Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Bermain dengan anak-anak


__ADS_3

Rara juga sedang memberikan asi kepada putrinya Hasya, sementara anak sulungnya sedang bermain di taman bersama dengan Frezan.


Anaknya Hasya yang rewel membuat Rara kewalahan mengurus anaknya itu, namun ada rasa tenang dalam hatinya jika melihat sang anak tertidur lelap.


Rara mengusap rambut Hasya sembari tersenyum tipis. “Bunda yakin, kamu nanti bakalan jadi gadis yang cerewet!”


Rara mendekatkan bantal guling di sebelah kanan dan kiri Hasya lalu keluar kamar. Dia menutup kamarnya dan melihat Kayla juga keluar dari kamarnya.


“Kay,” panggil Rara.


“Eh, Ra,”kata Kayla lalu melihat Rara berjalan menghampiri dirinya.


“Kembar udah tidur?”


“Dyra udah tidur, kalau Dyta masih main,” jawab Kayla.


“Main sama bang El, yah,” ucap Rara sembari manggut-manggut.


“Nggak,” sanggah Kayla dengan cepat.


“Lah terus, Dyta main sama siapa?” heran Rara.


“Main sendiri,” jawabnya dengan santai membuat Rara langsung meringis kearah Kayla.


“Tenang aja, Ra. Dyta mainya anteng kok,” lanjut Kayla lagi.


Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga, Kayla berjalan kearah dapur sementara Rara berjalan ke arah taman untuk melihat suami dan putranya bermain.


Rara tersenyum simpul saat melihat putrany sedang bermain bola bersama dengan Frezan, sekali-kali Tegar terjatuh lalu di suruh bangkit oleh Frezan.


“Ayo bangkit, anak cowok nggak boleh lemah!”


Tegar langsung berdiri sembari mengambil bolanya, sikap Frezan yang tegas mungkin saja menurun pada putranya Tegar.


“Lempar sini bolanya!”


“Iya, Yah!”


Mereka berdua asik bermain, sehingga tidak sadar dengan kehadiran Rara yang sudah duduk di kursi taman memperhatikan mereka berdua main.


“Bunda!” Panggil Tegar lalu berjalan tertatih-tatih kearah Rara meninggalkan bolanya.


Frezan melirik kearah belakang, rupanya wanita yang dia cintai berada Disini.


Frezan juga berjalan kearah Rara.

__ADS_1


“Seru nggak mainya?” Tanya Rara pada putranya itu.


Tegar menganggukkan kepalanya membuat Rara mengusap pucuk kepala Tegar.


“Ayah mainya jago!” Tegar bercerita dengan lucu pada Rara. Mengadu pada sang bunda jika ayahnya sangat jago.


“Ayah suruh Tegar buat terus bangun, kata ayah Tegar nggak boleh lemah, karna Tegar cowok!”


Rara terkekeh mendengar putranya itu bercerita padanya dengan semangat empat lima.


“Apa yang ayah kamu bilang itu emang benar. Kalau cowok nggak boleh lemah,” ucap Rara lalu memangku Tegar untuk duduk.


Frezan tentu saja mendengar pembicaraan putranya itu dengan istrinya. Frezan duduk di dekat Rara.


“Hasya udah tidur?” tanya Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


“Udah kamu kasi bantal penghalang?” Tanya Frezan memastikan.


“Udah kok,” kata Rara membuat Frezan mengusap rambut istrinya.


“Tegar!” panggil Kayla dari belakang pintu taman.


Mereka semua langsung melihat kearah belakang. Rupanya Kayla menghampiri mereka dengan menggandeng tangan Dyta yang membawa bola basket.


Rara sangat gemas melihat Dyta membawa bola basket di tambah lagi rambutnya yang geriting membuatnya semakin menarik untuk dilihat, bahkan bola basket dalam pelukan anak itu lebih besar di bandingkan kepalanya.


Saat Kayla membuat susu tadi, dia di kejutkan dengan suara Dyta memanggilnya dari lantai atas, untung saja pagar pembatas di rumah Rara aman.


“Ayok!” Tegar langsung turun dari pangkuan Rara menghampiri Dyta yang sedang membawa bola basket.


“Kita main bola aja, Ta!” kata Tegar lagi mengambil bolanya lalu mengambil tangan Dyta untuk segera bermain.


Tentu saja Tegar menyukai Dyta, dia suka bermain dengan anak itu karna dia bermain permainan anak laki-laki tidak seperti adiknya dan juga sepupunya Dyra yang bermain boneka Barbie.


“Ra, titip Dyta yah,” kata Kayla.


“Iya, Kay,” balas Rara.


Kayla langsung pergi meninggalkan taman, menyisahkan hanya Frezan dan Rara serta anak-anak mereka.


Rara dan Frezan melihat kearah depan, memperhatikan anaknya itu sedang bermain dengan Dyta yang hanya beda beberapa bulan saja.


“Berdiri, Ta. Kata ayah, jadi cewek jangan lemah!” Kata Tegar menyuruh Dyta untuk bangun karna anak itu terjatuh saat menendang bola yang lebih besar dari kepalanya.


Frezan memang mengatakan jangan lemah untuk anak cowok , namun sepertinya Tegar memberikanya untuk Dyta juga.

__ADS_1


“Ayok berdiri!” kata Tegar lagi namun Dyta tak kunjung berdiri.


Tegar mengulurkan tanganya pada Dyta, dengan cepat anak itu memegang uluran tangan dari Tegar.


“Lain kali berdiri sendiri, Ta!” seru Tegar pada Dyta.


Rambutnya yang geriting membuat anak itu semakin menarik untuk di pandang.


Drt….


Handpone Frezan berbunyi menandakan adanya Telfon masuk.


“Siapa?” Tanya Rara tanpa mengalihkan pandanganya dari depan karna sedang mengamati Dyta dan juga Tegar bermain bola.


“Nathan,” jawab Frezan lalu mengangkat Telfon dari saudaranya itu.


“Gue di taman belakang,” lepas mengatakan itu Frezan langsung mematikan handponenya.


Tidak lama kemudian Nathan muncul bersama dengan Farel. Seperinya Nathan tadi menelfon mencari Frezan karna tidak melihat Frezan di dalam rumah.


Rara yang melihata kedatangan Nathan dan juga Farel menyambutnya dengan hangat.


“Kemana aja, Rel. Kamu baru kesini,” kata Rara.


Sementara Frezan dan Nathan langsung bercakap-cakap, sepertinya ada hal yang penting yang ingin di sampaikan oleh Nathan kepada saudaranya Frezan.


“Farel belajar, Mba,” kata Farel tiba-tiba saja memanggil Rara dengan sebutan Mbak. Kata-kata Mbak tersebut tentu saja asing bagi telinga Rara di sebut mbak oleh adik iparnya ini.


Rara terkekeh geli dengan sebutan mbak yang di keluarkan oleh Farel.


“Siapa yang ngajarin kamu panggil mbak ke aku?” Tanya Rara memastikan, dari mana Farel mendapatkan kata mbak tersebut lalu memanggilnya dengan sebutan mbak.


“Kata bang Nathan, Farel harus panggil tante Rara dengan sebutan Mbak,” kata anak itu. “Kata bang Nathan, karna mbak Rara adalah iparnya Farel,” lanjutnya membuat Rara manggut-manggut.


Rara akan terbiasa, jika Farel akan memanggilnya dengan sebutan mbak, apa lagi sebutan tersebut emang sopan untuk dirinya. Meski sedikit asing di telinganya. Namun dia akan terbiasa.


“Gue harus keluar kota,” kata Nathan pada Frezan. “Nggak lama, cuman seminggu.”


Sekarang ini mereka berdua ada di ruangan kerja milik Frezan.


“Gue kesini buat titip Farel sampai gue balik dari luar kota.” Lanjut Nathan mengutarakan niatnya datang kesini untuk menitip Farel pada Kakak sulungnya.


“Biar Farel sama Rara,” kata Frezan. “Kalau gue jadi ke Bali dalam waktu dekat ini, anak-anak gue titip sama Kayla di bantu sama baby sister,” sepertinya Frezan ingin tetap ke Bali dalam waktu dekat ini.


Nathan mengangguk mengiyakan ucapan Frezan. Dia juga tidak tau, jika Frezan mempunyai rencana untuk ke Bali dalam dekat ini.

__ADS_1


“Lo udah tau soal Rifal?” Tanya Nathan memastikan.


“Gue baru balik sama Rara dari rumah sakit.”


__ADS_2