
Rifal langsung menggeser kursi untuk Valen, lilin di tengah meja membuat suasana semakin romantis malam ini.
Pelayan datang membawa berbagai makanan untuk mereka berdua. Dengan hormat pelayan tersebut langsung menghidangkan makanan di meja mereka.
“Selamat menikmati,” kata pelayan tersebut.
Rifal hanya menganguk kecil sementara Valen mengucapkan Terimaksih kepada pelayan tersebut.
“Terimaksih,” kata Valen dengan senyuman.
“Sama-sama,” balas pelayan tersebut lalu pamit undur diri meninggalkan meja mereka.
Valen mulai mengambilkan makanan lalu ingin menyuap Rifal. Rifal melihat sendok di hadapnya yang berisi makanan masih bergelantungan di udara karna dia belum membuka mulutnya.
Dia menatap mata Valen. “Apa kamu lupa jika aku sudah melihat?” Ejek Rifal membuat Valen menarik sudut bibirnya berbentu senyuman.
“Apa kamu tidak tau, jika mau romantis tidak selamanya harus dengan orang buta,” balas Valen membuat Rifal terkekeh.
Dia pikir wanita cantik di hadapnya lupa. Karna sudah satu bulan ini Valen menyuapinya makanan. Apa-apa di lakukan oleh Valen, menggantikan pakaiannya, memakaikan dirinya baju dan satu lagi, Valen juga memandikan Rifal selama pria itu buta.
Rifal langsung memakan makanan yang di berikan Valen.
Rifal tak ingin kalah, dia juga menyuap Valen. “Lepaskan sendoknya, biarkan aku yang menyuap mu makanan,” kata Rifal mengambil makanan untuk di suapkan kepada Valen.
“Jadi ceritanya kamu ingin balas budi? Apa begitu?” balas Valen.
“Menurut kamu gimana?” tantang balik Rifal.
“Bagus, kalau kamu ingin balas budi atas apa yang aku buat untuk kamu selama kamu tidak melihat,” kata Valen dengan santai membuat Rifal tersenyum dengan penuh arti.
“Karna selama aku buta kamu menyuapi ku makanan, maka aku akan menyuapi mu juga makanan,” kata Rifal dengan tersenyum jenaka kearah Valen, membuat Valen juga tersenyum dengan senyuman yang di berikan Rifal. Bukan senyum tulus yang di perlihatkan Valen, melainkan senyum was-was karna melihat senyuman jenaka dari Rifal. “Dan aku juga akan melepaskan pakaian mu dan memakaikan mu pakaian. Da terutama adalah….Memandikan mu.” Lanjutnya masih dengan senyuaman jenaka kearah Valen.
Jleb!
Sudah Valen duga, jika senyuman yang di tampilkan Rifal tadi menyuruhnya untuk wah-was.
“Tidak perlu,” bantah Valen dengan cepat.
“Kenapa sayang? Bukanya hidup ini harus saling balas budi,” kata Rifal sembari menyuapi Valen makanan.
__ADS_1
Valen mengunyah makananya dengan masam, perkataan Rifal sukses menbuatnya tersudut kan.
“Makan yang banyak,” ucap Rifal lalu makan juga.
“Fal,” panggil Valen.
“Kenapa sayang?”
“Kamu tambah tampan, di tambah mata kamu sangat indah membuat mu semakin tampan,” kata Valen sembari tersenyum hangat kearah Rifal.
Dia tidak bohong, dia baru memperhatikan jika mata Adelia sangat indah di berikan kepada Rifal.
Rifal tersenyum. “Mata Adel memang cantik,” jujur Rifal. “Apa kamu tau, saat SMA aku berpacaran denganya karna jatuh cinta pada matanya,” lanjutnya membuat Valen menganguk kecil.
“Dan sekarang mata itu dia berikan padaku,” lanjutnya dengan tersenyum miris.
“Mata Adel jangan di persalah gunakan, awas aja kamu kedipin mata kamu di depan para wanita. Aku akan mencincang mu,” ancam Valen dengan nada bercanda membuat Rifal terkekeh.
“Kamu tenang saja, karna kamu telah berhasil memikat seluruh cintaku padamu,” gombal Rifal membuat pipih Valen merona dengan gombalan Rifal.
“Pipih mu merah, kamu jangan sampai lupa kalau aku sudah bisa melihat, jadi aku bisa melihat kalau kamu sedang salah tingkah,” ucap Rifal lagi membuat pipih Valen semakin merah merona.
“Makan, Fal. Jangan gombal mulu,” kata Valen melanjutkan makanya. Jika dia meladeni Rifal bisa-bisa pipihnya semakin memerah seperti memakan cabe sepuluh kilo.
Valen sudah menikah dengan Rifal sejak SMA, namun dia tetap malu dan salah tingkah jika Rifal menggombalinya.
Mereka berdua telah usai makan, tinggal menunggu menu penutupnya berupa cake. Pelayan datang membawa cake dan juga buah-buahan.
Rifal memakan cake, sementara Valen hanya memakan buah berupa apel.
Rifal memanggil pelayan untuk memberikan bill. Setelah di lihat total makananya hampir dua juta dia langsung mengeluarkan atm miliknya. Karna uang cas di dompetnya tidak cukup jadi dia membayarnya dengan kartu.
“Kita pulang,” ajak Rifal setelah mereka telah slesai makan dan membayar makannya.
“Ayok,” kata Valen berdiri dari kursi yang dia duduki lalu menggandeng tangan Rifal keluar dari restoran.
Hujan sudah tidak sederas tadi. Rifal mengambil payung yang dia titipkan pada satpam tadi.
“Terimaksih pak,” kata satpam itu saat Rifal memberikanya uang dua ratus ribu.
__ADS_1
“Sama-sama,” balas Rifal.
Mereka berdua langsung berjalan ke mobil, terlebih dahulu Rifal membukakan Valen pintu. Rifal langsung menyimpan payung tersebut di tempatnya.
Rifal menyalakan mesin mobilnya untuk segera kembali kerumah. “Apa makananya enak?” Tanya Rifal tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.
“Enak,” jawab Valen.
Rifal tersenyum . “Ada yang lebih enak,” kata Rifal.
“Apa?” Tanya Valen penasaran sehingga Rifal melirik Valen.
“Saat kita di kamar, pasti jauh lebih enak,” kata Rifal membuat Valen langsung melototkan matanya kearah Rifal.
“Baru juga bisa ngelihat, udah mau aneh-aneh!” kesal Valen, wajahnya nampak kesal namun tidak dengan hatinya.
“Bukan aneh-aneh. Tapi….Enak-Enak,” kata Rifal dengan santai membuat Valen langsung memukul lengan Rifal.
“Hehehe, aku tau kamu juga merindukanya.”
“Nggak!”
“Bohong kamu,” kata Rifal yang tidak di balas lagi oleh Valen.
Jika dia membalasnya, selalu saja dia di sudutkan dengan perkataan pria itu. Hujan kembali deras membuat Valen kembali mengingat Adelia yang sudah pergi untuk selamanya dan menitipkan matanya untuk suaminya.
Valen tau, jika Adelia memberikan matanya untuk Rifal sebagai bukti cintanya kepada Rifal. Valen melirik Rifal yang tengah fokus menyetir di tengah derasnya hujan.
“Aku beruntung milikin kamu, Fal.”
Tiba-tiba saja Valen berkata seperti itu sekian menit terdiam. Valen pikir, dengan kepergian Adelia membuat Rifal menyesal, tersiksa dan tidak bisa melupakan Adelia sehingga dirinya tercampakkan.
Namun dia salah, karna Rifal masih seperti dulu, Rifal yang jahil, Rifal yang berbicara fulgar dan Rifal yang bersikap romantis yang mampu membuat pipihnya merah merona.
Rifal mengusap rambut Valen, dia tau apa yang di pikirkan Valen tentang dirinya.
“Aku nggak bakalan mudah berpaling. Cintaku sudah sepenuhnya untuk kamu. Rasa cintaku dan sayang ku semakin besar saat kamu mulai mengandung anak aku, kamu sudah sempurna untuk aku, Va,” jujur Rifa menbuat Valen memeluk tangan Rifal.
Mobil milik Rifal telah memasuki pekarangan rumah, karna telah sampai.
__ADS_1
“Udah sampai,” kata Rifal.
“Cepat banget,” ucap Valen padahal dia masih menikmati memeluk tangan Rifal dan ternyata sudah sampai.