Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kianna


__ADS_3

Rifal menutup hidungnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya menutup pintu mobil.


''Kenapa tempat ini bau sampah!'' keluh Rifal.


Meski sudah menutup hidungnya menggunakan tangan, tetap saja bau tak sedap itu masuk kedalam indra peciumanya membuat Rifal ingin muntah detik ini juga.


Andai saja dia tau tempatnya seperti ini, dia akan singgah untuk membeli masker.


Rifal melihat sekelilingnya, banyak ikan di jemur di tengah teriknya matahari membuat Rifal meraup wajahnya kasar.


Pantas saja bau, ternyata tempat yang dia datangi rumah seorang nelayan. Banyak rumah kayu di depanya mereka menjemur ikan membuat Rifal tidak habis pikir, bagaiamana cara mereka bernafas dengan tempat seperti ini.


Pak Yadi keluar lalu melambaikan tanganya kepada Rifal untuk menyuruhnya masuk. Rifal mengangguk pelan dengan melepaskan tanganya yang menutup hidungnya, takut jika pak Yadi akan tersinggung dengan apa yang ia lakukan.


Rifal memasuki rumah kayu tersebut, didalam rumah pak Yadi terdapat kursi kayu.


Pak Yadi langsung mempersilahkan Rifal untuk duduk, sementara dia tengah berganti pakaian. Bau ikan kering diluar sana tidak sebai saat Rifal di luar.


Meski sudah didalam rumah, dia tetap merasakan bau tak sesap itu. Wajar saja, ini pertama kalinya dia kesini dan melihat ikan kering di jemur di depan rumah mereka.


Rifal menggelengkan kepalanya tak habis pikir. ''Apa mereka tidak terganggu sama sekali?'' gumanya pada dirinya sendiri.


Rupanya, gang yang Rifal masuki itu merupakan warga para nelayan. Jadi pantas saja jika di sini baunya ikan kering dan bau amis.


Pak Yadi sudah siap, dan langsung mengajak Rifal untuk segera pergi. Pak Yadi duduk di belakang membuat Rifal menarik nafasnya dalam.


โ€œDia pikir gue supirnya?โ€


Tidak ingin membuang waktu, Rifal memutar mobilnya meninggalkan rumah kayu sederhana pak Yadi.


Rifal sengaja menutup pintu mobil, karna bau ikan kering dari luar akan masuk kedalam mobilnya.


Namun dengan santainya pak Yadi dari belakang membuka kaca mobilnya lalu melambai tangan kepada tetangganya yang sedang mengangkat ikan kering mereka.


Sehingga bau tak sedap itu kembali tercium di hidung Rifal, membuatnya ingin muntah.


Rifal mengunci kaca jendela mobil membuat pak Yadi heran, tapi bapak itu tidak bertanya. Rifal membuka Dashboard lalu mengambil pewangi meletakkan diatasnya.


Sedikit legah!


''Apa rumah pak Yadi jalannya seperti ini?Apa di sana juga banyak orang-orang jemur ikan?'' tanya Rifal.

__ADS_1


Jika jawaban pak Yadi Iya, maka Rifal akan lebih dulu singgah di tokoh untuk membeli masker agar kejadian ini tidak terulang lagi.


''Tidak!'' jawabnya dengan cepat membuat Rifal menganggukkan kepalanya.


Mobil Rifal sudah berjalan di jalan raya, dia akan kerumah kakek Halan sesuai intruksi jalan yang diarahkan oleh pak Yadi, yang duduk di belakangnya.


Tidak seburuk yang Rifal pikirkan, rupanya rumah kakek Halan punggu jajan, pekarangan rumahnya di penuhi denga bunga-bunga.


Rifal menarik nafasnya dalam, lalu keluar dari mobil.


Tok


Tok


Tok


Pak Yadi mengetuk pintu rumah kakek Halan.


Ceklek.


Muncullah sosok nenek yang sudah berambut putih, keriput di wajahnya terlihat jelas.


Rifal bisa menebak jika nenek itu adalah istri kakek Halan. Rifal tersenyum karna nenek tua itu menggendong anak kecil yang kemarin Rifal lihat.


Anak itu tertawa ruang melihat Rifal, membuat Rifal bahagia melihat anak kecil tertawa kepadanya. Dia merasakan turur bahagia.


''Kakek Halan mana?'' tanya pak Yadi.


''Dia belum pulang dari tangkap ikan, memangnya kenapa?'' tanya nenek itu dengan suara kecilnya karna usianya yang sudah tua.


''Ada yang ingin memborong ikan kakek Halan,'' ucap Yadi menujuk Rifal.


Rifal tersenyum kearah nenek tua itu.


''Silahkan masuk.'' Nenek mempersilakan mereka untuk masuk.


''Dia saja nek, saya ada urusan sebentar,'' pamit pak Yadi.


''Mari saya antar,'' tawar Rifal karna sudah tidak enak diantar oleh pak Yadi.


''Tidak usah, saya ingin kerumah saudara saya dulu. Dekat dari sini,'' ucap Yadi lalu melenggang pergi meninggalkan Rifal.

__ADS_1


Rifal membuka sepatunya lalu masuk kedalam, dia duduk di kursi plastik.


''Biar saya ambilkan, minum,'' pamit nenek itu ingin melenggang pergi.


''Nek,'' panggil Rifal.


''Biar cucunya saya gendong, takut jika nenek membuat minum dia akan banyak gerak.'' Nenek itu sempat ragu memberikan Kianna pada Rifal karna dia tidak mengenal pria itu.


Namun karna tatapan mata Rifal kepada Kianna membuat nenek itu berani memberikan Kianna kepada Rifal lalu dia masuk kedalam dapur untuk membuat minun untuk Rifal.


''Anak yang menggemaskan!'' Rifal menoel hidung Kianna. ''Hei anak kecil, mengapa hidung kita hampir sama, saat saya masih kecil.''


''Kau sangat menggemaskan! Wajah mu sangat mirip orang yang saya cintai!''


Rifal memeluk anak itu dengan sangat bahagia, Rifal terkekeh geli. ''Jadi begini ya, rasanya jika punya anak.''


Rifal memberikan berbagai macam ekspresi wajahnya kepada Kianna, membuat anak kecil itu tertawa riang hingga suaranya masuk kedalam dapur dan terdengar oleh sang nenek.


Rifal seperti orang bodoh dan konyol kepada Kianna. Dia seperti merasakan seperti seorang ayah saat bermain dengan Kianna.


''Kau sangat lucu, andai saja anak ku itu ada, saya yakin dia sudah sebesar kamu,'' gumam Rifal berusaha menahan air matanya agar tidak turun membasuhi pipihnya.


Matanya memanas, namun dia berusaha menahan agar air matanya tidak turun di saat seperti ini.


Nenek dari arah dapur datang membawa teh untuk Rifal, dan meletakkan diatas meja.


''Sepertinya kamu menyukai anak kecil,'' ucap anak itu dan hanya dibalas senyuman tipis oleh Rifal.


''Boleh saya menciumnya?'' tanya Rifal membuat nenek itu mengangguk mengiyakan ucapan Rifal.


Rifal langsung mencium Kianna dengan sangat tulus dan penuh kasih sayang. Air mata yang sedari tadi dia tahan langsung turun di pipihnya.


Mengapa melihat Kianna membuat Rifal merasakan kehadiran Valen di anak dalam gendonganya saat ini.


Dia bukan anak mu Fal, dia anak orang lain! Jangan sampai lo nyulik anak ini!


Rifal tentunya tertawa dengan pikiran bodohnya karna melihat Kianna membuat Rifal merasakan kelegahan saat melihat dan menatap Kianna.


Melihat anak secantik dan semenggemaskan Kianna, membuat Rifal penasaran dengan wajah ibunya sendiri.


''Kalau boleh saya tau, ibu Kianna kemana?'' tanya Rifal dengan canggung. ''Maksud saya bertanya karna saya sudah dua hari melihat anak ini di urus oleh kakek dan neneknya. Padahal, usia anak seperti Kianna, masih membutuhkan ASI.''

__ADS_1


Nenek itu tersenyum kearah Rifal, dai salut dengan cara berpikir Rifal. ''Ibu Kianna sedang keluar sebentar untuk membeli kebutuhan Kianna. Tidak lama lagi dia akan kembali,'' ujar sang nenek dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


__ADS_2