Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Pertemuan


__ADS_3

“Kayla,” gumam Rara melihat ternyata itu adalah suara Kayla, yang nampak serak.


Sepertinya wanita dua anak itu sudah menangis saat ke kamar mandi.


“Eza nyuruh gue temenin lo di sini, Ra,” kata Kayla berusah sebaik mungkin. “Dan ternyata ada Rifal juga di sini,” lanjut dengan tawa kecil, namun matanya tidak bisa berbohong.


Rifal tersenyum sangat tipis. “Bagaimana caramu menyembunyikan luka, Kay.”


Diam.


Perkataan Rifal sukses membuat Kayla terdiam, perlahan-lahan tawanya memudar dengan apa yang dikatakan oleh Rifal tadi.


“Gue tau, lo berusaha nyembunyiin luka lo itu. Tapi mata dan pikiran lo 'tidak bisa nyembunyiin semuanya,” seloroh Rifal membuat Rara dan Valen terdiam.


Kayla melirik Rara, sehingga Rara dan Kayla bertatapan, “apa Rifal udah tau?”


Rara mengangguk, “iya.”


“Hal besar apapun yang kalian sembunyikan bakalan terbongkar dengan sendirinya,” dingin Rifal.


“Kita punya niat buat kasi tau ke lo, Fal. Cuman waktu itu kita nunggu waktu yang tepat karna kondisi lo juga nggak memungkinkan,” jelas Kayla. Saat itu mereka ingin menberitahukan Rifal soal ini namun Elga mencegahnya agar Rifal tidak kepikiran.


“Ini semua atas permintaan, bang Elga,” sambung Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Kayla.


“Tapi nggak gini juga caranya, Rifal udah di dalam penjara berbulan-bulan lamanya baru sekarang kalian beritahukan ke gue,” pungkas Rifal.


“Rara yang salah,” ucap Rara.


“Bilang sama gue, Elga di tahan di mana?” Tanya Rifal lalu beranjak dari kursinya untuk segera pergi dari tempat membosankan ini.


Lepas menjawab pertanyaan dari Rifal mengenai dimana saat ini Elga di tahan, Rifal langsung pergi begitu saja, tanpa berpamitan kepada kedua perempuan dihadapnya. Saking kesalnya dia dengan sikap mereka yang menyembunyikan hal besar ini kepadanya.


Sudah dua jam lebih Rina dan Valen berbelanja kebutuhan untuk calon anak Valen. Sekarang mereka berada di depan kasir untuk menjumlah total belanjaan mereka saat ini.


“Total semuanya, empat puluh lima juta bu,” ucap kasir itu seraya memberikan kutansinya belanjanya kepada Rina.


“Terimaksih,” ucap Rina dan Valen kepada kasir itu.


“Sama-sama, bu.”


“Telfon suami kamu, Len. Buat bantu satpam bawa belanjaan ke mobil,” perintah Rina kepada Valen.

__ADS_1


“Baik, Mom,” kata Valen seraya mengaktifkan kembali ponselnya setelah beberapa jam menonaktifkan ponselnya karna tidak ingin di hubungi oleh Rifal.


“Benar-benar sih, Rifal. Dia nggak ngikutin kita untuk belanja kebutuhan anaknya sendiri,” kata Rina seraya menggelengkan kepalanya.


Dia baru sadar saat di depan kasir, jika Rifal tidak ada di sampingnya sepanjang mereka berbelanja.


Drt….


Ponsel milik Rifal bergetar, dia melihat siapa yang menelfonya.


“Halo, Len,” sapa Rifal di seberang Telfon sembari fokus membawa mobil untuk mengunjungi Elga setelah sekian lamanya dia tidak bertemu dengan Elga, karna dia pikir Elga benar-benar keluar negeri mengurus bisnisnya yang telah disita oleh Kevin.


Namun ternyata dia salah, karna saat ini sahabtanya tengah mengalami masalah yang besar sampai-sampai di dekam didalam penjara.


Dan baru sekarang dia mengetahuinya, andai saja dia tidak ke Mall mungkin saja sampai Sekarang dia belum tau soal ini.


“Kamu dimana?” Tanya Valen dengan tidak sabaran, “aku sama Mommy udah mau pulang,” intinya.


Rifal menepuk jidatnya, dia sampai lupa Mommy dan juga Valen yang masih berada di Mall.


“Kamu tunggu bentar di situ, aku Telfon supir buat jemput kamu sama Mommy,” kata Rifal.


“Kok supir sih, kan kamu ada di sini,” kesal Valen. Ingin rasanya memaki maki Rifal saat ini namun sekarang bukan waktu yang tepat karna ada Rina.


“Aku matiin telfonya dulu, aku lagi dijalan.”


“Dah, Valen. Love you sayang.”


“Fal..”


Panggil Valen di seberang Telfon namun Rifal sudah memutuskan sambungan telfonya.


“Love you to deh,” lesuh Valen, dia tetap membalas ucapan manis suaminya meskipun dia sedang marah kepada Rifal.


“Kenapa?” Tanya Rina.


“Rifal punya urusan mendadak, mungkin aja urusan kantor. Dia udah nyuruh supir buat jemput kita,” kata Valen.


“Sambil tunggu supir, kita makan dulu,” ajak Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


__ADS_1


Sementara Frezan hanya duduk saja sembari memainkan ponselnya karna sedang berkomunikasi dengan seseorang. Sekali-kali dia melirik anak-anaknya yang bermain.


Mereka semua asik bermain, dan memilih mainan untuk mereka bawa pulang. Sepertinya mereka mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rara untuk membeli barang kesukaan mereka dengan sesuka hatinya Frezan yang akan membayarnya.


Huft


Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Frezan saat membaca pesan yang di kirim oleh dokter Zul, dokter yang menangani Daniel.


Dia tidak membalas pesan dari dokter Zul lagi, dia menyimpan ponselnya kedalam saku bajunya.


“Ayah,” panggil Tegar sehingga Frezan langsung melihat putranya yang datang membawa bola basket.


Sepertinya anaknya itu hoby bermain basket seperti kakeknya, yaitu Kevin.


“Kenapa?” Tanya Frezan dengan lembut kepada putranya.


“Apa ayah punya masalah?” Tanya Tegar, dia masih anak-anak namun sepertinya dia sudah peka dengan keadaan sekitarnya.


“Ayah baik-baik saja.”


“Dimana Farel?” Tanya Frezan yang tidak melihat Farel di sana lagi.


“Katanya dia mau beli skateboard,” kata Tegar membuat Frezan menyungkirkan senyuman tipisnya.


Ternyata adiknya itu akan mengikut jejaknya menyukai permainan skateboard, Frezan masih mengingat masa SMA di mana dia paling sering ke sekolah menggunakan skateboard ketimbang menggunakan motor dan mobil seperti murid lainya.


Dan mulai dari situ juga dia dekat dengan Rara, mengajarkan gadis itu bermain skateboard sampai lumayan pandai.


“Kenapa kamu nggak beli skateboard seperti Farel?” Tanya Frezan.


Tegar tersenyum, “Tegar lebih suka bermain basket,” ucap Tegar mengangkat bola basket nya.”ketimbang bermain skateboard,” lanjutnya membuat Frezan mengusap rambut anaknya itu.


“Ayah dukung kamu main basket. Siapa tau saja kamu jago bermain basket seperti ayah dulu,” bangga Frezan seraya tersneyum kecil.


“Dan Om muda kamu pandai bermain skateboard seperti ayah kamu ini,” lanjutnya membuat Tegar langsung memeluk Frezan.


“Hasya juga bakalan pandai main boneka sama Dyra,” kata Hasya tiba-tiba datang bersama dengan Dyra membawa boneka imut.


Frezan dan Tegar saling bertatapan lalu keduanya tertawa bersama-sama. “Mau ikutan peluk nggak?” tanya Frezan. Sikapnya berubah drastis jika dia bersama anak-anaknya dan juga istrinya.


“Mau!” jawab Hasya dan Dyra bersmaan lalu berpelukan dengan erat.

__ADS_1


Farel dari sana tersenyum melihat pemandangan indah di hadapnya, lalu matanya menangkap sosok Dyta yang main mesin capit.


Farel tertawa kecil, dia pikir Dyta juga ikutan bergabung berpelukan di sana namun ternyata dugaannya salah.


__ADS_2