
''Ada apa ribut-ribut?'' tanya Aska melihat Sukma keluar dari kamar Rifal dengan tertunduk takut.
''Tu-an…Tuan Rifal marah, dan melempar mangkuk berisi makanan kebawa lantai,'' lapor Sukma seraya menundukkan kepalanya.
Pantas saja, dari lantai bawa, Aska mendengar suara bising dari atas.
Aska langsung masuk dan mengecek sendiri kamar Rifal.
Ceklek.
Rifal langsung melihat Aska yang masih memegang ganggang pintu kamarnya, mereka berdua saling bertatapan.
''Keluar, Dad!'' usir Rifal tanpa melihat wajah Aska.
''Kenapa kau jadi seperti ini, kepada orang tuamu sendiri!'' hembus Aska melihat pecahan di bawa lantai.
''Jangan ada yang masuk ke kamar Rifal!'' peringat Rifal dengan dingin.
Aska kembali menutup pintu kamar Rifal, setelah Aska pergi barulah Rifal menangis.
''GUE MAU INI SEMUA HANYA MIMPI!!!'' jerit Rifal dengan air mata kembali turun di pelupuk matanya.
Rifal tertawa sinis, namun air mata turun di pipihnya. ''Valen, kembali sayang!''
Tangis Rifal kembali pecah di dalam kamar, seakan-akan pasokan udara di dalam kamar ini menyempit, sehingga dia merasakan dadanya menjadi sesak.
Membayangkan wajah Valen saat tersenyum membuatnya ingin gila. ''Dimana kamu, sayang!''
''Jangan tinggali gue, Len. Gue lemah tanpa lo, gue bukan apa-apa tanpa lo, Len. Lo penyemangat gue, Len!''
Rifal merasakan kepalanya sedikit pusing, bagaimana tidak, jika dia baru sadar langsung kembali drop seperti ini.
''Orang yang mencari istri gue semua nggak becus, Hah!''
Pram....
Rifal melempar lampu kamar yang berada diatas nakas.
''Hakh!'' teriak Rifal kembali menghancurkan gelas berisi air diatas nakas.
Dibawa lantai kamarnya, terhambur pecah beling yang dia hancurkan.
__ADS_1
''VALEN!!!'' rintih Rifal dengan hati yang sangat sakit bangun dari tidurnya, dia pikir Valen akan baring di sampingnya namun itu semua hanyalah harapan semata.
Rifal memegang dadanya yang sangat sesak.
''MOMMY!'' teriak Rifal memanggil nama Rina.
Rina terbangun dari tidurnya, saat samar-samar mendengar teriakan Rifal memanggil dirinya.
Dengan cepat Rina langsung bangun dari tempat tidurnya, dia tau, putranya sekarang tidak baik-baik saja.
Ceklek.
Rina dengan buru-buru membuka pintu Rifal, dia menutup mulutnya saat melihat dibawah lantai sangat berantakan dan pecah beling berserahkan di bawa lantai.
Rina dan Rifal saling bertatapan, dengan wajah kacau Rifal menatap Rina dengan isakan tangis seperti anak kecil.
Hati orang tua mana yang tidak teriris melihat kondisi Rifal yang sangat kacau!
Jauh dari kata baik-baik saja. Rina menggelengkan kepalnya dengan deraian air mata.
Dia berjalan hati-hati, melewati pecahan. Takut-takut jika pecahan itu mengenai kakinya meskipun dirinya menggunakan sandal.
Rina sudah memeluk Rifal, anak dan ibu itu berpelukan dengan erat, air mata keduanya turun begitu deras.
Rina semakin memeluk Rifal, sebagai orang tua dia tidak bisa melakukan hal ini untuk anknya.
''Kamu baru pulih, nak. Jangan siksa dirimu dengan seperti ini!'' tangis Rina memeluk erat anaknya itu.
Kamar Rifal dihiasi dengan suara isakan tangis oleh anak dan ibu itu.
Aska mengusap air matanya, dia bisa melihat istri dan anaknya itu berpelukan dengan erat serta air mata menghiasi pelukanya.
''Mom...Rifal mau, Valen!'' tangis Rifal.
Wajahnya sudah memerah karna air mata yang terus mengalir, dia mengabaikan sakit kepala menyerang dirinya.
Isi kepalnya hanya di penuhi dengan nama Valen.
Dia kehilangan dua orang sekaligus. Istri dan calon anaknya.
''Halo, Yo. Kerahkan anggotamu kembali mencari keberadaan menantu ku di pantai,'' perintah Aska masih melihat kedua objek di hadapanya yang sangat mengiris hatinya.
__ADS_1
Aryo yang berada di kantor berdiri dari duduknya, tentu saja dia tidak percaya mendapatkan perintah dari Aska, mencari orang hilang sudah lebih sebulan.
''Apa kau tidak salah? Menantumu sudah hilang satu bulan, Aska. Bagaiamana bisa kami menemukan dirinya. Jika menantu mu itu masih berada di tengah laut saat kecelakaan hingga sekarang, sudah di pastikan jika dia—''
''Jangan teruskan perkataan mu, Yo. Lakukan saja perintah dari ku. Aku tidak bisa melihat kesedihan anak dan istriku,'' hembus Aska membuat Aryo di seberang Telfon mengembuskan nafas berat.
''Baiklah, aku akan menyuruh anggota ku ke pantai Bali untuk kembali mencari orang yang sudah tidak ada.'' Aryo sengaja bicara seperti itu, dia tidak mau jika teman lamanya itu tetap menyuruh hal yang mustahil mereka dapatkan.
Aska langsung menutup telfonya, lalu pergi dari ambang pintu kamar Rifal meninggalkan anak dan istrinya masih berpelukan seraya menangis.
Rina mengusap rambut anaknya, wajahnya sangat letih tubuhnya sangat lemah. Sebagai orang yang melahirkan Rifal, tentu saja hati Rina teriris melihat putranya sangat kacau saat ini.
''Jangan siksa dirimu seperti ini, nak,'' lirih Rina mengusap air mata anaknya yang masih juga menetes.
''Rifal mau Valen, Mom!'' dengan suara bergetar Rifal berkata kepada sang Mommy.
''Semua tim basarnas kepolisian tentara angkatan Laut yang terbaik di Jakarta sudah Daddy kamu kerahkan semuanya nak, untuk mencari istri kamu,'' tutur Rina masih setia mengusap air mata Rifal yang mengalir begitu deras dari pelupuk matanya yang indah.
Rifal menggelengkan kepalnya. ''Nggak mungkin, Mom!''
‘’Bagaimana mereka bisa temuin Rifal secepat mungkin, sementara istri Rifal, nggak!'' protes Rifal tidak terima dengan perkataan sang Mommy.
Rina menggenggam tangan Rifal. ''Percayalah, nak, Daddy mu sudah megerahkan semua yang terbaik,'' ucap Rina lagi.
Rifal memeng erat tangan sang Mommy. ''Mom...Raga Rifal ada, tapi jiwa Rifal pergi bersama Valen. Gimana bisa, Mom, Rifal baik-baik saja sementara jiwa Rifal di bawa Valen, mom!''
''Valen pergi membawa cinta kamu, nak,'' nasehat Rina.
Rifal menggelengkan kepalanya. ''Valen belum pergi, Mom! Rifal yakin, Valen masih hidup!'' yakinya mengusap air matanya.
‘’Valen tau, Mom. Kalau Rifal nggak bisa apa-apa tanpa dia. Jadi...mana mungkin dia ninggalin Rifal, Mom!'' Rifal tersenyum, selang beberapa detik dia kembali menangis.
''Rifal suka makan nasi goreng buatan Valen, Mom. Siapa yang akan membutakan nasi goreng untuk Rifal jika istri Rifal pergi?''
Isakan-isakan lolos begitu saja dari mata Rifal, dia mengabaikan rasa sakit kepala yang menyerangnya.
Baginya, penyakit kepala ini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan apa yang dia rasakan saat ini.
''Apakah Tuhan bisa mengembalikan Valen? Seperti dia menakdirkan Valen untuk Rifal?''
''Sejatinya, seluruh ciptaan tuhan, akan kembali kepada sang pencipta, nak,'' nasehat Rina.
__ADS_1
''Tapi setidaknya jangan cepat!'' sergah Rifal.
Rifal mencengkram sprei tempat tidurnya, ''ini semua salah Rifal, yang udah bawa Valen ke tempat bahaya,'' pria itu menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpah dirinya dan Valen.