Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Melamar, Lea


__ADS_3

Pukul 12:30 siang…


Sudah setengah jam Nando diatas roftop rumah sakit menunggu Lea untuk ke sini.


Sementara Lea masih memilih snack yang ada di kantin untuk dia bawa ke atas roftop rumah sakit.


Nathan yang melihat Lea keluar dari kantin membawa banyak snack di dalam kantongan langsung saja mengikuti gadis itu.


Mau kemana Lea? Pertanyaan itu langsung terlintas di dalam benak Nathan yang mengikuti Lea.


“Lea mau apa ke atas roftop?” gumam Nathan masih mengikuti Lea.


Angin diatas roftop lumayan kencang, sehingga menerpah wajah lelah milik Nando.


Nando masih menatap kedepan, dengan tanganya dia masukkan kedalam kantong celananya.


“Kak Nando!”


Suara gadis itu memasuki gendang telinga Nando membuat Nando menyungkirkan senyuman di wajahnya yang lelah itu.


Dia membalikkan badanya dan sudah melihat Lea dengan baju perawat yang dia kenakan. Serta kantongan kresek yang berisi snack dia tenteng.


Lea langsung menghampiri Nando.


“Kak Nando udah lama di sini?” tanya Lea yang sudah menghampiri Nando.


Entah mengapa Nathan semakin mengintip dan ingin mendengarkan obrolan Lea dan juga Nando lebih dekat.


Nando menggelengkan kepalanya. “Baru sekitar 38 menit,” jawab Nando seraya melirik jam mahal di pergelangan tanganya.


“Udah lama dong. Heheh,” tawanya membuat Nando ikutan tersenyum melihat wajah polos Lea berselimut tawa saat ini.


“Saya bisa nunggu lebih dari ini. Asal, kan, yang saya tunggu adalah kamu,” ujarnya membuat Lea terdiam.


Sementara Nathan masih mendengarkan obrolan Lea dan Nando. Dia penasaran, untuk apa Lea dan Nando bertemu diatas roftop rumah sakit ini.


Nando mengeluarkan kotak berwarna merah dari saku celananya.


“Lea, maukah kamu menjadi istriku?”

__ADS_1


Lea membeku di tempatnya. Hingga kantongan kresek berisi snack itu jatuh ke bawa saat Nando menyatakan hal yang menbuat otaknya menjadi dejavu.


Bahkan pria itu berlutut di hadapan Lea, dengan kotak yang sudah terlihat yang berisi cincin berlian yang sangat cantik dan tentunya mahal.


Nathan yang mendengar ucapan Nando tadi membuat jandungnya tidak karuan. Dia tidak menyangka, jika pria yang hanpir seumuran denganya itu melamar Lea diatas roftop.


Lea belum mengakurkan sepatah katapun saking terkejutnya dengan ini semua.


“Kak Nando…lamar Lea?” tanya gadis itu dengan suara yang nyaris hilang.


Nando menganguk masih dengan posisi yang sama. Angin roftop menerbangkan anak rambut Lea dan juga Nando.


“Ta-pi…”


“Tidak apa-apa jika kamu menolak ku. Tapi tetaplah terima cincin ini, meski kamu tidak bisa menerima saya. Karna sudah lama saya membeli cincin ini untuk kamu,” ujar Nando dengan senyuman yang manis.


Nathan tidak mendengar apa yang di katakan Nando tadi, karna ponselnya tadi bergetar membuat konsentrasinya nguping jadi buyar.


Nando berdiri dari posisinya lalu memasangkan Lea cincin berlian yang indah itu.


Tentu saja tindakan Nando membuat Nathan semakin membeku di tempatnya.


Cincin berlian itu berhasil di pakaikan di jari manis milik Lea.


“Lea..” panggil Nando karna gadis itu belum mengucapkan sepatah katapun saat dia mengutarakan isi hatinya.


“Iya, kak Nando. Lea janji nggak bakalan Lepasin cincin pemberian kak Nando,” ucap Lea dengan senyuman manisnya kepada sosok pria di hadapanya.


Nathan yang masih setia menonton mereka masih bertanya-tanya.


“Apa Lea menerima lamaran Nando?” gumam Nathan.


“Boleh saya minta peluk?” pinta Nando kepada Lea.


Tanpa berkata-kata, Lea langsung memeluk Nando. Sosok pria yang menjengkelkan tapi dia Sayang sebagai seorang kakak sama seperti Rifal.


Hanya saja, Nando tidak ingin di panggil om sama seperti Rifal. Sehingga Lea memanggilnya dengan sebutan kakak.


Mereka berdua berpelukan diatas roftop dengan Nathan yang menjadi saksi atas perilaku manis Nando ini kepada Lea.

__ADS_1


“Kuliah yang baik-baik, Lea. Banggakan kedua orang tua mu.” Nando melepaskan pelukanya lalu mengacak rambut Lea dengan gemas.


Lea menganguk. “Lea bakalan fokus sama kuliah Lea. Lea nggak bakalan mikir soal cinta,” yakinya dengan sesungguh-sungguh.


“Termasuk cinta kamu ke dokter Nathan?” celetuk Nando mode on.


Lea nampak berpikir. “Termasuk dokter Nathan. Karna mulai sekarang, Lea akan fokus sama kuliah Lea. Urusan jodoh urusan belakangan,” tawa Lea membuat Nando kembali memeluk Lea.


“Kak Nando nggak apa-apa, kan, Lea tolak?” tanya Lea dengan hati-hati takut jika melukai hati Nando.


“Saya tidak akan marah sama kamu. Asal kamu membuktikan ucapan kamu tadi. Yaitu tidak akan memikirkan soal cinta dan fokus dengan kuliah kamu. Dan yang terpenting adalah….Jangan melapskan barang pemberian dari saya, meskipun suatu saat kamu sudah menikah. Jangan di lepaskan.”


Lea menganguk dalam pelukan Nando. Tanda mengiyakan perkataan pria itu.


Nathan sudah pergi meninggalkan mereka sebelum mereka berpelukan yang kedua kalinya.


Ini yang kedua kalinya Lea berpelukan diatas roftop dengan pria yang berbeda-beda.


“Kak Nando. Lea pamit, ya, nggak lama lagi waktu istirahatnya akan habis,” pamit gadis itu seraya melepaskan pelukanya.


Lea langsung pergi dengan jantung yang berdetak. Apa jantungnya akan berdetak kencang jika dia berpelukan dengan lawan jenisnya.


“Lea!” teriak Nando sehingga Lea menghentikan langkah kakinya.


Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Nando.


“Semangat belajarnya!” teriak Nando mengepalkan tanganya keatas tanda semangat untu Lea.


Lea tersenyum manis kearah Nando. “Iya, Makasih kak Nando!” teriak gadis itu juga lalu berlari pergi.


Takut-takut jika dia terlambat dan mendapatkan omelan dari dokter Nathan. Hari ini adalah haru keduanya praktek di rumah sakit ini.


Lea akan praktek di rumah sakit Medika selama satu bulan lamanya.


Nando yang melihat punggung Lea yang sudah hilang tersenyum pedih.


Pertama kalinya dia jatuh cinta sesungguhnya kepada wanita dan ingin melamarnya. Namun gadis itu menolaknya meski Lea tidak mengeluarkan kata tolak untuknya. Namun Nando bisa tau jika gadis itu belum siap untuk di lamar dengan pria yang tidak dia cintai, apa lagi usinya masih sangat muda.


“Lea…kamu adalah gadis menarik dan unik yang saya temui. Semogah saja kamu fokus dengan kuliah mu,” menolognya.

__ADS_1


Nando melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sini, karna dia ingin ke ruangan Rifal yang belum juga sadarkan diri.


Jika Rifal bangun, apakah pria itu akan tenang dan tidak menjadi pria gila saat mengetahui istrinya tidak di temukan hingga saat ini.


__ADS_2