
Frezan fokus menyetir mobil dengan wajah dinginnya. Dia masih belum melupakan bentakan Rifal terhadap istrinya.
Mengapa sangat sulit dia lupakan, padahal Rifal tengah sakit.
Citttt
''Kak Eza…''
Rara langsung memegang dadanya, saking terkejutnya saat Frezan rem mendadak.
''Kamu kenapa sih!?'' jengkel Rara. ''Bisa bahaya kalau kamu rem mendadak kayak tadi.''
Pip…Pip
Pengendara dari belakang membunyikan klakson kendaraan mereka, karna Frezan berhenti di tengah jalan.
Frezan langsung menepihkan mobilnya di pinggir agar pengendara yang di belakangnya bisa lewat.
''Jangan pernah ketemu Rifal, kalau kondisinya belum stabil,'' ucap Frezan.
Rara menatap suaminya. ''Emang kenapa?'' tanyanya dengan lembut.
''Kalau sampai kamu lakukan hal yang sama kayak tadi, Rifal akan kembali marah besar sama kamu, bahkan lebih dari tadi,'' ujar Frezan membuat Rara bergedik ngeri.
''Aku paham apa yang di rasakan oleh Rifal kehilangan orang yang dia cintai. Emosinya akan terus menguasai dirinya,'' lanjut Frezan membuat Rara menjadi khawatir dengan apa yang di katakan oleh suaminya sendiri.
''Sampai kapan emosi akan menguasai kak Rifal,'' terang Rara. ''Apa sampai Valen ketemu?'' Frezan mengangguk mengiyakan perkataan Rara.
''Gimana kalau Valen udah...'' Rara tidak sanggup meneruskan ucapnya, namun Frezan paham apa yang ingin di katakan oleh Rara.
''Dia akan berubah 80%. Dia bukan Rifal yang kamu kenal lagi,'' jawab Frezan menyalakan mesin mobilnya untu segera melanjutkan perjalananya untuk pulang.
Rara berusaha menyaring apa maksud ucapan suaminya tadi. Karna otaknya hanya 2Gb dia berhenti untuk melanjutkan pikiranya.
Tidak butuh waktu lama, Frezan dan Rara sudah sampai di depan rumahnya. Rara turun dari mobil dan di sambut pelukan oleh Hasya.
''Bunda, kok bunda pergi jalan sama Ayah nggak ajak Hasya sih?'' Anak itu memanyunkan bibirnya membuat Rara menjadi gemas sendiri dengan tingkah anknya.
''Bunda sama ayah nggak pergi jalan sama ayah,'' jawab Rara meggendong Hasya. Sementara Frezan sedang sibuk dengan ponselnya karna sedang mengobrol dengan orang kantor.
''Bunda cuman ke rumah om Aska jenguk kak Rifal,'' lanjut Rara seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Hasya hanya mengangguk saja.
''Kak Tegar mana?'' tanya Rara menurunkan Hasya dari gendingnya.
__ADS_1
Rara dan Hasya duduk diatas sofa, menunggu Frezan untuk masuk ke dalam rumah.
''Ayah kemana, bun?'' tanya Hasya menengok keluar pintu.
''Lagi telfonan sama orang penting,'' jawab Rara.
Sepuluh menit Frezan belum juga masuk ke dalam rumah. ''Ayok, Sya, kita ke atas. Kamu udah ngantuk, besok kamu sekolah,'' ucap Rara.
Rara kembali menggendong Hasya, Hasya tidak menolak ajakan rara karna kantuk sudah menyerang dirinya untuk segera menurut mata.
Hasya tidur dalam gendongan Rara, ''anak aku cantik banget sih,'' Rara tertawa pelan melihat wajah anaknya yang sangat cantik. Sama seperti dirinya.
Rara membaringkan Hasya diatas tempat tidur, dia membatasi dua bantal guling di dekat anaknya saat anaknya bergerak dia tidak akan jatuh.
Meski Hasya sudah sedikit besar, Rara tetap saja memperlakukan anaknya itu seperti bayi. Karna membatasi samping kiri dan kanan Hasya menggunakan bantal guling.
''Rara yakin, anak Rara bakalan jadi rebutan. Kayak bundanya dulu,'' Rara tertawa kecil.
Dia mengusap pipi Hasya yang cantik, hidungnya sangat mirip denganya. Sementara aslinya mirip dengan Frezan.
Rara mencium anaknya itu lalu keluar dari kamar Hasya, menutup pintu anaknya.
''Hasya udah tidur?''
Rara langsung memegang dadanya, dia kembali di kejutkan dengan suara Frezan.
''Kamu ini bundanya Hasya atau bukan sih?'' Frezan bertanya dengan raut wajah bingung.
''Bundanya lah, kok kamu nanya gitu sih?''
''Soalnya kamu cocok untuk menjadi kakaknya Hasya, karna masih menggemaskan,” ucap Frezan mengusap rambut Rara membuat pipih wanitanya itu memerah seperti kepiting rebus.
Tentu saja dia baper dengan perkataan Frezan tadi.
''Kak Eza…'' malu Rara mencubit perut sixpack milik Frezan.
Frezan pura-pura merintih kesakitan agar Rara puas.
Frezan langsung menggendong Rara membawanya masuk kedalam kamar. Frezan langsung membaringkan Rara diatas tempat tidur mereka berdua.
Frezan melepaskan kancing baju yang dia kenakan membuat Rara meneguk salivanya dengan susah payah.
''Kak Eza mau itu?'' tanyanya dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.
Tangan Frezan sibuk melepas kancing bajunya, sementara Rara sibuk mengendalikan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
__ADS_1
Padahal, ini bukan yang pertama kalinya dia melakukan hubungan suami istri dengan Frezan, ini yang ke berapa kalinya yang tidak bisa di hitung menggunakan jari kaki dan jari tangan lagi.
Setelah kancing baju Frezan telah terlepas semua, dia melepaskan bajunya sehingga dia hanya bertelanjang dada saja.
Frezan langsung berbaring di dekat Rara, sementara Rara sudah menutup matanya karna tau apa yang akan terjadi.
Namun dugaannya salah, suaminya memeluk dirinya dari samping.
''Aku capek, besok saja,'' bisik Frezan membuat Rara memeluk erat Frezan.
Dia malu, padahal dia sudah membayangkan sentuhan cinta dari Frezan yang menbuatnya melayang.
''Iya,'' jawab Rara seraya memeluk suaminya tanpa menggunakan baju.
Padahal, baru pukul 9 malam mereka berdua sudah tidur, karna nyaman dengan pelukan yang mereka berikan.
***
''Biar saya antar pulang,'' pintah Nathan kepada Lea dengan mensejajarkan langkahnya bersama Lea di koridor rumah sakit.
''Nggak usah dok,'' jawab Lea memberhentikan langkah kakinya.
''Kenapa?'' tanya Nathan.
''Lea takut bakalan putar haluan sama tekad Lea sendiri,'' terang gadis itu tanpa menyembunyikan apa yang harus dia sembunyikan.
‘’Cinta kamu nggak akan bertepuk sebelah tangan lagi, Lea,'' terang Nathan.
‘’Karna saya mulai suka sama kamu.''
Deg
Ini pertama kalinya Lea mendengar Nathan mengatakan kata suka kepadanya. Kata-kata ini sudah lama Lea idamkan untuk keluar dari mulut dokter Nathan.
''Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, kalau cinta kamu akan bertepuk sebelah tangan,'' lanjut Nathan.
''Tapi...Lea mau fok—''
''Lea mau fokus kuliah, dia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan soal cinta,'' sahut suara pria dari belakang membuat Lea dan Nathan langsung melihat kearah belakang.
''Kak Nando,'' gumam Lea melihat Nando menghampiri dirinya.
Nando langsung merangkul pundak Lea membuat gadis 19 tahun itu mematung. ''Iya, kan, Lea?'' tanya Nando memastikan jika ucapannya barusan memang benar.
''I-ya,'' gugup Lea. ''Apa yang dibilang kak Nando emang benar, kalau untuk saat ini Lea mau fokus kuliah dulu.''
__ADS_1
Padahal, ingin sekali rasanya Lea menjelskan jika dia ingin fokus kuliah dan ingin menyuruh dokter Nathan menunggu dirinya sampai lulus kuliah.
Namun, Nando datang secara tiba-tiba membuat Lea tidak bisa menjelaskan secara detail kepada pria di hadapanya, pria yang selama ini di incar oleh dirinya.