Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Sikap manis, Nathan


__ADS_3

Lea mulai mengambil baju tidur untuk Agrif. Lepas itu dia menutup kembali lemari tempat baju Agrif.


Lea melirik diatas tempat tidur ada nampan berisi makanan. Makanan itu di bawa Bi Minah agar Lea yang menyuapi Agrif makanan, agar anak itu makan.


Karna saat meninggalnya sang papah di rumah sakit, anak itu belum makan hingga sekarang.


Lea berjalan menuju kearah Agrif dengan pakaian tidur dalam tanganya.


“Pake baju dulu.” Lea mulai memakaikan Agrif pakaian tidur dengan telaten.


“Udah pake baju langsung makan, yah,” lanjut Lea dan dibalas anggukan kecil oleh Agrif.


“Udah makan langsung Bobo,” lanjut Lea lagi.


Agrif kembali mengangguk membuat Lea tersenyum kearah anak itu.


Agrif dan Lea berjalan menuju tempat tidur.


“Duduk di sini.” Lea menepuk kasur di dekatnya. Lalu Agrif duduk diatas tempat tidur.


Lea mulai mengambil makanan yang diatas nampan. Piring berisikan nasi, sayur sup, dan juga ayam.


“Buka mulutnya….”


Lea mulai menyuapi Agrif. Sehingga anak itu membuka mulutnya meski sedikit kakuh.


“Anak pintar,” puji Lea seraya tersenyum manis.


Suap demi suap di makan oleh Agrif. Sehingga makanan diatas piring sudah habis.


“Mau lagi?” tawar Lea karna makanan di dalam piring sudah habis.


Agrif menggelengkan kepalnya, tanda sudah tidak ingin tambah lagi, karna dia sudah kenyang.


Lea menyimpan piring kosong itu diatas nampan, lalu membawa nampan tersebut keatas meja belajar Agrif.


“Udah makan, waktunya Bobo, yah,” ucap Lea.


“Tapi Agrif mau Bobo sama papah,” ucap anak itu dengan suara yang tercekat.


“Kamu malam ini tidur sama kakak cantik yah,” saran Lea untuk membujuk anak itu untuk segara tidur.


Karna sudah pukul sembilan malam, jam tersebut adalah jam di mana Agrif sudah tidur.


Mungkin karna lelah, anak itu kembali menganguk mengiyakan perkataan Lea.


Lea mulai menyelimuti tubuh Agrif menggunakan selimut yang lembut. Terlebih dahulu, Lea mengatur ac agar tidak terlalu dingin.


Tidak butuh waktu lama, anak itu langsung tidur.


Lea tersenyum miris melihat wajah Agrif yang tengah tertidur sangat lelah.

__ADS_1


Lea bangun dari tempat tidur Agrif yang sangat besar itu. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membasahu wajahnya.


Dia masih menunggu kabar mengenai dokter Valen dan juga Rifal.


Ting


Sibuk dengan pikiranya, hingga ponselnya berbunyi menandakan adanya pesan masuk.


Dengan cepat Lea berjalan menuju sofa kamar, karna ponselnya dia simpan di atas sofa.


Dia pikir yang mengirimkanya pesan adalah Nando. Namun ternyata pikirannya salah.


Orang yang tidak dia harap menghubunginya kini mengirimkannya pesan.


Dokter Nathan!


Yah, yang mengirimkan Lea pesan adalah dokter Nathan. Padahal, Lea sama sekali tidak berharap atau bahkan menunggu pesan dari Dokter Nathan.


“Saya kerumah kamu tadi. Tapi kata mamah kamu, kamu, sedang keluar untuk kerja tugas di rumah teman kamu. Tapi saya yakin, kalau kamu tidak ke rumah teman kamu, melainkan kerumah Daniel untuk menemani Agrif.”


Lea mulai membaca pesan panjang dari dokter Nathan.


Buat apa dokter Nathan mencarinya hingga ke rumahnya segala? Itu yang dalam benak Lea sekarang.


Ting


Pesan Nathan kembali masuk.


Lea terkejut mendapatkan pesan kedua dari Nathan. Dia berjalan menuju jendela kamar Agrif lalu menyibakkan gorden jendela kamar Agrif.


Benar saja, dari atas sini dia melihat mobil milik Nathan di depan pintu gerbang.


Lea tidak membalas pesan Daniel. Karna gadis itu langsung keluar dari kamar Agrif untuk segera turun ke bawa menemui dokter Nathan.


Lea menuruni anak tangga dengan cepat-cepat.


Dia membuka pintu utama, lalu keluar dari rumah mewah Daniel, gadis itu berjalan menuju gerbang.


Untung saja gerbang rumah belum tertutup rapat. Sehingga gadis itu melewati gerbang yang sepenuhnya belum tertutup.


Untung saja tubunya kecil.


Nathan membuka pintu mobilnya setelah melihat Lea.


Turunlah sosok pria yang di kejar sejak dulu. Hingga sekarang dia masih mencintai dokter Nathan sampai detik ini juga.


Namun, dia sudah tidak ingin mengejar cinta dokter Nathan seperti dulu, sesuai yang dikatakannya saat diatas roftop rumah sakit.


“Dokte Nathan kenapa kesini?” tanya Lea berhadapan dengan Nathan.


“Saya hanya singgah untuk memberikan obat dan vitamin ini untuk kamu.” Nathan menyerahkan obat kepada Lea dan juga vitamin.

__ADS_1


Lea melihat obat tersebut di tangan Nathan, lalu kembali menatap mata pria mapan di hadapanya.


Apakah dia tidak salah melihat dokter Nathan memperhatikan dirinya?


“Di dalam ada vitamin untuk Agrif juga,” lanjut Nathan karna Lea tak kunjung mengambil obat dan vitamin di tanganya.


“Ambil.” Lea terkejut karna Asik melamunkan ini semua.


Ada apa dengan dokter di hadapanya ini? Mengapa sikapnya sedikit manis? Lea bertanya-tanya dalam pikiranya.


“Emm…Makasih.” Gadis itu mengambil obat dari tangan Nathan.


Nathan hanya menganguk kecil.


“Kalau begitu saya pamit dulu,” pamit Nathan kepada Lea.


Entah mengapa suasana saat ini terasa canggung menurut Nathan, padahal biasanya dia tidak seperti ini jika bertemu dengan gadis di hadapnya.


Apa mungkin pembawaan Lea saat ini sedikit berbeda?


“Hati-hati, dok.” Lea sedikit canggung.


Jika biasanya dia cengengesan kepada Nathan, kali ini rasanya sangat canggung jika dia melakukan hal itu lagi.


Nathan menganguk.


“Kamu masuk duluan saja.”


“Tap-“


“Saya akan pulang. Setelah kamu sudah masuk kedalam,” potong Nathan membuat Lea hanya menganguk.


“Iya.” Lea mengigit sedikit bibirnya saking tidak taunya, dia sedang berada di posisi apa saat ini.


Mengapa rasanya baru pertama kali mengenal Nathan? Padahal, dia sudah mengejar pria itu sejak pertama kali praktek di sana, dan rasa malunya sudah putus saat itu. Karna mengajar cinta Nathan.


Lea melangkahkan kakinya meninggalkan Nathan di depan gerbang rumah Daniel.


Setelah Nathan sudah memastikan Lea sudah masuk, pria itu masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari depan pintu gerbang rumah Daniel.


Di sepanjang jalan masuk ke rumah, membuat Jantung Lea seakan-akan berdetak kencang. Jantungnya berdetak sangat bertalu-talu saat bertemu dengan Nathan tadi.


Lea memeluk obat yang di berikan Nathan tadi. Tersenyum seperti orang gila saja saat ini.


“Sikap dokter Nathan tadi, kenapa sangat manis?” gumamnya di depan pintu kamar Agrif masih dengan senyum mengambang.


Nathan sengaja membawakan Obat dan juga vitamin untuk Agrif. Karna saat di makam tadi, Nathan sempat menegur wajah Lea sangat pucat.


Dia sedikit khawatir dengan gadis itu akan jatuh sakit. Padahl sisa satu minggu lagi dia akan praktek di rumah sakit.


Sangat sayang bukan, jika dia sampai jatuh sakit karna perihal ini semua.

__ADS_1


Lea masuk kedalam kamar Agrif dengan jantung masih berdetak kencang.


__ADS_2