
Jantungnya tidak tinggal diam, melihat tontonan dimana istrinya dan juga Nathan saling berpelukan.
"Gue nyesel ikutin saran lo, El!" Rifal masih setia menatap Valen dan juga Rifal yang berpelukan sehingga mereka tidak melihat adanya Rifal juga yang tidak jauh dari mereka.
"Gue nyesel udah baik sama lo pagi tadi!" Tak sampai disitu. Rifal mengingat kejadian pagi tadi yang ingin membuatnya ingin memutar waktu agar tidak mengulangi hal konyol seperti tadi.
Rifal tersenyum simpul. "Sampai sini gue jalanin, saran lo, El!" Rifal langsung pergi meninggalkan Objek didepannya. Rasanya dia ingin memukul wajah Nathan yang memeluk istrinya.
Ceklek
Rifal menutup pintu kamar tersebut. Dia masih mengingat dimana Valen ingin melepaskan dirinya seperti barang membuat Rifal ingin sekali meninju sesuatu didepannya saat mendengar perkataan Valen tadi dari mulutnya sendiri dan telinga Rifal.
Huft
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Rifal sembari mendudukkan bokongnya diatas sofa. Dia memejamkan matanya, mengingat perkataan Valen tadi membuatnya ingin marah, sakit hati. Dan pastinya cemburu. Apa lagi dia melihat Valen begitu nyaman dipeluk oleh Nathan diatas roftop tadi.
Rifal tersenyum getir. Dia mengikuti saran dari Elgara sahabatnya itu untuk hubungannya dengan Valen. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Valen atas saran dari Elga.
Namun, saat mengingat kejadian tadi membuat Rifal tidak ingin memperbaiki apapun dengan Valen terutama memperbaiki hubungannya.
"Brengsek!"
Ceklek
Saat Rifal mengatakan kata kasarnya saat itu pula pintu ruangan Adelia dibuka oleh seseorang yang mengenakan jas berwarna putih berprofesi sebagai dokter.
__ADS_1
Wajah yang Rifal pasang sangat menyeramkan, wajahnya seperti tidak bersahabat. Memang kenyataannya seperti itu!
Valen dan Rifal bertatapan, sementara Nathan sudah lebih dulu menghampiri bansal milik Adelia yang sedang berbaring kakuh.
Mata tajam milik Rifal menatap Valen dengan tatapan kebencian membuat Valen merasakan jika Rifal telah kembali seperti biasa. Hanya pagi saja sikap pria itu sedikit manis.
Valen tersenyum masam kearah Rifal jika mengingat kejadian pagi tadi membuat hatinya berdenyut.
Valen memutuskan kontak mata dengan Rifal lalu menghampiri Nathan yang sedang memeriksa keadaan Adelia.
"Gimana, dok?" tanya Valen membuat Nathan yang sedang mengatur cairan infus milik Adelia tersenyum simpul.
Beginilah Valen jika jam kerja, dia akan menggunakan bahasa formal. Dan itu tidak masalah bagi Nathan.
"Adelia cuman butuh istirahat," jawab Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
"Dokter yang menangani Adelia sedang tidak bisa menjaga Adelia. Saya yang akan menjaga Adel," kata Nathan lagi membuat Valen menggelengkan kepalanya.
"Biar saya saja, Dok. Saya sudah tidak bekerja dari kemarin. Biarkan saya yang mengambil pekerjaan ini." Pintanya kepada Nathan. Jujur saja dia tidak enak hati karna selama dia sakit saat itu Nathan yang menghandle pekerjanya.
"Biarkan saya saja," kata Nathan.
"Biarkan saya saja, Dok," kata Valen tanpa penolakan.
Sementara Rifal semakin panas melihat Nathan dan juga Valen yang nampak sedang berdebat membuat darah Rifal seketika mendidih.
Baru-saja dia melihat Nathan dan juga Valen berduaan dan berpelukan diatas roftop, dan sekarang dia melihat ini lagi!
Benar-benar sial bukan!
"Seharusnya kamu istirahat untuk menjaga kan-" Refleks saja Valen menutup mulut milik Nathan karna hampir saja pria kecoplosan, padahal disini ada Rifal.
Valen melirik Rifal yang ternyata sedang memperhatikan dirinya menutup mulut Nathan menggunakan tangannya membuat tangan milik Rifal terkepal sehingga urat-uratnya kelihatan melihat Valen dan Nathan.
Tidak puaskah mereka berdua memperlihatkan ini semua didepan mata Rifal.
Nathan juga melirik arah yang sedang dilirik oleh Valen. Benar saja Rifal sedang memperhatikan dirinya dengan wajah yang memerah membuat Nathan memastikan jika pria itu marah lebih tepatnya cemburu.
__ADS_1
Valen langsung melepaskan tangannya yang membekap mulut Nathan.