
Sementara Valen sedang makan dengan lahap di pinggir jalan. Karna masih ada sekitar tiga puluh menit dia menggantikan perawat, jadi dia menyuruh Nathan untuk singgah makan -makanan nasi goreng dipinggir jalan yang sedari tadi dia inginkan.
Untung saja Nathan mau-mau saja menuruti permintaan Valen. Nathan tau, jika keinginan Valen karna dia sedang hamil.
Moodnya kadang berubah-ubah, karna janin yang dia kandung.
"Lo nggak makan?" tanya Valen kepada Nathan.
Nathan menggelengkan kepalanya membuat Valen mengangguk kecil lalu melanjutkan memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya.
Nathan tersenyum kecil sembari melihat Valen makan dengan lahap. Seperti perempuan yang tidak pernah diberi makan.i
Sementara Rifal masih fokus menyetir dengan raut wajah yang sangat sulit untuk ditebak. Wajah pria itu hanya datar saja sembari menyetir mobilnya untuk segera menuju rumah sakit menyusul Valen.
Rifal memelankan laju mobilnya lalu membuka kaca mobilnya saat ekor matanya melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Ckckck!" Rifal langsung berdecih lalu meminggirkan mobilnya. Dia masih melihat kedua objek tersebut sembari berbincang membuat hatinya menjadi panas seperti ini.
Dia bisa melihat sosok perempuan yang sedang makan dengan khidmat serta berbicara dengan lawan bicaranya begitu sangat bahagia.
Rifal langsung mengepalkan tangannya saat melihat Nathan menyuapi Valen, dan Rifal yakin itu adalah nasi goreng yang sedari tadi diwanti-wanti oleh Valen.
Dan Valen tersenyum saat Nathan menyuapinya.
Rifal langsung keluar dari mobilnya, dia sudah tidak tahan melihat adegan yang diciptakan oleh Nathan. Adegan yang tidak terlalu panas namun mampu membuat hatinya terbakar.
Bugh.....
"Nathan!" pekik Valen
Nathan langsung terjatuh dari kursi plastik yang dia duduki karna mendapatkan bogeman secara tiba-tiba oleh seseorang.
Valen berdiri dari kursinya sembari melototkan matanya saking terkejutnya dia melihat Nathan terjatuh karna ulah seseorang.
Sementara yang punya warung langsung memegang kepalanya dengan gaya syok. Pasalnya dia sedang menggoreng nasi pesanan Valen yang akan dia bawa kerumah sakit nanti.
Namun karna seseorang yang datang tiba-tiba membuatnya syok, karna dia langsung memberikan bogeman pada wajah tampan milik Nathan.
__ADS_1
Dia yakin, orang yang memberikan bogeman pada pembelinya berjas putih bukan orang biasa, karna dia begitu lancang memukul aparat kesehatan.
Rifal langsung mencengkram kerah baju milik Nathan, dia tidak peduli lagi jika dihadapanya ini adalah seorang dokter yang dihormati oleh manusia, karna berjasa untuk orang banyak.
Bugh....
"Rifal!"
Nathan kembali tersungkur mendapatkan bogeman dari Rifal. Dia belum sempat berdiri dari lantai yang sedikit kotor yang dia duduki karna terjatuh.
Valen kembali berteriak, namun pukulan untuk Nathan tetap diberikan oleh Rifal.
"Jangan pernah ganggu rumah tangga orang!" Rifal menekan setiap perkataannya dengan jaraknya dengan Nathan sangatlah dekat. Dengan Nathan masih berbaring dilantai kasar.
Valen bergerak untuk menolong Nathan, namun dengan cepat Rifal mencekal pergelangan tangannya langsung pergi meninggalkan warung tersebut.
"Lepasin!" berontak Valen dengan Rifal mencengangkan tanganya pergi meninggalkan warung makan tersebut. "Lo apa-apaan sih!"
"Dengerin. Jangan pernah dekat sama Nathan!" kata Rifal tanpa melihat Valen.
Mereka berudua saling bertatapan.
"Selama ini aku selalu sabar dengan tingkah kamu, Fal. Selama ini aku nggak pernah larang kamu dekat sama siapapun!" suara milik Valen naik satu oktaf dari biasanya.
"Termasuk kamu dekat sama, Adel. Aku nggak pernah larang kamu buat jenguk dia, perhatiin dia!" Valen menitihkan air matanya mengingat bagaimana suaminya sangat perhatian kepada wanita lain ketimbang dirinya.
"Kamu yang selama ini egois, Fal. Bukan aku!" lanjutnya, dengan mereka berdua masih saling bertatapan.
Valen menghapus air matanya kasar. "Dan kamu datang.....Larang aku buat dekat sama Nathan. Lantas apa yang kamu lakukan selama ini ke aku, Fal! Apa?" lanjutnya dengan suara sedikit bergetar.
"Aku punya hak buat dekat sama siapapun. Begitupun dengan kamu. Mau dekat sama siapapun silahkan!"
"Aku nggak pernah larang kamu buat jenguk, Adel. Jadi, jangan pernah larang aku dekat dengan siapapun, termasuk Nathan," tegasnya membuat nafas Rifal naik turun.
"Selama ini aku diam, bukan berarti aku nggak tau apa itu sakit, cemburu, Fal." Awan hitam yang menjadi saksi mereka.
"Aku sebagai wanita punya perasaan, Fal. Kamu nyakitin aku selama ini, tapi aku nggak pernah ngeluh. Karna aku sadar dengan posisi aku!" unek-uneknya telah dia sampaikan selama ini yang Valen pendam.
__ADS_1
"Jadi, stop larang aku buat dekat dengan Nathan!" lepas mengatakan itu Valen langsung pergi.
"Aku cinta sama kamu, Va!"
Deg
Perkataan Rifal tentu saja membuat langkah kaki Valen terhenti. Dia tidak salah dengarkan?
Rifal menarik nafasnya panjang, dia sudah tau dan yakin jika perasaannya kepada Valen memang telah ada. Maka dari itu dia mengatakan dengan lantang jika dia mencintai Valen.
"Aku cemburu lihat kamu sama dia," lanjutnya masih membuat Valen mematung ditempatnya.
Rifal langsung menghampiri Valen yang masih mematung ditempatnya.
"Aku sadar, kalau perasaan aku sama kamu sudah pasti, Va. Aku baru sadar jika selama ini aku cinta sama kamu, aku bisa tau, Va. Karna aku cemburu lihat kamu dengan Nathan." lanjutnya dengan suara pelan. Tatapan mata Rifal sudah mulai senduh tidak seperti tatapan membara.
Kini tatapannya kepada Valen hanya ada cinta untuk perempuan dihadapannya. Valen menitihkan air matanya dengan menatap manik mata Rifal.
"Aku cinta sama kamu, Va. Aku mau kita selalu sama-sama dengan anak kita."
Perkataan Rifal sukses membuat air mata Valen semakin deras. Perkataan ini ingin sekali dia dengarkan dari mulut Rifal.
"Aku cinta sama kamu, Valensia."
Rifal langsung membawa Valen dalam dekapannya dengan gadis itu terisak dalam dekapan Rifal. Kali ini dia terisak dalam dekapan suaminya bukan dekapan orang lain, lebih tepatnya Nathan.
"Aku juga cinta sama kamu, Fal!" Isakan demi isakan keluar dari mulut Valen. Dia begitu nyaman dalam dekapan Rifal saat ini.
Dekat dengan Rifal membuatnya seperti terlindungi, meski perlakukan pria itu sedikit kasar kepada Valen.
"Selama ini aku biarin kamu dekat dengan Adel, bukan karna aku nggak cemburu. Cuman aku sadar diri kalau aku bukan siapa-siapa untuk kamu, Fal," kata Valen dalam dekapan Rifal.
Rifal melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Valen. Mereka berdua saling bertatapan dengan Valen tak bisa membendung air matanya.
Melihat manik mata Rifal yang serius membuatnya semakin yakin, jika Rifal tidak main-main dengan perkataannya.
"Aku mau, kita mulai dari sekarang hubungan kita," kata Rifal ."Kita perbaiki rumah tangga kita."
__ADS_1