
Nando mendongakkan kepalanya melihat Rifal sedang menuruni anak tangga. Rifal berhenti di tengah anak tangga saat melihat Nando tengah tersenyum penuh makna kearahnya, dia memutar bola matanya malas.
“Itu Rifal sudah datang,” kata Aska. Dia sudah menyuruh pelayan tadi untuk membangunkan Rifal jika Nando ada dibawah.
“Ngusik tidur orang aja lo, Nan!” kesal Rifal seraya melempar bantal sofa ke wajah Nando. Tidurnya terganggu karna kedatangan pria itu.
Nando tertawa kecil.
“Rupanya bos saya ini sudah bisa melihat seisi dunia yah,” ejek Nando membuat Rifal menatap kesal Nando.
“Bdw, mata kamu sangat indah. Kamu mendapatkan mata siapa Fal?” Tanya Nando memperhatikan wajah Rifal semakin tampan dengan mata barunya.
“Sok bdw lo!”
Nando kembali tertawa.
“Gue dapat mata, Adel,” ucap Rifal membuat Nando terdiam. Dia tau, siapa itu Adelia. Saat tau mata itu dari Adelia dia tidak meneruskan perkataanya lagi.
Aska dan Rina sudah terlebih dahulu pergi untuk jalan-jalan di belakang taman rumah Rifal, yang sangat luas.
Ada beberapa pelayan dipekerjakan di rumah ini dan juga beberapa satpam.
“Buat apa lo kesini, Nan?” Tanya Rifal membuat Nando cenggengesan.
“Yang ngirimin saya semalam sms kamu kan, Fal?” Tanya Nando membuat Rifal menganguk paham sekarang. Jika tujuan Nando datang kesini bukan hanya ingin mengecek kondisinya tapi juga ingin memastikan bonus itu.
“Yah, terus?”
“Kamu beneran naiki gaji saya kan Fal, bulan ini. Jadi tiga kali lipat,” kata Nando membuat Rifal diam sejenak pura-pura berpikir.
“Pesan kamu nggak bisa di tarik lagi, Fal. Kamu punya banyak uang, yang handel segala pekerjaan kamu selama sakit kan saya, Fal. Masa kamu tega batalin bonus saya di bulan ini.”
“Oh….Ngungkit yah,” ucap Rifal mengedelipkan matanya kearah Nando.
Nando menggelengkan kepalnya. “Untuk bulan ini, gaji lo naik tiga kali lipat,” kata Rifal dengan santai membuat Nando tersenyum bahagia.
“Seterusnya juga tidak apa-apa,” Sosor Nando membuat Rifal menatapnya dengan kesal.
“Lo pikir gaji normal lo itu nggak mahal, Nan? Gaji lo kerja sama gue bisa bikin lo nafkahin 500 anak,” seloroh Rifal.
“Cukup saya nafkahin Lea dulu, heheh,” ucapnya seraya tertawa.
“Emangnya lo dengan Lea udah baikan?” Tanya Rifal dengan tersenyum miris membuat Nando tersenyum kecut.
“Jangan jadi pedofil deh, Nan,” kata Rifal membuat Nando mengerucutkan bibirnya, “tetangga saya itu seleranya bukan om-om,” lanjutnya.
__ADS_1
“Selera Lea memang bukan saya, tapi sosok dokter,” kata Nando dengan lesuh.
“Lo sendiri yang bilang, bukan gue,” senyum Rifal melihat wajah Nando yang menjadi masam saat ini.
Menurut Rifal, sepertinya Nando masih belum berbaikan dengan Lea tetangganya.
Tidak biasanya Nando harus kepikiran perempuan, apa lagi sosok gadis yang usinya masih belasan tahun itu.
Biasanya, jika kekasihnya marah kepadanya dia akan masa bodoh dan tidak akan memikirkannya hingga larut malam.
Namun, mengenal Lea membuatnya seperti bukan dirinya sendiri. Dia memikirkan Lea, seakan-akan Lea adalah kekasihnya padahal dia tidak mempunyai hubungan apapun. Apa lagi mereka baru saja kenal saat acara romantis Rifal dan Valen saat itu.
Rifal yang memperhatikan raut wajah Nando yang lesuh menjadi kasihan dengan pria itu.
“Muka lo kenapa? Kayak kambing mau di sembelih aja,” seloroh Rifal membuat Nando menatapnya dengan kesal.
“Saya mau ketemu sama Lea, Fal. Tapi akhir-akhir ini saya lihatnya dia sibuk banget,” keluh Nando dan dibalas anggukan setuju oleh Rifal.
Meski baru melihat kembali, Rifal bisa merasakan jika akhir-akhir ini Lea memang sedikit sibuk entah karna apa.
“Baru kali ini gue lihat tetangga gue sibuk,” ujar Rifal membuat Nando mengerucutkan bibirnya.
“Sepertinya ini karma.”
“Ck, baru nyadar lo!” papar Rifal dan dibalas anggukan polos oleh Nando.
“Sepertinya ini benar-benar karma.”
“Itu doa mantan yang tersakiti,” terang Rifal membuat Nando menghembuskan nafas berat.
****
Valen bangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya dan tidak melihat Rifal di sampingnya.
“Kemana Rifal?” tanyanya seraya turun dari tempat tidur.
Diliriknya jam di dinding sudah pukul sepuluh pagi. Dia masuk kedalam kamar mandi lalu mencuci wajahnya dengan pencuci wajah.
Lepas itu, Valen mengambil jedainya tanpa melihat dirinya di cermin karna ingin segera mencari Rifal. Dia menjedai rambutnya dengan asal-asalan lalu pergi dari kamarnya.
Valen menuruni anak tangga, dan melihat suaminya tengah bercengkerama dengan Nando pagi-pagi begini.
Rifal yang mendengar suara kaki menuruni tangga langsung melihat kearah asal suara, begitupun dengan Nando.
Dia melihat istrinya menggunakan jedai, sehingga rambutnya sedikiti berantakan serta lehernya yang putih bersih terekspos.
__ADS_1
“Fal, kamu nggak bangunin aku sih!” kesal Valen setelah menghampiri Rifal dengan kesal.
“Busettttt!” kaget Nando melihat Valen dengan kondisi yang menurutnya sangat tidak baik-baik saja.
Rifal melotokan matanya kearah Nando, agar Nando tidak memperhatikan istrinya itu.
“Kasian banget nasib kamu, Va. Habis diterkam monyet,” kata Nando dengan tersenyum penuh arti membuat Nando kembali melayangkan bantal sofa kepada Nando.
“Jaga mata lo, Nan!” kesal Rifal.
“Heheheh!”
Valen yang tidak mengerti dengan perkataan Nando hanya mengerinyatkan alisnya bingung.
“Aku nggak paham dengan apa yang kamu bilang, Nan,” jelas Valen.
“It-“
Belum sempat Nando menyelesaikan perktaanya Rifal terlebih dahulu memotongnya. “Nando kan memang aneh,” ucap Rifal agar Nando tidak meneruskan perktaanya yang membuat Valen akan marah kepadanya.
Nando memutar bola matanya malas.
“Jangan macam-macam, kalau nggak….gaji lo bakalan gue potong,” ancam Rifal menatap tajam asistennya itu.
“Kalau kamu potong, nggak ada yang kasi jajan Lea nantinya. Uang untuk lamar Lea bakalan kurang karna gaji saya kamu potong,” balas Nando dengan menekan setiap perktaanya.
“Ck!”
“Emangnya Lea suka sama kamu, Nan?” Valen memberikan pernyataan kepada Nando dengan tersenyum mengejek.
Rifal juga ikutan tersenyum mengejek mendengar perktaanya istrinya.
“Oiya Fal, Mommy sama Daddy mana?” Tanya Valen.
“Mereka lagi ditaman.”
“Yaudah, aku susul mereka dulu,” pamit Valen.
“Makan dulu, Va. Kamu belum sarapan, kasian Rifal junior di perut kamu akan lapar kalau mamanya tidak makan,” kata Rifal tersenyum manis kepada istrinya sebelum Valen pergi.
“Bucin!”
Sahut Nando.
“Gue tau, lo iri. Makanya jangan main-main sama wanita. Sekali-kali kamu serius sama perempuan lalu nikahi dan hidup bahagia dan di karunia anak,” songong Rifal.
__ADS_1
“Kita hanya beda satu tahun aja, Nan. Saatnya lo serius sama perempuan dan membuat keturunan. Lo mau menua seorang diri tanpa anak dan istri?”
Nando langsung menggelengkan kepalnya. Membuat Valen menahan tawa.