Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Apa ini?


__ADS_3

Lea memasuki cafe yang sekarang sedang ada Daniel dan juga Nando sedang bercerita, percakapan mereka berdua terus saja nyambung, mengalir bagai alir.


Sudah lima menit yang lalu Daniel dan juga Nando telah usai sarapan, Daniel melirik jam di pergelangan tanganya. Dia ingin segera pulang untuk mengerjakan sesuatu. Meski dia di liburkan hari ini, Daniel tetap ingin bekerja di rumah.


“Saya pamit duluan, ada yang ingin saya kerjakan,” pamit Daniel kepada Nando.


“Hati-hati,” mereka berdua bersalaman sebelum Danile benar-benar pergi.


Daniel berjalan meninggalkan tempat duduknya dan tidak sengaja melihat Lea sedang duduk di tempat paling pojok bersama dengan laptop dan juga buku-bukunya.


Daniel berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan langkah kakinya, hanya Daniel yang melihat Lea sedangkan Lea tidak melihat Daniel karna dia sedang fokus pada layar laptopnya.


Sementara Nando masih saja stay di cafe, karna nomor Rifal belum juga aktif. Mata Nando melirik kesana kemari hingga dia melihat sosok gadis yang baru saja dia bayangkan.


“Lea,” menolog Nando memperhatikan Lea sedang sibuk dengan layar laptopnya. Sepertinya gadis itu sedang sibuk mengerjakan tugas.


Nando beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Lea yang sedang duduk di tempat paling pojok.


“Hai bocah ingusan,” sapa Nando dengan meledak Lea.


Lea mendongakkan kepalanya melihat sosok pria berbadan tegak sedang melihat dirinya, tanpa di persilahkan Nando langsung duduk di depan Lea.


“Kak Nando ngapain Disini?” Tanya Lea kepada Nando.


“Sarapan,” jawab Nando.


“Jauh banget sarapannya.”


Lea kembali fokus pada layar laptopnya, sementara Nando menaikkan tanganya ke atas meja lalu menumpuhkan tanganya ke atas dagu sembari memperhatikan Lea.


Sudut bibir Nando tertarik keatas berbentuk senyuman memperhatikan Lea, melihat Lea sibuk seperti ini membuat gadis 19 tahun itu seperti wanita karir.


“Kamu nggak pesan makanan? Atau minuman?” Tanya Nando karna Lea belum juga memesan sesuatu.


Lea berhenti mengetik lalu cengengesan kearah Nando, seperti gadis yang sedang kerasukan hantu saja.

__ADS_1


“Lea nggak punya duit,” tawanya dengan renyah. “Lea dapat hukuman dari Mamah, sehingga Lea nggak di kasi uang jajan,” lanjutnya membuat Nando tersenyum miris dengan kejujuran gadis di hadapannya ini.


“Kalau kamu nggak punya duit, ngapain kamu kesini?” Tanya Nando, bisa-bisanya Lea tidak membawa uang sementara dia berada di cafe ini.


“Kerja tugas,” jawabnya dengan cepat, apa yang dia katakan memanglah benar, jika dia mengerjakan tugas dari salah satu dosen.


“Apa hubungannya tugas kamu kerja di cafe?”


“Karna WIFI. Sinyal handpone Lea nggak sebagus WIFI di sini, jadi kerja tugasnya bisa lancar tanpa hambatan sinyal jelek,” jawabnya kepada Nando membuat Nando terdiam.


Dia tau, jika Lea hanya perempuan biasa saja, tidak seperti perempuan yang biasa dia temui sudah matang dan mempunyai pekerjaan tersendiri.


“Kamu pesan makanannya, biar saya yang bayar,” kata Nando sembari memanggil pelayan cafe untuk membawa menu yang ada di cafe ini.


“Nggak sekalian minumanya? Entar Lea keselek loh kalau cuman makanannya doang,” kata Lea tanpa beban membuat Nando memutar bola matanya malas kearah Lea.


“Maksud saya termasuk sama minumanya, mana tega saya lihat kamu makan tanpa minum,” kata Nando membuat Lea tertawa renyah.


Lea sudah memesan menu makanan dan juga minuman, tak tanggung-tanggung gadis itu memanfaatkan Nando, buktinya saja dia memesan banyak makanan dan tiga minuman yang berbeda rasa.


Pelayan yang tadi membawakan Nando makanan kini kembali lagi datang membawa pesanan milik Lea, di tempat yang berbeda. Pelayan tersebut tebar pesona pada Nando namun nyatanya Nando tidak menggubris karna asik berbicara dengan Lea.


Sehingga pelayan tersebut cemberut, karna Nando tadiny tersenyum manis kepadanya, sekarang tidak lagi. Dia saja tidak tau bagaimana sikap Nando kepada wanita.


“Makan dulu,” kata Nando dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


“Kak Nando nggak makan?”


“Saya udah makan tadi, baru aja selesai.”


“Makan sama siapa?” Tanya Lea.


“Teman bisnis,” jawabnya dan dibalas anggukan kepala oleh Lea lalu kemudian gadis itu makan.


Dia juga tidak menyangka jika dia memesan makanan sebanyak ini, dia tidak perlu khawatir karna Nando kan banyak uang.

__ADS_1


***


Kini Rifal telah sampai di ruangan yang telah di sampaikan untuk dia datangi, sebelum membuka pintu ruangan di depannya, terlebih dahulu dia merapalkan doa agar sesuatu yang buruk tidak terjadi kepada Valen.


Sementara Valen sedari tadi berdiri di dekat kursi sembari menunggu kedatangan seseorang.


Tangan Rifal bergerak membuka pintu dihadapinya.


Ceklek


Pintu ruangan dibuka, sehingga seluruh pasang mata di dalam ruangan melihat kearah Rifal yang membuka pintu mengenakan baju formal, menandakan jika pria itu dari kantornya.


Sementar Valen langsung membeku di tempatnya saat mata milik Rifal bertemu dengan mata indah miliknya.


“Valen,” menolog Rifal lalu menghampiri Valen. Valen bisa melihat raut wajah khawatir di wajah tampan milik suaminya itu.


Sementar dokter Nathan dan juga Kiki masih memperhatikan Valen dan juga Rifal.


“Sayang, kamu nggak kenapa-napa kan?” Tanya Rifal dengan khawatir membuat Valen menggelengkan kepalanya.


Rifal bernafas legah, dia pikir Valen sedang tidak baik-baik saja, karna wanita itu sendri berbicara kepadanya jika dia sedang tidak baik-baik dan menyuruh dirinya untuk datang keruangan ini. Karna Valen tadi berbicara padanya jika dia membutuhkan dirinya untuk segara datang kesini sehingga dia langsung tancap gas kesini sehingga dia hampir anak kecil.


“Aku pikir kam-“


Perkataan Rifal langsung di potong oleh Valen. “Aku nggak kenapa-napa, dia yang butuh kamu,” kata Valen menunjuk kearah bansal yang diatasanya sudah berbaring seorang gadis lumpuh bernama Adel.


Rifal langsung melihat kearah yang di tunjuk oleh Valen, diatas bansal sudah ada Adelia yang sudah bergelimang air mata. Bagaiamana tidak? Jika dia melihat dari pertama kali Rifal masuk ke dalam ruangan ini, dia melihat Rifal dengan raut wajah khawatir menghampiri Valen.


Apakah masih ada sisa untuknya untuk mendapatkan cintanya Rifal kembali? Dengan jelas dia sudah melihat cinta di mata Rifal untuk Valen.


Adelia menggenggam dengan erat selimut yang dia pakai dengan air matanya semakin deras, di kala matanya bertatapan dengan Rifal dengan kondisinya yang jauh dengan kata normal.


Kemana Rifal beberapa hari ini? Sehingga dia tidak datang menjenguknya sehingga dia meminta tolong kepada Valen untuk mendatangkan Rifal sebelum dia menjalankan pengobatannya.


Dia ingin menjalankan pengobatannya dengan orang yang dia sayang berada di dekatnya, termasuk Rifal.

__ADS_1


Rifal dapat melihat Adelia sedang menahan rasa sakit saat dia menatapnya.


__ADS_2