
Rifal berjalan di koridor rumah sakit dengan hati yang berkecamuk, pikirannya terarah pada sosok gadis yang dia tinggalkan. Dia ingin sekali menemani gadis itu namun dia tidak mau jika Adelia semakin tersiksa dengan perasaannya jika seperti ini.
Rifal ingin Adelia melupakan dirinya secara perlahan-lahan.
Maafin gue, Del. Gue sayang sama lo bukan sebagai perempuan yang gue cintai lagi. Maafin gue. Gue harap gue nggak bakalan nyesel dengan keputusan gue sendiri. Gue harap lo cepat sembuh dan mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu, karna sekarang gue cinta sama Valen, istri gue sendiri.
Rifal berperan dengan pikirannya sembari berjalan untuk segera menuju parkiran. Langkah Rifal terhenti saat merasakan ada sesuatu yang kurang saat ini.
“Nando,” gumam Rifal yang baru sadar jika pria itu tidak bersama dengan dirinya. “Kemana dia?” Tanyanya sembari melihat kesana-kemari lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
Dia tidak perlu mengkhawatirkan Nando, karna pria itu bukan anak kecil. Jika dia hilang dia akan mencari jalan untuk pulang.
“Sial, kunci mobil sama Nando. Dia yang nyetir tadi!” umpat Rifal saat sudah mendekati mobilnya, dia mengeluarkan Handphonenya untuk menghubungi Nando meminta kunci mobil.
Andai bukan karna kunci mobil, dia sudah meninggalkan tangan kananya itu, karna ingin memenangkan pikirannya dengan perihal yang terjadi tadi.
Tangisan Adelia, piluhnya, sedihnya, memohonnya itu semua terus berputar dalam benak Rifal, sehingga dia ingin pergi menenangkan dirinya agar tidak memikirkan itu semua.
“Sial, handpone gue lobet!”
Handpone miliknya ternyata lobet, membuatnya semakin ingin menonjok seseorang saat ini juga. Dia melirik mobilnya, nampkanya pintu mobil tidak tertutup dan juga ternyata kunci mobil ada di dalam mobil.
Rifal tersenyum miris. “Untung aja.” gumamnya lalu masuk kedalaman mobil.
Dia meninggalkan parkiran rumah sakit, pikirannya tidak tenang memikirkan sosok Adelia, seperti bumerang terus saja terulang dalam pikirannya mengenai Adelia.
Rifal melajukan mobilnya begitu kencang, hingga jika ada sesuatu yang mendadak dia tidak akan bisa menguasai mobilnya karna lajunya bukan main.
“Gue salah Del, gue minta maaf!” Rifal memukul stir mobilnya, andai saja hal itu mudah dia sudah melakukannya, menemani gadis itu untuk penyembuhan.
Namun, di balik itu semua ada alasan kuat Rifal menolak semuanya!
Mata Rifal memerah, ditambah dengan melajukan mobilnya, menuangkan semua rasa bersalahnya. Dia ingin sekali Adelia membencinya agar gadis itu lebih mudah untuk melupakan dirinya.
Tanpa terasa air mata pria itu jatuh, dia mengingat segala janjinya kepada Adelia, jika suatu saat dia sadar dia akan menikahi dirinya dan menceraikan Valen. Namun nyatanya, dia menjilat ludahnya sendiri karna dia jatuh cinta pada Valen.
__ADS_1
Dia membisikkan janji untuk menikahi perempuan itu saat Adelia masih dalam keadaan koma.
Rifal sibuk dengan pikirannya hingga dia tidak melihat mobil hitam tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan sengaja.
Alhasil, dia tidak bisa mengendalikan mobilnya karna kecepatannya terlampau jauh! Rifal memejamkan matanya di tambah lagi pikirannya yang kacau mengenai Adelia saat ini.
Dia rela mati, rasanya sangat hampah saat ini, dia tidak bisa mengendalikan mobilnya.
Tiba-tiba saja ingatannya mengenai Valen muncul dalam otaknya dan juga seorang anak dalam kandungan Valen, dia akan menjadi seorang ayah dan tidak boleh pergi! Karna Valen membutuhkannya dan juga anaknya nanti, ada perempuan yang dia cintai, yaitu Valensia.
Dengan cepat Rifal membanting stir mobilnya kearah kanan.
Dan……
BRAK!!!!
Kecelakaan terjadi di jalan lalu lintas. Pengendara dan pejalan kaki banyak histeris melihat kecelakaan hebat menjelang siang ini.
Banyak orang berkerumun di mobil milik Rifal yang sudah mengeluarkan asap. Darah mengalir di pelipis milik Rifal, bahkan matanya kini tidak bisa dia buka, di tambah lagi kakinya terhempit.
Dia ingin membuka matanya namun hanya ada rasa perih saat dia berusaha membuka matanya, darah mengalir dari kepalanya dan juga matanya mengeluarkan darah segar akibat benturan kaca.
Jika gue nggak selamat dari kecelakaan ini, gue harap lo bisa nerima kepergian gue, Len. Gue harap lo bisa jaga anak kita nanti saat gue sudah nggak ada. Maafin gue nggak bisa bantu lo rawat calon anak kita, karna Tuhan berkehendak lain untuk kita.
Dan maafin gue juga, Del.
“I love …..you… Valensia.” Ucapnya dengan kesakitan dan juga terbata-bata lalu kemudian dia sudah tidak bergerak lagi dan matanya kini tertutup. Darah segar terus mengalir. Sementara orang diluar sana berusaha mengeluarkan Rifal dari dalam mobil agar pria itu cepat di larikan kerumah sakit sebelum terlambat.
PRANG!!!!
Makanan Valen jatuh di bawah lantai kantin rumah sakit, semua mata kini menatap dirinya.
“Rifal.” Tiba-tiba saja Valen memikirkan Rifal, rasa tidak enak menyelimuti dirinya saat ini, dia merasa ada hal besar terjadi pada suaminya.
Dokter Kiki langsung menghampiri Valen, Sementara penjaga kantin sudah membereskan pecahan piring yang di jatuhkan oleh Valen.
__ADS_1
“Tangan dokter Valen terluka.”
Valen tersentak kaget dengan suara milik Kiki yang tiba-tiba saja ada di dekatnya, dia melamunkan Rifal sehingga dia tidak sadar dengan kehadiran dokter Kiki.
“Kita obati luka dokter Valen dulu, entar infeksi,” kata Dokter Kiki menuntun Valen menuju kursi.
Dokter Kiki mengeluarkan salep dan juga alkohol untuk mengobati luka Valen.
“Makasih,” kata Valen setelah tanganya diobati oleh dokter Kiki.
“Sama-sama.”
“Oh iya, dokter Valen kenapa? Sepertinya ada yang dokter Valen pikirkan,” tanya Dokter Kiki karna dia dapat melihat dari mata Valen.
“Saya nggak apa-apa,” kata Valen meskipun dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya pada dokter Kiki.
Dokter Kiki mengangguk, dia tidak boleh memaksa dokter di hadapnya untuk mengatakan apa yang sedang dia pikirkan.
“Mengenai Adel, dokter Valen nggak usah terlalu khawatir,” kata Kiki dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
“Dokter Valen tunggu sini yah, saya akan mengambilkan makanan untuk dokter Valen,” kata dokter Kiki beranjak dari kursinya.
“Dokter Kiki,” panggil Valen sehingga langkah kaki Kiki terhenti. “Makasih.”
“Iya, sama-sama,”balasnya dengan senyuman lalu melenggang pergi untuk mengambilkan Valen makanan.
Valen yang melihat punggung Kiki tersenyum simpul, setidaknya di rumah sakit tempatnya bekerja dia sudah mempunyai teman, yaitu dokter Kiki.
Pikiran Valen kembali pada Rifal, dia harap ini hanya kecemasannya saja pada suaminya itu.
Drt….Drt….Drt
Handpone miliknya bergetar, ternyata Nando yang menelfonya, Valen harap dia tidak mendapatkan kabar buruk mengenai firasatnya ini.
Tanganya bergerak menekan tombol hijau untuk segera mengangkatnya.
__ADS_1
Nando langsung bicara di seberang Telfon membuat Handpone miliknya terjatuh dibawah lantai.
“Rifal.”