
Valen, Rifal dan Nando makan dengan khidmat di meja makan.
''Kayak orang nggak pernah di kasi makan aja,'' Rifal menggelengkan kepalanya melihat Nando.
''Masakan istrimu enak.'' Nando berkata seraya menambahkan daging sapi di dalam piringnya.
''Makanya nikah,'' ejek Rifal. ''Supaya ada yang masakin kamu, bukan cuman makan intel.''
Nando berhenti mengunyah makananya mendengar kata intel keluar dari mulut Rifal.
''Intel apa?'' tanya Nando menatap Rifal.
''Indomie telur.'' Rifal tertawa di meja makan dna Valen langsung menyikuh lengan Rifal untuk berhenti makan.
''Nggak baik di meja makan ngobrol apa lagi sambil ketawa.''
Rifal meredahkan tawanya.
Mereka bertiga kembali makan dengan hening, tanpa terjadi adu mulut antara Rifal dan Nando.
Sementara Kianna berada di kamar.
Valen berdiri dari kursinya. ''Aku ke dapur dulu buatin Anna bubur.''
Rifal mengangguk mengiyakan ucapan Valen.
''Jangan sampai saya yang suapin, Anna,'' gumam Nando yang masih di dengar oleh Rifal.
''Emang kenapa kalau lo yang suapin, Anna? Sekali-kali lo belajar jadi bapak, biar kalau udah nikah udah punya pengalaman.''
''Kalau saya yang sampai suapin, Anna. Bapaknya Anna wajib di pertanyakan,'' sungut Nando membuat Rifal menatapnya datar.
''Nggak asik lo, Nan!'
Nando hanya mengedikkan kedua bahunya lalu melanjutkan makanya, rasanya masakan Valen enak.
''Makanan seorang istri emang enak ya, Fal.'' Nando meminta persetujuan Rifal.
''Ya.''
''Aku tinggal ke atas dulu,'' pamit Valen membawa nampan berisi bubur untuk Anna.
''Iya sayang.''
__ADS_1
''Pamer,'' ujar Nando.
''Makanya nikah!''
''Kau pikir nikah itu gampang?'' Nando berkata seraya menyeruput minumanya.
''Atau perlu gue cariin jodoh buat lo?'' Rifal berkata dengan santai seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Dia sudah selesai makan, namun dia masih enggan meninggalkan meja makan.
''Dipikir saya ini nggak laku, bisa-bisanya pria setampan saya mencari jodoh.'' Nando meggeleng tak habis pikir.
''Saya akan mengakhiri hubungan ku kepada semua wanita. Saya akan fokus untuk mengabdi dengan mu.'' Nada bicara Nando yang serius membuat Rifal menggelengkan kepalanya.
''Pekerjaan memang penting, tapi menikah jauh lebih penting. Lo harus ingat, Nan. Kalau lo sakit obat terampuh adalah di rawat oleh istri sendiri.'' Rifal berkata dengan bijak.
Bisa ia tangkap dari bicara Nando, jika pria itu tidak ingin menikah dan ingin mengabdikan hidupnya untuk bekerja dengan dirinya.
Nando mengusap bibirnya dengan tisu seraya bercakap-cakap dengan Rifal. Obrolan mereka jalan lurus di meja makan.
''Lo masih ingatkan sama janji gue pas gue di Bali?'' Nando nampak berpikir lalu mengangguk mengiyakan ucapan Rifal.
''Sekarang Valen sudah ketemu, lo udah bisa cari wanita yang akan menjadi pendamping hidup lo kelak. Asal jangan sama Lea, lo harus tau jika gadis itu sudah milik, Nathna.''
''Kalau lo nikah, janji gue bakalan gue tepatin, Nan. Gue bakalan biayayain seluruh acara pernikahan lo dari A sampai Z. Biarpun biaya pernikahannya milyaran lo nggak usah takut, duit gue banyak.'' Terdengar nada sombong dari Rifal bicara. ''Lo cuman tinggal cari pasanganya.''
Rifal tertawa. ''Duit lo juga lumayan banyak, nggak apa-apa kalau lo dapat istri matre.''
''Karna pada dasarnya semua wanita itu matre, Nan. Karna mereka butuh duit buat hidup.''
***
Nathan malam ini tinggal di rumah Frezan atas perintah Frezan. Semenjak Nathan sibuk ingin mengurus pelamaran nya dua minggu lagi, Farel selalu di titip di rumah Rara dan Frezan.
Frezan pikir adiknya itu sibuk di rumah sakit, ternyata dia sibuk mengurus persiapanya untuk melamar Lea.
Saat ini, mereka semua sudah berkumpul di ruangan keluarga. Rara duduk di samping Frezan, dan suaminya itu tengah menggendong tubuh kecil Revan.
Kayla dan Nathan duduk di sofa singel, Rafael duduk di sofa panjang seorang diri.
Dyra, Dyta, Tegar dan Hasya duduk di bawah berlapis karpet bulu karna sedang bermain, dan Tegar bertugas menjaga adik-adiknya agar tidak berantem soal permainan.
Siska bekerja dari jam 7 pagi hingga pukul 5 sore.
__ADS_1
''Jadi acara lamaranya kapan?'' tanya Frezan seraya menyeruput coffe yang di buat oleh Kayla dan Rara tadi.
Diatas meja terdapat cemilan ringan yang akan menemani obrolan mereka malam ini untuk membahas acara Nathna.
''Bang Nathan mau nikah?'' tanya Farel melihat kearah Nathan yang menjadi tersangka.
Nathan tersenyum kearah Farel, dia juga belum mengatakan kepada adik bungsunya jika dia akan menikah.
''Iya, Rel. Abang Nathan bakalan nikah.''
Farel memanyunkan bibirnya. ''Jadi...siapa yang bakalan urus, Farel? Abang Nathan atau kak Eza? Selama ini, kan, Farel tinggal sama Abang Nathan, tapi Abang Nathan bakalan nikah.'' Anak itu mengeluarkan unek-uneknya di hadapan mereka semua.
''Rel,'' panggil Frezan sehingga Farel melihat kearah Frezan.
''Justru bagus kalau Nathan nikah,'' ujar Frezan santai, masih dengan santainya menggendong Revan yang anteng.
''Supaya kamu punya ibu sambung,'' lanjut Frezan membuat Nathan mengangguk membenarkan ucapan Frezan barusan.
''Apa yang dibilang kak Eza benar. Abang Nathan juga nikah supaya ada yang urus kamu dan Abang kelak.''
''Dan pastinya Abang Nathan bakalan kasi kamu keponakan lucu seperti Hasya,'' lanjut Nathan membuat Frezan memutar bola matanya malas.
''Jadi kapan acara lamaranya?'' Kini Rara yang angkat bicara.
''Acara lamaran dua minggu lagi, di acara lamaran nanti nentuin tanggal pernikahannya kapan.''
Kayla mengangguk lalu angkat bicara. ''Kamu nggak nikah paksa, kan? Siapa tau aja lo kebelet.'' Kayla terkekeh membuat mereka juga ikutan ketawa.
''Nggak lah, Kay, gue mau kayak kalian. Lepasin masa lajang dan mempunyai anak. Kalian udah punya anak masa iya gue belum. Padahl usia gue lebih tua dari lo, Kay.''
''Iya-iya, deh,'' ujar Kayla membuat Rara tersenyum melihat Kayla tertawa.
''Aku yang bakalan masak di acara lamaran kamu, Nath.''
Hening...
Frezan sengaja melirik kesembarang arah,B seraya mengkode Nathan lewat matanya agar tidak mengangguk mengiyakan ucapan Rara barusan.
''Adik iparku yang cantik, lebih baik kamu jagain anak-anak. Biar gue undang chef untuk masak saat acara nanti. Jangan buang tenaga.'' Nathan berkata santai.
Untung saja Nathan paham dengan kode mata yang di berikan Frezan untuk menolak penawaran Rara.
Bisa-bisa jika Rara yang memasak maka seluruh orang yang menghadiri acara pelamaran Lea dan Nathan akan sakit perut.
__ADS_1
Frezan tidak akan mau itu terjadi, dia tidak mau jika orang-orang mengejek istrinya.
Rara mengerucutkan bibirnya lucu. ''Iya deh, nggak apa-apa.''