
Ceklek
Adelia langsung melihat kearah pintu yang di buka oleh seseorang, Adelia tersenyum kearah dokter Kiki dengan wajahnya yang sangat pucat.
“Adel, kamu kenapa belum minum obat?” dokter Kiki kaget saat melihat obat yang dia berikan pada Adelia tadi sebelum dia pergi bersama dengan dokter Hamka masih ada di sini.
“Apa perawat tidak ada datang kesini membantu mu meminum obat?” Tanya dokter Kiki lalu membuka obat tersebut untuk di berikan pada Adelia.
“Aku nggak perlu obat,” kata Adelia membuat Kiki menarik nafasnya panjang.
“Kamu kan sudah berjanji, kamu akan berobat,” kata Kiki.
“Aku akan menepati janji, kalau aku udah ketemu sama kak Rifal,” kata gadis itu.
“Sekarang kamu minum obat, lepas itu kita keruangan Rifal,” kata dokter Kiki membuat Adelia tidak bisa menahan kebahagiaannya dengan wajahnya yang pucat pasih.
“Sekarang?” tanya Adelia dengan suara lesuh, guna memastikan perkataan dokter Kiki.
“Iya, makanya kamu harus minum obat. Kalau kamu nolak, saya nggak akan bawa kamu bertemu dengan Rifal,” ancam dokter Kiki.
“Iya, aku mau!” kata Adeli dengan semangatnya.
Dokter Kiki tersneyum, melihat senyuman Adelia di balik wajahnya yang sangat pucat itu.
Dokter Kiki langsung menuntun Adelia minum obat.
“Sekarang kita keruangan Rifal, karna kita nggak punya banyak waktu,” kata dokter Kiki dan dibalas anggukan kepala oleh Adelia.
Dua orang perawat membantu Dokter Kiki untuk mengurungkan Adelia turun dari bansal untuk duduk di kursi roda, di karenakan tubuh Adelia sudah lumpuh membuat dokter Kiki tidak bisa mengangkat Adelia jika sendirian, meskipun tubuh gadis itu kecil.
“Terimaksih,” kata dokter Kiki kepada kedua perawat yang membantunya.
“Sama-sama dok.”
Dokter Kiki langsung mendorong kursi roda Adelia menuju ruangan Rifal, untung saja ruangan mereka tidak berjauhan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Adelia selalu saja tersenyum dan menitihkan air mata. Bibirnya tersenyum namun air matanya menitihkan bulir putih.
Mereka sudah didepan pintu ruangan Rifal. Dokter Kiki menghentikan kursi roda Adelia di depan pintu ruangan Rifal.
Dokter Kiki langsung duduk di depan Adelia, “ingat yah Del, kamu udah janji sama saya untuk tidak berisik saat bertemu dengan Rifal,” kata dokter Kiki kembali mengingatkan Adelia.
Gadis itu mengangguk lemah, dokter Kiki mengeluarkan tisu di kantong jasnya lalu menghapus air mata Adelia.
“Cukup lihat dia saja, tanpa dia ketahui,” kata dokter Kiki sembari mengusap air mata Adelia.
Dokter Kiki membuka pintu ruangan Rifal. Dia mendorong Adelia. Dia sudah melihat Rifal sedang duduk diatas bansal dengan matanya kearah depan. Namun saat pintu di buka pria buta itu langsung mengarahkan pandanganya kearah pintu.
Sehingga matanya yang buta bertemu dengan mata Adelia. Air mata Adelia jatuh kembali saat melihat tatapan Rifal.
“Apakah dia dokter Valen?” Tanya Rifal kepada perawat yang menjaganya.
“Bukan, dia dokter Kiki, teman dokter Valen. Dia kesini untuk mengecek kondisi pak Rifal,” bohong perawat tersebut mengatakan jika Dokter Kiki kesini datang mengecek kondisi Rifal.
Dokter Kiki mendorong kursi roda Adelia mendekat kearah Rifal. Dokter Kiki basah-basih memeriksa Rifal sementara Adelia sibuk memperhatikan Rifal dari dekat dengan matanya mengeluarkan bulir air mata.
“Makasih Sudah memeriksa saya,” kata Rifal dengan matanya kearah depan sementara dokter Kiki di sampingnya.
Adelia berusah menggerakkan tanganya untuk menggapai tangan Rifal yang sangat dekat dengannya. Dokter Kiki langsung memegang tangan Adelia sehingga Adelia mendongkak kan kepalanya dan melihat dokter Kiki menggelengkan kepalanya.
Adelia menagis, sehingga dia mengeluarkan isakan kecil membuat dokter Kiki langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Adelia menyuruh gadis itu berhenti menangis, takut jika Rifal mengetahui keberadaannya.
“Siapa yang menangis?” Tanya Rifal mengarahkan pandanganya membuat Adelia langsung berusaha menahan isakannya agar tidak lolos.
“Mungkin saja pak Rifal salah dengar, soalnya tidak ada yang menangis Disini,” bohong dokter Kiki membuat Rifal mengangguk kecil meski dia tidak yakin. Karna dia mendengar dengan jelas isakan tangis tersebut.
Mungkin karna rumah sakit yang terkenal dengan hal mistis jadi dia mendengar isakan tadi? Rifal jadi bergedik ngeri sendiri dan ingin segera pulang kerumahnya.
“Apakah istri saya masih lama melakukan operasi?” Tanya Rifal, dia ingin segera pulang setelah Valen telah usai melakukan operasi.
“Sekitar satu jam lagi, karna operasi yang di lakukan dokter Valen bukan operasi ringan,” kata dokter Kiki membuat Rifal mengantuk mengerti.
__ADS_1
Adelia memberikan kode kepada dokter Kiki untuk memundurkan kursi rodanya berjauhan dengan Rifal, dia ingin mengatakan sesuatu.
Dokter Kiki langsung mendorong kursi roda Adelia menjauhi bansal tempat Rifal.
“Apakah aku bisa minta permintaan sama dokter Kiki lagi?” Tanya Adelia disertai senyuman di wajahnya yang pucat.
“Jangan yang aneh-aneh,” peringat dokter Kiki. Dia tidak mau jika Adelia melampaui batasnya.
Adelia melihat kerang Rifal yang menatap kearah depan dengan tatapan kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu saja, tapi entah apa.
“Aku ingin dokter Kiki bertanya kepada kak Rifal, apakah dia ingin menemui ku atau sudah tidak lagi,” kata Adelia tanpa mengalihkan pandangnya dari Rifal.
Adelia melirik dokter Kiki. “Dan satu lagi, aku mohon katakan sama kak Rifal apakah dia benar-benar tidak mencintai aku lagi, aku ingin mendengarnya secara langsung dari mulutnya,” pinta Adelia lagi membuat dokter Kiki tidak tega untuk menolaknya.
“Ada lagi?” Tanya dokter Kiki kepada Adelia.
Adelia menggelengkan kepalanya,”itu saja,” katanya sembari tersenyum.
“Tapi kamu harus janji untuk tidak menangis yah, jangan sampai Rifal tau keberadaan kamu.” Kiki memperingati Adelia agar tidak mengulang kesalahannya yang tadi. Hampir saja Rifal tau jika ada orang lain diantara mereka.
“Aku janji,” kata Adelia.
Dokte Kiki mengangguk sembari tersenyum.
Dokter Kiki kembali mendorong kursi roda Adelia untuk mendekat kearah Rifal. Mereka kembali mendekat kearah bansal Rifal.
“Hmm,” dokter Kiki berdehem membuat Rifal mengarahkan matanya Krasak suara.
“Bolehkah saya bertanya?” Tanya dokter Kiki hati-hati. Menurutnya dia sangat lancang bertanya apa lagi dia belum pernah mengobrol dengan Rifal sebelumnya.
Rifal mengangkat alisnya sebelah, dia penasaran dokter ini ingin bertanya apa kepadanya.
“Tanya apa?” Tanya Rifal.
“Terlebih dahulu saya minta maaf, saya ingin bertanya mengenai Adelia,” ucap dokter Kiki dengan hati-hati membuat raut wajah Rifal menjadi tidak ramah membuat dokter Kiki tidak enak.
__ADS_1
Dokter Kiki melirik Adelia yang menatap wajah Rifal, dia juga memperhatikan raut wajah Rifal yang berubah saat Dokter Kiki bertanya ingin bertanya tentang Adelia.