
Sudah tiga hari kepulangan Valen dari rumah sakit, tidak ada penyakit parah yang di derita gadis itu, hanya saja dia disuruh istirahat dan menghilangkan fikiran yang membuatnya mudah capek.
Huft
Terdengar helaan nafas berat dari gadis itu, sudah tiga hari pula Rifal tidak tinggal dirumah. Dia hanya datang mengambil pakaiannya untuk ke kantor lepas itu dia langsung pergi seakan-akan tidak ada penghuni dirumahnya.
Valen sudah tau, jika kesibukan Rifal telah direnggut oleh Adelia. Karna, lepas dari kantor Rifal langsung kerumah sakit menjenguk sosok Adelia.
Valen tau akan hal itu dari rekan sesama dokternya.
Tring
Bell pintu rumah Valen berbunyi, menandakan adanya orang yang datang. Valen sudah tau jika yang datang adalah Lea yang akhir-akhir ini menemaninya setelah gadis itu pulang kuliah.
Ceklek
Valen langsung membuka pintu utama dan sudah melihat Lea cengar-cengir didepan pintu dengan almamater melekat ditubuhnya. Katakan jika gadis itu langsung singgah dirumah Valen tanpa terlebih dahulu kerumahnya.
"Cepat banget pulangnya," ucap Valen karna masih jam seblas siang gadis itu sudah berada diambang pintunya. Padahal, gadis itu selalu pulang sore.
Mereka berdua berjalan beriringan keruangan tamu.
"Udah nggak ada kelas, dok," kata Lea. Lea sudah terbiasa memangil Valen dengan panggilan dokter meski mereka berada dirumah. Valen sama sekali tidak mempermasalahkan akan hal itu.
Valen hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lea.
"Kamu bawa motor?" tanya Valen kepada Lea yang sedang meminum es jeruk yang dibawakan oleh salah satu art.
"Dokter Valen mau makan apa?" tanya Lea yang sudah tau jika Valen akan menyuruhnya untuk membeli jajanan pinggir jalan akhir-akhir ini.
Valen tersenyum, karna sepertinya Lea sudah paham jika dia bertanya seperti itu dia ingin memakan sesuatu.
"Mau makan es kelapa," ucap Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
"Ok, itu mah gampang buat Lea," ucap gadis itu berdiri dari sofa yang dia duduki untuk bersiap-siap mencari es kelapa untuk Valen.
"Tapi.... Kelapanya kamu yang ambil dari pohonnya yah," pinta Valen kepada Lea penuh permohonan.
Mulut Lea langsung terbuka mendengar permintaan dari Valen.
"Buahnya langsung dipetik," ucap Valen lagi.
"Please, yah Lea," mohon Valen kepada gadis yang berusia 19 tahun itu.
Lea tersenyum kecut lalu mengangguk kaku mengiyakan ucapan Valen.
__ADS_1
"Kalau gitu, Lea pamit," kata Lea dan dibalas anggukan kepala oleh setelah diberikan uang Valen untuk es kelapa.
Lea langsung berjalan untuk segera keluar dari rumah Valen.
"Lea," panggil Valen membuat langkah kaki gadis itu terhenti.
Lea langsung membalikkan badannya melihat kearah belakang.
"Semangat!" kata Valen sembari tangannya dia kepalkan keatas tanda semangat untuk Lea.
Lea tersenyum masam kearah Valen membuat Valen tertawa melihat ekspresi wajah Lea.
"Baik, dokter Valen," kata Lea lalu benar-benar pergi dari ambang pintu.
Lea membuka pintu gerbang bertepatan dengan singgahnya mobil berwarna hitam.
Pengendara mobil itu langsung keluar dengan baju kaos berwarna hitam yang membuatnya semakin tampan.
Lea langsung menutup mulutnya, melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
"Dokter Nathan!"
Yah, sosok itu adalah dokter Nathan yang datang membawa buah tangan berupa buah-buahan.
"Dokter Nathan mau jengukin dokter Valen?" tanya Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
Lea langsung melihat buah-buahan berada ditangan Nathan.
"Dokter Nathan nggak usah bawa buah. Dokter Valen maunya es kelapa," kata Lea. "Tapi, Kelapanya langsung diambil dari pohonnya," sambungnya sedikit lesuh.
Lea tersenyum kearah Nathan," Bagaimana kalau yang panjat pohon kelapanya dokter Nathan aja," usul Lea dengan wajah ceria. Setidaknya bukan dirinya yang mengambil kelapa itu.
"Tap-"
"Bang Nathan."
Belum sempat Nathan menyelesaikan perkataannya, sosok Farel telah turun dari mobilnya dengan menggenggam tangan Nathan sembari melihat Lea.
Yah, Nathan datang bersama dengan Farel. Karna mereka berdua telah tinggal bersama di apartemen milik Nathan.
"OMG, ini adiknya dokter Nathan?" tanya Lea melihat kearah Farel yang sangat tampan, bulu mata yang lentik, mata yang bulat, wajah yang putih serta matanya yang indah.
Nathan mengangguk mengiyakan ucapan Lea.
"Kecil-kecil aja udah tampan. Gimana kalau udah gede? Tambah tampan, jadi rebutan para gadis diluar sana," oceh Lea masih setia menatap wajah Farel yang tampan ini.
__ADS_1
"Hmm, namu kamu siapa?" tanya Lea sedikit mensejajarkan tingginya dengan Farel. Sehingga dia lupa dengan tujuannya untuk membelikan Valen es kelapa.
"Farel."
"Buset." Lea langsung berdiri tegak dengan tertawa renyah karena jawaban dari anak itu yang singkat dan padat dan tak lupa pula suaranya yang sangat menusuk. Kalau kata-kata anak SMA suaranya bardamage.
Valen kembali menatap Nathan.
"Gimana? Dokter Nathan mau 'kan? Cuman ambil kelapa doang dari pohonnya. Lepas itu Lea yang buat," kata gadis itu agar Nathan ingin menurutinya.
"Ini juga demi dokter, Valen," lanjutnya.
Nathan menarik nafasnya panjang.
"Masuk," kata Nathan menyuruh Lea untuk masuk kedalam mobilnya.
Lea tersenyum sumrinang, dia langsung duduk dibelakang sementara Farel duduk dibelakang bersama dengan Nathan.
Nathan langsung meninggalkan gerbang rumah Valen untuk segera memenuhi permintaan Valen yang ingin minum es kelapa yang dimana kelapanya langsung dipetik oleh Lea. Namun, Lea menyuruh Nathan karna tidak mungkin kan jika dia yang memanjat pohon kelapa tingginya seperti tiang listrik.
"Kita mau ambil kelapa dimana?" tanya Nathan fokus menyetir sementara Farel sibuk bermain game di handphone milik Nathan.
"Terserah dokter Nathan."
Srt.....
Nathan langsung merem mendadak mendenger jawaban santai dari gadis dibelakangnya.
"Dokter Nathan bisa nggak sih bawa mobilnya? Kasian jidat Lea jadi memar." oceh gadis itu memegang jidatnya.
Sementara Farel melanjutkan bermain game.
"Kamu menyuruh saya untuk panjat pohon kelapa, tapi kamu tidak tau dimana pohon kelapa yang ingin saya panjat," kata Nathan menahan geram.
Lea hanya cengengesan, karena ini salahnya karna tidak memikirkan terlebih dahulu dimana dia akan mengambil kelapa.
"Kelapanya kita beli di penjual es kelapa, nanti kamu yang buat," kata Nathan melajukan mobilnya yang sempat terhenti.
"Nggak boleh!" bantah Lea kepada Nathan.
"Dokter Valen maunya kelapangan langsung dipetik, bukan dibeli dipenjual es kelapa. Lea nggak mau yah dokter Nathan kalau dokter Valen kecewa sama Lea," katanya kepada Nathan.
"Terus, kita mau ambil kelapa dimana?" tanya Nathan kepada Lea tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Yah..... Dokter Nathan fikir sendiri. Dokter Nathan kan laki-laki. Masa gitu aja perempuan yang harus mikirin," ucap Lea membuat Nathan ingin berhenti ditengah jalan lalu menurunkan gadis itu didalam mobilnya.
__ADS_1