
Bi Minah dan pembantu yang satunya melihat Lea menuruni anak tangga.
"Udah mau pulang? Padahal baru sampai," celetuk bi Minah dengan senyuman tipisnya kepada Lea.
"Iya, Bi. Tiba-tiba aja ada jadwal lab skil yang mendadak dari dosen. Sehingga Lea harus ke sana. Karna nggak lama lagi Lea bakalan praktek di rumah sakit terbesar di kota ini." Lea menjelskan kepada Bi Minah.
"Kamu hati-hati ke kampus. Dan semangat untuk belajarnya," nasehat Bi Minah kepada gadis berusia 19 tahun di hadapanya.
Lea menganguk. "Iya, Bi. Lea titip Agrif, ya, Bi. Tolong paksa dia buat makan. Terus ajak dia ngobrol supaya dia bisa melupakan sedikit-demi sedikit," pintah Lea.
"Pasti."
"Kalau begitu, Lea, pamit ya. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
Bi Minah menatap punggu Lea yang sudah berjalan pergi meninggalkan rumah ini. Lalu Bi Minah kembali membersihkan ruangan yang berantakan akibat ulah Agrif.
Setelah menaiki taxi kurang lebih 15 menit, akhirnya Lea sudah sampai di kampus tempatnya menempuh pendidikan.
Lea segera masuk, namun pergerakan kakinya langsung terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering.
Lea ingin mengabaikan panggilan tersebut, namun panggilan kali ini terus-terusan masuk tanpa jedah.
Lea langsung mengambil ponselnya di dalam tas lalu melihat siapa yang menelfonya.
"Bi Minah," gumam Lea membaca nama penelfon yang terterah di layar ponselnya.
"Agrif kenapa lagi," hembusan nafas berat keluar dari mulut Lea. Lalu kemudian gadis itu mengangkat Telfon dari Bi Minah.
Dia yakin, Bi Minah menelfon pasti ingin melapor mengenai Agrif.
"Halo Bi!" sapa Lea.
"Lea, sepertinya bibi akan berhenti bekerja di rumah Daniel!"
Deg
Tentu saja Lea langsung terkejut dengan pesan yang di kirim Bi Minah.
Kenapa Bi Minah ingin berhenti bekerja? Pikir Lea.
“Woy, Lea! Dosen udah nyuruh masuk!”
Teriakan dari teman kampusnya membuyarkan lamunan Lea.
Lea tidak tau harus kembali ke rumah Daniel untuk mempertanyakan kepada Bi Minah mengapa dia ingin berhenti bekerja.
__ADS_1
“Duluan aja, Lea ada urusan mendadak!” gadis itu berteriak dengan lantang lalu pergi di tepi jalan mencari taxi untuk segera kembali ke rumah Daniel bertemu dengan Bi Minah.
Taxi singgah di hadapan lea, dengan cepat gadis itu masuk untuk segera ke rumah Daniel.
Dia meninggalkan jadwal lab skilnya yang mendadak karna pesan dari Bi Minah. Bagaiamana jika Bi Minah benar-benar pergi, siapa yang akan menjaga Agrif sepenuhnya?
Dirinya tentu saja tidak bisa setiap saat ada untuk Agrif. Dia sibuk dengan kuliahnya yang masih panjang ini.
Tidak butuh waktu lama, Lea telah sampai di depan gerbang rumah Daniel. Dia kembali ke rumah ini hanya karna pesan dari Bi Minah.
“Bi Mi-nah….!”
Suara gadis itu hampir tercekat, saat melihat Bi Minah dengan sosok pria menggunakan jas rapih duduk di ruang tamu.
Bi Minah dan pria asing itu mendongakkan kepalnya kepada sosok gadis yang tiba-tiba datang.
“Siapa dia?” tanya pria asing itu.
“Dia yang bernama Lea pak. Gadis yang sudah saya beritahukan kepada bapak.” Minah menjawab membuat pria itu mengangguk.
“Panggil dia kesini.”
“Baik pak.”
Bi Minah langsung menghampiri Lea. “Siapa dia, Bi?” tanya Lea melirik bi Minah.
Pria asing itu tersneyum kearah Lea. Lea membalasnya dengan senyuman kakuh.
“Perkenalkan. Saya Asegaf, pengacara almarhum Daniel.” Pengacara bernama Segaf itu menjulurkan tanganya kearah Lea.
Umurnya sekitar 45 tahun.
Lea menyambut uluran tangan Asegaf.
“Baiklah. Maksud saya kesini untuk menjemput Agrif.”
Deg
Jantung Lea semakin berdetak kencang. Lea pastikan, jantungnya yang berdetak kencang pasti akan di dengar oleh pria itu dan sang Bibi.
Bi Minah yang sudah tau hanya menundukkan kepalnya saja.
“Kalau boleh tau…kenapa bapak mau membawa Agrif?” tanya Lea.
“Waktu Agrif masih kecil, Daniel menyuruh saya untuk membawa Agrif jika dia sudah tidak ada di dunia ini. Karna dia tau, dia tidak mempunyai keluarga lagi.” akunya masih membuat Lea mencernah kata-katanya.
“Bagaiamana saya bisa percaya bapak. Kalau bapak ini pengacara pak Daniel yang di percayai. Bisa saja, kan, bapak hanya mengaku?” Lea memberanikan diri bertanya seperti ini.
__ADS_1
Dia takut, jika orang-orang mengaku dan membawa Agrif dari sini.
Pak Asegaf tersenyum hangat. Lalu mengambil tasnya. “Ini ada beberapa bukti di tangan saya.” Asegaf mengeluarkan beberapa dokumen penting dari dalam tasnya.
“Termasuk sertifikat rumah ini, ada pada saya,” terangnya memberikan sertifikat itu kepada Lea.
Lea mulai membaca sertifikat rumah tersebut atas nama Agrif.
“Dan ini juga sertifikat tanah pak Daniel di Jakarta atas nama Agrif,” lanjutnya membuat Lea kembali membaca dokumen tersebut.
“Satu lagi, Bar termewah di Jakarta ini milik pak Daniel juga. Yang di kelola para pekerjanya . Bar itu juga atas nama Agrif.”
“Pak Daniel buka cuman punya bar di Jakarta. Tapi dia mempunyai Bar di Banjarmasin, yang merupakan cabang dari Bar Jakarta.”
“Selain itu, uang sebesar 500M ada pada atm ini.” Pak Asegaf melihatkan atm yang berada di tanganya. “Ini semua tabungan pak Daniel selama hidupnya, untuk masa depan anknya kelak,” lanjutnya.
Lea tentu saja kaget dengan jumlah uang yang tidak kecil itu. Sungguh pak Daniel bekerja keras untuk memastikan masa depan anaknya tidak buruk.
“Semua ini, atas nama Agrif.”
“Daniel sudah mempersiapkan ini semua, jauh hari. Sebelum terkena musibah ini. Dia memastikan masa depan anaknya tidak akan kurang.”
Lea bungkam. Dia percaya sekarang jika orang di hadapanya ini benar-benar orang kepecayaan Daniel.
“Pak Daniel mempunyai orang kepercyaan yaitu bosnya. Tapi dia lebih memilih saya karna dia tidak ingin merepotkan bosnya itu.”
Lea menyimpan dokumen penting itu diatas meja, dia belum mengucapkan sepatah katapun untuk ini. Apa Agrif akan benar-benar pergi di bawa bapak ini?
“Saya akan memberikan semua hak Agrif, jika anak itu sudah berusia 17 tahun. Itu pesan pak Daniel kepada saya.”
Lama terdiam. Akhirnya Lea angkat bicara?
“Bapak mau bawa kemana, Agrif?” tanya Lea dengan senduh.
“Saya akan membawa Agrif ke panti asuhan. Di sana, Agrif akan menghabiskan masa kecilnya tanpa kekurangan kasih sayang.”
Lea dan Bi Minah bersamaan menatap pak Asegaf. Mereka pikir, pria di hadapanya ini akan membawa Agrif tinggal bersmanya.
Pak Asegaf kembali angkat bicara karna dia tau isi pikiran kedua perempuan di hadapanya ini.
“Itu amanah dari pak Daniel kepada saya. Amanah tersebut harus saya jalankan dengan baik.”
Lea semakin tidak berkutik, dia yakin pria di hadapanya ini tidak mungkin berbohong mengenai hal ini.
“Panti asuhan mana?” tanya Lea dan Bi Minah hanpir bersamaan.
“Panti asuhan sentosa, Banjarmasin.”
__ADS_1