
Agrif sudah masuk kedalam mobil.
Lea, Bi Minah, satpam, Art Frezan dan juga Dyta melihat Agrif masuk kedalam mobil. Frezan tentunya meggendong Dyta untuk lebih tinggi dari mereka untuk melihat Agrif pergi.
Agrfi membuka kaca mobilnya, matanya yang menyimpan banyak luka tertuju pada Dyta yang melambaikan tanganya kearahnya.
Agrif juga melambaikan tanganya, sehingga mereka juga melambaikan tangan Agrif.
Perlahan-lahan mobil berjalan, Agrif menatap rumah mewah papahnya yang segera dia tinggalkan.
Pah, papah yang tenang di sana, ya, sama mama. Agrif pergi ke Banjarmasin menemukan Kebahagian Agrif. Pah, Agrif nggak tau, apakah di panti nanti Agrif akan bahagia atau melakukan sesuatu agar Agrif bahagia.
Mobil milik pak Asegaf sudah menjauhi rumah Daniel, supir pak Asegaf yang menyetir mobil sampai bandara.
''Di sana kamu tidak akan kesepian,'' ujar pak Asegaf menatap ke depan. ''Saya tau, kamu melihat papah kamu di pukul sama orang itu, kan,'' lanjutnya melirik Agrif sehingga mereka berdua saling menatap.
Agrif mengangguk kecil, dan melihat kearah jendela mobil. Hari ini adalah hari dia akan meninggalkan Jakarta dan menuju Banjarmasin.
Ziya!
Nama itu terlintas di benak Agrif, sosok bocah bule yang imut, cantik yang mampu memikat Agrif saat itu.
Agrif berpikir, hanya waktu itu saja dia bisa bertemu Farziya, karna gadis itu bukan berasal dari sini.
Sudah tidak ada gelang couple di tangan Agrif, karna gelang itu sudah di ambil oleh Dyta. Dyta saja tidak tau jika gelang itu merupakan gelang couple Agrif bersama bocah bule saat di taman bermain.
Agrif tersenyum mengingat pertemuannya dengan Ziya, itu pertama kalinya dia melihat bocah cantik dengan rambut lurus, serta rambutnya berwarna kuning ke emasan.
Agrif yakin jika rambut Ziya waktu itu, merupakan rambut asli milik bocah Ziya saat itu.
Dia tidak percaya, jika dia jatuh cinta di usianya yang masih bocah.
Agrif mengakui jika Ziya cantik, dan mampu menbuatnya jatuh cinta.
Dyta, menurut Agrif Dyta itu unik, manis, menggemaskan, apa lagi anak itu sedikit tomboi membuat ciri khas Dyta nampak, bocah seperti Dyta menurut Agrif, tidak bosan untuk di lihat, Dyta juga cantik.
Asegaf yang melihat Agrif tersenyum kecil hanya abai saja.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di bandara. Supir mengangkat barang milik Agrif menuju pesawat.
Agrif dan Asegaf langsung duduk di kursi perawat. Agrif memilih duduk di dekat jendela pesawat agar bisa melihat awan lebih dekat lagi.
Pesawat yang mereka tumpangi langsung lepas landas. Agrif bisa melihat awan lebih dekat. Mungkin saja anak itu sedang berkhayal sehingga dia melihat Daniel dan mamahnya menggunakan baju berbaju putih di dekat awan melambaikan tangan kearahnya.
__ADS_1
Tentu saja Agrif refleks melambaikan tanganya, membuat Asegaf melihat kembali tingkah aneh Agrif.
''Siapa yang kamu sapa?'' tanya Asegaf.
''Papah dan mamah,'' ucap Agrif tanpa melapskan tatapan matanya dari jendela pesawat.
Jawaban menohok dari Agrif membuat Asegaf terdiam.
***
Frezan dan Dyta sudah kembali dari rumah Daniel. Rara bisa melihat Frezan menurunkan Dyta dari gendonganya atas perintah anak itu.
Frezan yang melihat Rara di dapur langsung menghampirinya, tentu saja Rara tau jika suaminya itu tengah berjalan kearahnya.
Rara membalikkan badanya untuk kembali membuat susu untuk Hasya. Anaknya itu sangat suka minum susu.
Rara merasakan tangan kekar berada di pinggangnya, Rara sudah tau tangan kekar itu milik suaminya.
Frezan mengenduskan kepalanya di leher Rara. Saat dia lelah, dia akan melihat Rara sehingga lelahnya langsung hilang begitu saja.
‘’Agrif udah berangkat?'' tanya Rara membalikkan badanya.
Frezan mengangguk, lalu kembali memeluk Rara dari depan. ''Kenapa?'' tanya Rara melihat wajah suaminya sangat letih, padahal pagi ini dia tidak ke kantor.
Sehingga wajah mereka bertemu.
Cup
Rara memberikan ciuman di pipih milik Frezan.
''Yang penting kamu udah usaha bujuk anak Daniel untuk tinggal di sini. Tapi dia anak baik, karna mau mengikuti amanah dari papahnya,'' ucap Rara.
Frezan hanya menghembuskan nafas berat, lalu kembali memeluk Rara. ''Melihat senyuman mu, membuat lelah ini menjadi bahagia,'' ucap Frezan membuat Rara tidak bisa menahan senyumanya.
Rara mengusap rambut suaminya yang wangi. ''Kamu mau makan?'' tanya Rara dan dibalas gelengan kepala oleh Frezan.
''Aku udah makan sama Dyta di restoran saat pulang dari rumah Daniel,'' ucap Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Frezan ******* bibir Rara sehingga mereka berciuman panas di dapur, hingga suara anak kecil membuat mereka mematung.
''Bunda, apa susu untuk Hasya sudah jadi? Hasya sudah merengek sama Tegar di ambilkan susu!''
Jlebbb
__ADS_1
Frezan langsung melepaskan tautanya dengan Rara, dia sudah melihat Tegar di dekat meja tengah duduk memandang kearah mereka.
Wajah Rara memerah tentunya, dia kembali membalikkan badanya agar Tegar tidak melihat wajahnya.
''Se-bentar, ya, bun-da lagi tuang gulanya,'' ucap Rara tanpa melihat kearah Tegar.
Frezan berusaha serileks mungkin. ''Apa kamu dari tadi di sana?'' tanya Frezan seraya menghampiri Tegar yang duduk diatas kursi.
Tegar mengangguk membuat Frezan tersenyum tipis.
***
Rumah mewah Rifal nampak sunyi, pria itu belum juga bangun.
Aska sedang mengerjakan laporan kantor Rifal yang di bawa oleh Nando pagi tadi. Aska menyuruh Nando untuk libur hari ini, karna dia melihat kondisi Nando kurang sehat, di tambah wajah pria itu pucat.
Sehingga Nando hari ini libur, dan Aska yang mengambil alih kerjaan Nando yaitu menghitung pengeluaran uang kantor bulan ini.
Nando pula yang mengatur bagian keuangan, karna hanya Nando saja di percayai oleh Rifal. sudah beberapa bendahara di kantor Rifal ketahuan korupsi membuat Rifal menyuruh Nando yang memegang jabatan bendahara sekaligus.
Aska sibuk dengan laptop di hadapnya, saat ini dia berada di meja kerja rifal yang berada di dalam kamarnya .
Rina duduk di diatas tempat tidur Rifal, seraya menunggu anaknya itu bangun.
''Rifal, bangun,'' gumam Rina.
Aska bisa mendengar Rina menyuruh anaknya untuk bangun.
''Rifal akan bangun, saat waktunya tiba,'' sahut Aska tanpa mengalihkan pandangnya dari laptop.
Rina tidak membalas ucapan suaminya lagi, yang akan berujung perdebatan kecil antara mereka berdua.
Rina melihat tangan Rifal, tanganya bergerak dengan lemah.
''Aska,'' panggil Rina dengan cepat menbuat Aska mengusap dadahnya.
''Tangan anak kita bergerak!'' seru Rina membuat Aska dengan cepat berdiri dari kursinya.
‘’Rifal kita sudah sadar, Aska!''
Dan benar saja, tangan Rifal bergerak degan lemah.
''Aku akan menelfon dokter, Zul.''
__ADS_1