
Frezan terkekeh membuat Rara semakin takut dengan tawa Frezan. ‘’Kenapa pergi nggak bilang-bilang?'' Tanya Frezan memegang dagu milik Rara begitu lembut.
''Kak Eza kan tau, kalau Rara jarang pegang hp,'' ucap Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.
''Jadi, pamit nggak penting karna kamu malas buka hp?''
Rara menggelengkan kepalanya.
''Terus apa?'' Tanya Frezan lagi.
''Rara buru-buru. Soalnya udah mau magrib, mana aku juga lapar,'' ucapnya seraya memegang perutnya.
‘’Masih lapar?''
''Udah kenyang kok,'' jawabnya seraya cenggengasan.
''Yang nyuruh kamu makan di pinggir jalan siapa?'' Tanya Frezan dengan berkacak pinggang menampilkan wajah yang pura-pura garang agar istrinya ini menjadi takut kepadanya.
''Kayla,'' cicit Rara.
''Serius?''
''Aku yang ngajak Kayla, karna dia mau. Makanya aku sama Kayla makan di pinggir jalan.''
Frezan lagi-lagi mengangguk. ''Makan berapa porsi, Mie ayamnya?''
''Satu untuk aku, satu untuk Kayla.''
''Katanya lapar.''
‘’Emang lapar kok, makanya makan.''
''Kalau orang lapar itu, makan yang banyak, bukan cuman satu porsi.''
''Kak Eza mau aku gendut?''
‘’Yang bilang kamu, bukan aku,'' ucap Frezan dengan santai.
''Aku marah.''
Frezan berdehem. ‘’Seharusnya aku yang marah, bukan kamu,'' Frezan mengacak rambut Rara.
''Sebagai hukumannya, kamu harus ikut aku selama 24 jam kemana pun aku pergi,'' ungkap Frezan membuat mata Rara melotot.
‘’Termasuk pergi ke kantor?''
''Iya, namanya juga ikut 24 jam,'' ucap Frezan lagi.
''Jadi kalau kak Eza buang air besar, Aku harus ikut?''
__ADS_1
Pletak
Frezan langsung menyentil kening Rara dengan pelan, membuat Rara kesal kepada suaminya itu.
'' nggak gitu juga,'' Frezan memutar bola matanya malas.
''Katanya kemanapun kamu pergi, aku harus ikut.''
''Memangnya kamu mau?'' Frezan menaik nurunkan alisnya membuat Rara menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanda tidak setuju.
‘’hmmm, makanya jangan banyak tanya lagi,'' final Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Rara langsung memeluk Frezan. ‘’Maafin aku,'' maaf Rara merasa bersalah kepada suaminya.
‘’Lain kali jangan di ulangi yah, aku khawatir di sini,'' balas Frezan mengusap rambut hitam Rara dengan lembut.
Rara mengangguk dalam dekapan Frezan.
''Habis makan kemana lagi?'' Tanya Frezan masih memeluk Rara membuat wanita dalam pelukanya mendongakkan kepala.
Mata mereka berdua kembali beradu, ''Aku bawain bang El, Mie ayam,'' jawab Rara.
''Kamu ketemu sama El?'' Tanya Frezan dan dibalas gelengan kepala oleh Rara.
''Terus?''
''Rara cuman nitip makan buat Abang El,'' jujur Rara kepada Frezan.
''Aku udah bilang, kalau aku sama Abang El belum ketemu,'' ucap Rara dengan menekan setiap perkataanya.
Cup
Frezan langsung mencium bibir Rara dengan singkat membuat Rara terdiam. ''Kayak barusan ciuman aja,'' ucap Frezan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rara.
''Aku memang polos, tapi semenjak nikah sama kak Eza, aku udah nggak polos lagi.''
''Dimana-mana, orang yang udah nikah nggak bakalan ada yang polos lagi. Kepolosan mereka akan hancur di tangan suaminya sendiri.''
Rara tertawa seraya melepaskan tubuhnya dari dekapan Frezan. ‘’Contohnya kamu.''
Frezan kembali mengusap rambut Rara dengan gemes. ''Kamu tau Ra, aku salah satu manusia beruntung di dunia ini. Karna udah berhasil milikin kamu.'' Ungkap Frezan dengan tulus.
Frezan menggenggam tangan Rara, seraya menatap mata yang selalu membuatnya mencair. ‘’Wanita kayak kamu udah langkah,'' tutur Frezan.
''Polos-polos bikin emosi,'' Frezan tersenyum membuat Rara memanyunkan bibirnya.
‘’Gimana kak Eza mau marah sama aku. Kalau lihat muka aku aja udah buat kak Eza meleleh,'' goda Rara sembari cengengesan memperlihatkan sederetan gigihnya yang tersusun rapih dan bersih.
‘’Kalau aku mau marah sama kamu, cukup senyum. Marah ku langsung redah saat itu juga.'' Frezan berkata dengan serius.
__ADS_1
Entahlah, saat ingin memarahi Rara niatnya selalu terurung saat melihat wajah polosnya dan senyumanya yang manis.
‘’Tapi selama ini, kayaknya aku nggak pernah marahin kamu.'' Frezan mengingat-ingat kembali.
‘’Coba ingat lagi.''
''Yang aku ingat cuman wajah sama senyuman kamu.” Frezan berkata sembari menoel hidung mancung milik Rara.
‘’Tapi besok, kita jadikan jenguk Abang El.'' Rara kembali mengingatkan Frezan dengan janjinya.
''Kalau kamu nurut sama aku. Aku bakalan nurutin semua apa yang kamu minta,'' ucap Frezan berjalan menuju tempat tidur untuk merehatkan tubuhnya.
Rara mengekori Frezan dari belakang lalu ikut berbaring dengan Frezan. ''Aku bakalan nurut kok. Aku akan kasi tau sama kak Eza kalau Rara mau keluar makan Mie ayam,'' ucapnya dengan polos seraya menatap langit-langit kamarnya.
Frezan melirik Rara yang tengah menatap langit-langit kamar, istrinya itu berkata tanpa beban.
Rara dan Frezan berbaring telentang dengan jarak mereka yang sangat dekat.
''Yang nyuruh kamu makan Mie ayam setiap saat siapa?'' Tanya Frezan melirik Rara.
Rara juga melirik Frezan, sehingga mata suami dan istri itu bertemu. ''Kata kamu tadi asal aku nurut. Jadi, kalau aku mau pergi beli Mie ayam sama Kayla, aku bakalan kasi tau kamu. Sebagai tanda kalau aku nurut sama kamu.''
‘’Nurut apa kata aku, Ra. Maksudnya, jauhi larangan yang aku kasi. Jangan mendekat sama larangan yang aku kasi ke kamu.'' Frezan mencoba menjelskan dengan rinci kepada Rara. Agar wanita itu paham maksudnya.
''Makan Mie ayam merupakan larangan dari kamu?'' tanya Rara memastikan.
''Nah itu tau.''
''Tap-'' belum sempat Rara meneruskan perkataanya, Frezan sudah lebih dulu memotongnya.
''Larangan dariku merupakan perintah, sayang,'' ucap Frezan dengan lembut membuat Rara bergedik ngeri sendiri.
''Lagian, makan Mie ayam setiap hari tidak sehat. Kamu tau, mengkonsumsi makanan setiap saat akan membuat kamu menjadi tambah lalot. Udah lalot tambah lalot lagi karna makan Mie setiap haru.''
''Kak Eza kok gitu sih!'' Kesal Rara.
''Apa yang aku bilang emang benar, kalau kamu itu polos-polos bikin orang emosi. Untung saja aku suami yang sabar. Kalau nggak, udah aku banting kamu diatas tempat tidur.''
''Kalau aku di banting, emangnya kamu mau meluk bantal guling?'' ejek Rara.
‘’Gunanya aku nikahin kamu apa?'' Frezan memberikan pernyataan menaik nurunkan alisnya.
''Ihk, kak Eza!''
Rara memukul dadah bidang Frezan, namun itu tidak sakit bagi Frezan. Dia kembali memeluk istrinya dengan gemas.
''Aku nikahin kamu buat jadi guling aku, setiap aku mau tidur,'' canda Frezan kepada Rara.
''Jadi kak Eza nikahin aku, karna cuman butuh bantal guling kalau kak Eza mau tidur?'' Tanya Rara dan dibalas anggukan setuju oleh Frezan.
__ADS_1
''Ikh, nyebeli. Banget!'' Rara sudah tidak bisa memukul dadah Frezan, karna sudah memeluk erat istrinya.