
Sudah pukul delapan malam, namun Nando belum juga balik kerumah Rifal. Semenjak Nando pamit ingin keluar makan pria itu belum pulang sampai sekarang.
Rifal sudah menghubungi Nando namun ponsel pria itu tidak aktif sama sekali membuat Rifal khawatir.
''Kamu coba cari Nando di apartemennya,'' ucap Valen yang sedari tadi melihat suaminya mondar-mandir di depan pintu kamar.
''Aku nggak tega ninggalin kamu di sini sama, Anna.'' Rifal berjalan kearah Valen.
Dia ingin ke apartemen Nando, namun jika dia pergi siapa yang menemani Valen di sini bersama anaknya?
''Kamu pergi aja cek Nando, siapa tau aja dia di apartemen, lupa balik ke sini.''
''Kamu beneran nggak apa-apa di sini?'' tanya Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
''Aku beneran nggak apa-apa.''
Akhirnya Rifal mengambil kunci mobil untuk ke apartemen Nando.
''Kita video call, ya,'' ucap Rifal mengecup kening Valen.
''Kamu belum beliin aku Handpone baru,'' celetuk Valen membuat Rifal menepuk jidatnya.
''Besok baru aku beliin.'' Valen hanya mengangguk.
Rifal mencium pipih Anna, lalu keluar dari kamarnya .
''Nando benar-benar merepotkan!'' decak Rifal seraya menyetir mobilnya keluar dari gerbang rumah.
Dia melajukan mobilnya membelah kota Jakarta malam ini, dia tidak ingin membuang banyak waktunya di jalan, karna dia memikirkan Valen di rumah bersama anak kecil mereka.
Tidak butuh waktu lama, Rifal sudah sampai di apartemen Nando. Dia menaiki lift untuk naik keatas.
Untung saja Rifal mengetahui pasword aparatemen Nando. Pasword apartemennya yaitu ulang tahunnya.
Rifal menaikkan alisnya sebelah saat menekan pasword apartemen Nando, senyum terbit di wajah pria itu. ''Rupanya Nando nggak lama lagi ulang tahun,'' gumam Rifal. ''Suatu hal yang baik gue bisa kesini, sehingga gue nggak lupa ulang tahun pemeras harta gue itu.''
Jika mengingat Nando kembali membuat Rifal menggelengkan kepalanya. Selalu saja jika Nando menjalankan tugas dengan baik dia pasti meminta beberapa persen dari Rifal.
It’s oky, selagi Nando tidak melencang padanya.
Rifal berjalan masuk kedalam apartemen Nando. Apartemen ini nampak sunyi sehingga menciptakan kesan horor.
''Nando!'' panggil Rifal dengan keras.
__ADS_1
Sunyi!
Tidak ada sahutan dari Nando.
''Nando!''
Rifal berdecak kesal. ''Kalau lo nggak nyahut, gue potong gaji lo!'' ancam Rifal lagi namun belum mendapatkan jawaban juga.
Rifal berjalan menuju kamar Nando, lalu membuka knop pintu. Tidak ada orang di dalam, yang ada hanya foto wajah wanita yang berbagai macam rupah.
Rifal kembali menutup pintu kamar Nando, tidak ada Nando di sini. Terus pria itu kemana?
''Kemana sih lo, Nan!'' desis Rifal berjalan keluar apartemen Nando.
Rifal juga tidak bertanya pergi kemana Nando saat dia pergi makan tadi.
Rifal kembali masuk kedalam mobilnya, dia harus mencari Nando kemana? Nomor pria itu tidak aktif sampai sekarang.
''Club,'' gumam Rifal. ''Gue yakin tuh anak pergi ke sana. Sudah lama dia nggak kesana karna sibuk ngurusin kantor.'' Rifal langsung menjalankan mobilnya menuju club tempat dia dan Nando sering kunjungi bersama.
Sudah lama Rifal tidak menginjakkan kakinya di sana, semenjak dia benar-benar menyadari cintanya kepada Valen dia sudah tidak pernah lagi bermain ke sana.
Rifal memarkirkan mobilnya di perkiraan VVIP di club besar ini. Dentuman music Dj langsung terdengar di telinga Rifal saat dia keluar dari mobil.
Lampu remang-remang membuat Rifal kesusahan mencari Nando. Dia berjalan menuju wanita yang sedang meracik minuman.
''Hei Rifal! Sudah lama kau tidak kesini!'' Suara wanita itu sedikit keras karna suara music yang begitu keras.
Tentu saja dia mengenal Rifal, dia sangat sering bermain ke club bersama Nando.
Rifal tersenyum seraya duduk di kursi. ''Kau mau minum?'' tawar wanita **** itu kepada Rifal.
''Tidak! Gue kesini nyariin Nando. Lo kenal dia, kan, dia sering kesini!''
Wanita mengangguk. ''Fernando buaya itu?'' tawanya membuat Rifal juga tertawa.
Dia lupa jika wanita di hadapanya ini pernah menjalin kasih bersama Nando.
Rifal mengangguk mengiyakan ucapan wanita di hadapnya.
''Dia di kamar 11. Dia mabuk berat! Sepertinya dia sedang banyak masalah tentang asmaranya. Dia selalu memanggil nama Lea! Sepertinya buaya itu beneran jatuh cinta sama seseorang sehingga dia mabuk berat seperti itu.''
Rifal tertawa beriringan dengan dentuman music Dj. ''Itu karma untuk dia.''
__ADS_1
Rifal pamit kepada wanita itu, lalu berjalan menuju lantai atas. Di club ini tersedia kamar untuk mereka yang sudah mabuk berat dan tidak bisa lagi pulang.
Sekarang Rifal paham, mengapa Nando lari kesini.
Rifal sudah sampai di depan kamar nomor 11. Dia langsung membuka pintu tersebut karna kebetulan kamarnya tidak terkunci.
Rifal menyalakan lampu, sehingga dia melihat tubuh Nando yang sedang tengkurap diatas tempat tidur.
Bau alkohol pada diri Nando membuat Rifal bernafas berat. Mungkin karna sudah lama tidak minum dia seperti sangat anti dengan bau alkohol saat ini.
''Lea.''
''Ck!'' Rifal langsung berdecak saat mendengar Nando menyebut nama Lea dengan suara kecilnya.
Pria itu benar-benar mabuk berat!
Rifal langsung membalikkan tubuh Nando. Membuat Rifal meringis. Nando tidak mempunyai keluarga lagi jika bukan dia yang mencari Nando, siapa yang akan mencari pria itu lagi?
Makanya Rifal menyuruh Nando untuk menikah, supaya ada yang mengurus dirinya dan membuat keturunan.
''Nggak mungkin juga kalau gue bopong sendiri tubuh Nando keluar,'' guman Rifal seraya mengeluarkan ponselnya menyuruh wanita yang dia temui tadi untuk menyuruh satpam naik ke sini untuk membantunya membopong tubuh Nando turun dari sini.
Sekitar lima menit, satpam datang dan langsung membantu Rifal membopong tubuh Nando.
Mereka menuruni tangan dengan hati-hati, apa lagi tubuh Nando yang lunglai membuat mereka hampir kehilangan keseimbangan.
''Lea...''
Rifal berdecak kesal. ''Gue Rifal sama satpam, bukan Lea. Berhenti menghayal mendapatkan Lea, lo udah kalah gercep sama dokter Nathan. Tapi gue Bersykur Nathan udah punya pasangan, supaya dia nggak berharap lagi sama istri gue.''
''Dasar bos gila!''
Rifal yang mendengar ucapan Nando ingin sekali membuang tubuh Nando saat ini, untung saja dia mengerti jika Nando saat ini sedang mabuk.
Satpam yang membantu Rifal tertawa kecil.
Mereka sudah berhasil keluar club, ‘’tunggu saya di sini, saya mau ambil mobil dulu.'' Sopir itu mengangguk masih memegang tubuh Nando.
Satpam itu langsung membawa Nando masuk kedalam mobil Rifal, saat mobil Rifal sudah di depan.
Rifal memberikan lima lembar uang merah kepada pak satpam itu.
''Terimakasih.''
__ADS_1
Rifal hanya menganguk lalu berlalu pergi meninggalkan club, sudah dua jam dia pergi meninggalkan anak dan istirnya karna Nando.