
Adelia di makamkan di tempat pemakaman umum, Adelia di kuburkan berdekatan dengan kubur milik Tegar, yang merupakan adik Rifal.
Tanah telah menimbun tubuh Adelia, sementara Rifal kembali menitihkan air matanya saat tanah telah berhasil menimbun Adelia.
Rifal sendiri yang menempatkan Adelia di kuburkan di dekat makam adiknya, yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya.
Dokter Kiki tidak sempat hadir, hanya dokter Nathan saja yang hadir mengenakan kacamata hitamnya.
Rifal juga memakai kacamata hitam begitupun dengan Valen yang mengenakan kacamata hitam.
Tak hanya itu, Amora sebagai kakak Adelia juga hadir di sini di kawal oleh polisi, Rifal sendiri yang menyuruh polisi untuk membawa Amora untuk ke sini melihat terkahir kali adiknya.
Tangan milik Amora terkepal, tidak ada air mata keluar dari pelupuk matanya, saat melihat Adelia sudah di timbun kembali dengan tanah.
“Del, ngapain lo kasi mata lo buat orang yang udah sakitin lo,” geram Amora sembari melirik Rifal dengan tatapan seperti tatapan membunuhnya.
Valen dan Rifal langsung berjalan di depan gundukan tanah, Rifal menaburi bunga di depan tanah gundukan di hadapannya.
Dia tidak bisa menahan isakan tangisnya, sekarang ini dia bisa melihat karna Adelia yang mendonorkan matanya untuk laki-laki seperti dirinya yang telah menyakitinya.
Rifal juga menyiram gundukan tanah di hadapnya dengan air sebanyak tiga kali. Valen mengusap punggung Rifal.
“Tidak ada yang perlu di sesali, cukup jadikan pelajaran,” kata Valen bijak kepada suaminya.
Dia tau, jika Rifal kembali menangis saat ini. Ini pertama kalinya Valen melihat Rifal menangis semenyakitkan ini.
Orang-orang sudah pergi meninggalkan makam Adelia, karna sebentar lagi akan datang malam.
Dokter Nathan menghampiri Valen dan juga Rifal. “Saya duluan,” pamit dokter Nathan kepada Rifal dan juga Valen.
Valen hanya menganguk kepada dokter Nathan lalu pria itu melenggang pergi meninggalkan makam milik Adelia.
Mata Rifal dengan mata Amora saling bertatapan, Rifal bisa melihat masih ada dendam dalam diri Amora kepadanya, apa lagi Adelia sudah meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Dia yakin, wanita itu belum puas dengan apa yang dia dapatkan hari ini. Mungkin wanita ini belum jerah dengan perbuatannya.
Rifal mengalihkan pandangannya kembali kepada gundukan tanah di hadapnya, batu nisanya tertuliskan nama Adelia.
Sudah cuku penderitaan yang di derita oleh Adelia, dia sudah berbaring koma selama bertahun-tahun lamanya saat dia sadar dia hanya butuh waktu singkat untuk hidup penuh dengan rasa sakit.
Amora langsung kembali di bawa oleh polisi. Polisi langsung memasukkan Amora kedalam mobil untuk membawa kembali wanita itu pada tempatnya.
“Fal, kita balik yah. Sebentar lagi bakalan malam,” kata Valen dengan lembut.
Rifal jongkok di dekat makam Adelia. “Selamat jalan perempuan hebat,” kata Rifal dengan senyuman yang penuh dengan rasa sesal.
“Dan maafkan kesalahan ku,” lanjutnya sembari memegang batu nisan milik Adelia.
Rifal menggenggam tangan Valen. “Ayok,” kata Rifal menggenggam tangan Valen meninggalkan makam milik Adelia.
Rifal langsung masuk kedalam mobil bersama dengan Valen, mobil miliknya langsung saja meninggalkan tempat di mana Adelia di istirahatkan untuk selama-lamanya.
Di tengah perjalanan hujan rintik turun membasahi bumi, membuat Valen melihat kearah jendela mobil.
Seharusnya dia memberikan suport kepada Adelia untuk menjalankan pengobatan, bukan malah sebaliknya, dia menjatuhkan mental Adelia dengan perkataanya.
Air hujan yang tadinya turun secara rintik kini turun begitu deras. Valen menyandarkan kepalanya di sandaran mobil sembari mengusap perutnya.
Rifal melirik Valen. “Kita singgah makan, yah,” kata Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen. Karna dia juga lapar, sedari pagi dia belum makan.
“Maafkan aku. Aku lupa memperhatikan mu untuk makan,” kata Rifal melirik Valen dengan menyesal.
Dia sibuk dengan kesedihannya hingga dia lupa Valen.
Valen menggenggam tangan Rifal. “Aku mengerti, tidak apa-apa hari ini kamu tidak memperhatikan aku. Karna aku tau kondisi kamu sedang tidak baik. Tapi cucup hari ini, jangan keterusan,” kata Valen sembari tersenyum kearah Rifal.
Rifal membalasnya dengan senyuman manis miliknya. “Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi. Aku sudah mencintaimu dengan tulus,”balas Rifal.
__ADS_1
Rifal mengusap perut Valen. “Aku sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir,” ucap Rifal sembari mengusap perut Valen.
“Aku juga, aku sudah tidak sabar menjadi seorang ibu seperti kedua sahabat ku,” balas Valen mengingat jika kedua sahabtanya Rara dan juga Kayla sudah mempunyai anak.
“Andaikan kita cepat membuat anak, aku yakin anak aku sudah besar seperti anak Elga dan Frezan,” kata Rifal membuat Valen terkekeh.
“Hehehe, kamu yang kurang gercep. Malu-malu kucing tapi mau,” ejek Valen membuat Rifal menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Rara nggak datang lihat aku operasi? Apa mereka tidak tau?” Tanya Rifal karna tidak melihat Rara dan juga Frezan datang menjenguknya.
Sementara Elga, dia paham jika pria itu kembali keluar negeri untuk mengurus perusahaan, Rifal saja tidak tau jika Valen belum mengatakan padanya jika Elga di penjara bukan keluar negeri mengurus perusahaan.
“Rara sedang sakit, jadi Frezan jagain dia. Kalau Kayla jagain anak-anak karna baby sister anak-anak mereka pulang untuk sementara waktu,” bohong Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
“Tapi aku udah kabarin sama mereka kalau kamu udah bisa melihat,” lanjut Valen. Dia sudah memberikan kabar kepada Rara jika Rifal sudah melihat kembali.
“Apa kamu beri tau, jika Adel udah nggak ada?” Tanya Rifal.
Valen menganguk. “Aku udah beritahu sama mereka. Mereka turut berduka cita atas meninggalnya Adelia,” terang Valen.
Mobil milik Rifal memasuki parkiran restoran mewah di Jakarta. Hujan masih begitu lebat di luar sana.
Rifal mengambil payung di kursi belakang, lalu turun dari mobil menggunakan payung, Rifal membukakan Valen pintu mobil.
Valen langsung memegang pergelangan tangan Rifal untuk segera masuk kedalam restoran untuk makan malam.
Payung yang di kenakan Rifal langsung di berikan pada satpam yang menjaga. Rifal langsung memesan ruangan VVIP untuk dirinya dan juga Valen.
Rifal meminta jika ruangan yang dia pesan di hias dengan romantis tapi sederhana saja. Karna jika terlalu mewah akan memakan waktu sementara Valen sudah lapar.
Bukan masalah sulit bagi pelayan untuk menghias ruangan dengan cepat. Saat mereka berdua masuk di sambut dengan lampu berwarna-warni.
Dan jangan lupa di meja di hias bunga-bunga berwarna merah, alunan music romantis menghiasi ruangan yang di pesan Rifal.
__ADS_1
“Kamu suka? Maaf hanya sederhana karna kamu sedang lapar,” kata Rifal.
“Aku suka, sederhana tapi menawan,” balas Valen di sertai dengan senyumanya.