
‘’Bilang aja kalau kamu udah nggak cinta sama aku, bilang aja kalau aku dan anak dalam perut aku nggak penting untuk kamu!'' kesal Valen membuat Rifal tersneyum kecut.
Mulai lagi Valen overthingking.
‘’Nggak ada yang penting kecuali kamu sama calon anak kita,'' ucap Rifal menyakinkan Valen agar otak Valen tidak menjelajah hingga luar angkasa.
''Hal sederhana aja yang aku minta, kamu nggak bisa.''
''Bukan nggak bisa, Len.''
''Terus apa?” Tanya Valen.
''Nggak usah dibahas, lebih baik kamu rapihin rambut sama make up kamu, aku bakalan bawa kamu ke semua tempat yang ingin kamu kunjungi di Bali,'' tutur Rifal membuat Valen mendongakkan kepalanya.
Matanya yang sembab bertatapan dengan mata indah milik Rifal. Melihat mata Rifal membuat Valen teringat pada Adelia, karna sosok gadis cantik itu telah mendonorkan matanya untuk suaminya.
''Beneran?'' Tanya Valen setelah beberapa detik terdiam.
Rifal menganguk mengiyakan perktaan Valen. ''Iya.''
Valen tersenyum sumringan mendengar penuturan Rifal.
Rifal berusaha tersenyum manis dihadapan Valen setelah melihat senyuman bahagia milik istrinya itu.
Bagaimana tidak Rifal memaksa dirinya untuk tersenyum manis di hadapan Valen. Karna sepertinya perktaanya itu akan di manfaatkan oleh istrinya.
''Apa aku ganti dres aku?'' Tanya Valen dengan suara pelan.
‘’Tidak perlu!'' jawab Rifal cepat.
Jika dia mengiyakan perkataan Valen untuk mengganti pakaian, bisa-bisa dia akan menunggu beberapa jam lagi hanya karna memilih baju saja.
''Yakin?''
''Aku suka lihat kamu pake dres ini,'' puji Rifal. Karna memang dres yang dikenakan oleh Valen malam ini sangat cantik.
''Yaudah,'' tutur Valen lalu beranjak dari kursi yang dia duduki untuk memperbaiki make up miliknya yang sudah luntur akibat air mata.
Pukul delapan malam, Rifal sudah siap untuk mengantar Valen ke tempat yang dia inginkan.
Mereka berdua di antar oleh supir yang mereka sewa selama beberapa minggu kedepan. Namanya juga liburan, Rifal tidak akan menyetir.
__ADS_1
Valen menggenggam tangan milik Rifal didalam mobil, sementara Rifal melirik Valen yang sedang tersneyum bahagia kearahnya.
Melihat senyuman Valen membuat rasa lelah dalam benak Rifal hilang, cukup melihat senyum orang yang dia cintai mampu membuat masalah dalam pikiranya hilang, meski itu hanya sesaat saja.
''Fal, lihat keluar deh. Cantik banget lampu-lampu diatas pohon itu,'' tunjuk Valen dengan gembira.
''Pak, mobilnya dipelankan,'' intruksi Rifal kepada supir sehingga Supir tersenyum tipis lalu mengangguk.
Mobil berjalan dengan lambat, karna Valen melihat lampu-lampu diatas pohon berbentuk bunga itu dengan intens.
Mereka sudah melewati objek yang di senangi oleh Valen tadi, sehingga mobil kembali laju menuju restoran yang idamkan oleh Valen jika dia berkunjung di Bali.
Valen menikmati angin malam, melalui jendela mobil dengan senang hati. Namun tiba tiba saja kaca mobil langsung tertutup. Ulah siapa lagi jika itu bukan ulah Rifal.
Valen mengerucutkan bibirnya kearah Rifal dengan lucu. ''Angin malam nggak baik untuk kamu,'' ucap Rifal santai dengan matanya fokus menatap kedepan jalan.
''Belum juga ada sepuluh menit,'' keluh Valen.
''Kalau kamu sakit gimana? Kita kesini buat liburan bukan cari penyakit,'' jelas Rifal membuat Valen masih mengerucutkan bibirnya.
‘’Jangan ngeyel kalau ditanya,'' tutur Rifal.
Pasalnya, bukan hanya mereka berdua saja dalam mobil ini, tapi ada supir.
Sopir yang mendengar perdebatan kecil suami istri di belakangnya hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
‘’Ikh, kamu yah kalau ngomong asal ngomong aja. Kamu nggak lihat kalau didepan ada supir, bukan cuman kita berdua,'' tegur Valen dengan suara pelan penuh kekesalan kepada Rifal.
Dia sangat malu saat Rifal dengan santainya mengatakan hal tersebut
''Anggap saja kalau kita cuman berdua didalam mobil, anggap saja jika supir didepan itu patung. Tidak mendengar dan tidak melihat,'' balas Rifal dengan gaya santainya membuat Valen tercengang mendengar perktaan Rifal.
Apa Rifal tidak bisa berbicara dengan pelan? Valen membelakangi Rifal, dia sudah tidak membalas perkataan Rifal lagi yang akan membuat dirinya hilang kata-kata.
Alleycats Restaurant
Adalah restauran yang akan mereka kunjungi, restaurant yang sangat di idamkan oleh Valen jika dia berlibur di Bali.
Lokasi restaurant yang menyajikan makanan khas Inggris ini terletak di jalan poppies ll No.487 Kuta, kabupaten badung, Bali. Restaurant berkhas Inggris ini terdapat tempat makan didalam dan diluar ruangan.
Dan untuk lebih menikmati momen ini, Valen memilih tempat makan diluar ruangan.
__ADS_1
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai didepan parkiran Restaurant. Valen langsung tersenyum bahagia.
Tempat yang dari dulu ingin dia kunjungi akhirnya tercapai juga malam ini. Restauran yang terkenal karna berkhas Inggris, dan juga makananya ada makanan khas Inggris dan dimasak langsung oleh chef Inggris.
Rifal turun terlebih dahulu, lalu membukakan Valen pintu mobil. Rifal mengulurkan tanganya dihadapan Valen saat membuka pintu mobil, Valen lebih dulu menatap wajah tampan suaminya lalu tersenyum.
''Ayok,'' ajak Rifal karna Valen belum juga menyambut uluran tanganya.
Valen mengangguk lalu menyambut uluran tangan suaminya. Rifal menutup pintu mobil lalu berjalan menuju Restauran.
Supir mobil itu sudha pulang, sopir lain lagi yang akan menjemput Rifal dan Valen.
Mereka memilih tempat makan diluar ruangan, lebih tepatnya Valen yang menginginkannya, Rifal hanya mengikuti kemauan Valen.
Pelayan datang membawa menu, Rifal langsung memilih menu makanan, sementara Valen asik melihat tempat ini.
Ternyata benar omongan orang-orang, jika salah satu Restauran di Bali ini sangat berkhas Inggris. Mereka seperti berada di kerajaan Inggris saja.
''Sayang, kamu mau pesan apa?” Tanya Rifal.
‘’Menunya samain aja sama punya kamu,'' jawab Valen.
Rifal sudah memesan makanan untuk mereka berdua. Seraya menunggu makanan mereka datang, lebih dulu Valen mengabadikan momen ini dengan berfoto-foto.
***
Sementara Lea sibuk dengan laptop dan buku di hadapnya, seraya mengajar Agrif untuk mengerjakan PR sekolah miliknya, karna besok adalah Senin.
Pukul delapan lewat, Agrif belum juga menyelasaikan tugasnya yang akan di kumpul besok.
'' Kalau ada yang nggak kamu paham, tanya sama kakak,'' ucap Lea tanpa mengalihkan pandangnya dari laptop.
Kalian jangan pikir jika mereka berdua berada di rumah, mereka berdua berada di rumah sakit di ruangan Daniel mengerjakan tugas mereka seraya menjaga Daniel
''Iya kakak cantik,'' jawab Agrif dengan mantap.
Mereka berdua dengan serius mengajakan tugas mereka, sekali-kali Agrif melihat kearah bansal Daniel berharap papahnya itu akan bangun.
''Udah selesai berapa nomor?'' Tanya Lea masih fokus dengan laptopnya, sehingga Agrif langsung melihat bukunya.
''Udah tujuh nomor.”
__ADS_1