Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Rifal dan Valen


__ADS_3

“Aku kebelakang dulu,” pamit Valen.


“Makan dulu, Len. Kalau ada yang dibilang suami dengerin,” kata Rifal membuat Nando menyipitkan matanya kearah Rifal.


Dia melihat wajah keseriusan Rifal saat menyuruh istrinya itu makan.


“Kamu udah makan?” Tanya Valen membuat Rifal menggelengkan kepalanya.


“Kamu nyuruh aku makan, sementara kamu belum makan,” ucap Valen.


“Beda sayang,” ucap Rifal lembut membuat Nando berekspresi ingin muntah melihat tingkah Rifal. “Kalau kamu sedang mengandung, anak kita butuh makan dari kamu,” lanjut Rifal.


“Nanti aku makan, kalau udah ketemu sama Mommy sama Daddy,” rayu Valen membuat Rifal mengangguk kecil.


Valen sudah pergi meninggalkan Nando dan juga Rifal.


“Ngapain lo lihat Valen,” sungut Rifal melihat Nando memperhatikan Valen yang sudah pergi.


“Kamu tidak menyuruh Valen untuk menggerai rambutnya, Fal? Entar Mommy sama Daddy mu lihat,” kata Nando.


“Mereka pasti mengerti,” kata Rifal dan dibalas gelengan kepala oleh Nando.


***


Valen sudah melihat kedua mertuanya sedang duduk di kursi kayu yang bercat putih tersebut. Dia langsung menghampiri kedua mertuanya.


“Mom, Dad,” sapa Valen kepada kedua mertuanya.


Rina tersenyum kearah Valen, menyuruh menantunya itu untuk duduk di sampingnya. Dia memperhatikan leher Valen yang dipenuhi dengan bekas kecupan.


Sungguh kentara apa lagi Valen menjedai rambutnya sehingga lehernya terekspos.


“Mommy jadi mau ke Mall?” Tanya Valen karna kemarin mertuanya berencana ingin ke Mall membeli pelengkapan bayi.


“Jadi kok sayang, nanti kita diantar sama suami kamu,” ucap Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


Aska beranjak dari kursi yang dia duduki, dia ingin mengambil bunga yang sangat indah saat matanya melihat bunga tersebut.


“Sayang, apakah kamu tidak melihat bekas kecupan di leher mu,” ucap Rina dengan hati-hati membuat Valen mengerinyatkan alisnya.


“Bekas ciuman?” Menolog Valen seraya melihat lehernya.


Valen kesusahan, sehingga Rina langsung mengambil ponselnya lalu membuka kamera ponselnya dan memberikanya kepada menantunya.


Valen langsung melototkan matanya saat melihat didepan kamera, ada banyak bekas kecupan di lehernya.


Valen sangat malu saat ini, bahkan dia baru sadar apa yang dimaksud oleh Nando tadi. Ternyata ini, Valen mengepalkan tanganya karna Rifal tidak mengatakan jika ada bekas ciuman di lehernya.


“Emmm…Mom. Valen ke kamar dulu yah,” kikuk Valen.

__ADS_1


“Iya.”


Valen langsung berjalan masuk kedalam rumah, dia tidak akan ingin mengobrol dengan Rifal karna saking malunya kepada mertuanya dan juga Nando tadi.


Valen melihat ke ruangan tv, sudah tidak ada Nando dan Rifal. Itu berarti Nando sudah pulang dan Rifal berada didalam kamar.


Valen langsung menaiki anak tangga. Dia melupakan kekesalannya kepada Rifal.


Ceklek


Pintu kamar dibuka oleh Valen, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Rupanya Rifal sedang mandi.


Tok….Tok…Tok


“Fal!” panggil Valen dengan tidak sabaran.


Rifal mematikan keran air, saat mendengar suara Valen memanggil namanya dengan tidak sabaran.


“Kenapa sayang!” sahut Rifal dari dalam.


Valen menghentakkan kakinya, jika biasanya dia salting dengan sebutan sayang namun kali ini dia kesal dengan sebutan sayang tersebut.


“Nggak usah panggil sayang!” ketus Valen.


Sehingga pergerakan tangan Rifal terhenti saat menggunakan sabun mandi, mendengar suara Valen yang nampak ketus tidak biasanya.


Rifal tidak melanjutkan menyabuni tubunya, dia mengambil shower lalu membasahi tubuhnya dengan cepat.


Ceklek


Pintu kamar mandi dibuka oleh Rifal, dia bisa melihat raut wajah kesal yang di suguhkan istrinya.


Valen sempat terpesona dengan Rifal, rambutnya yang basah mampu membuat Valen tidak menyangka jika dia telah memiliki Rifal dengan seutuhnya.


Valen kembali pada mode jengkel melihat Rifal.


“Kenapa, sayang?” Tanya Rifal.


“Kamu kenapa sih, Fal. Nggak bilang kalau ada bekas ciuman kamu di leher aku. Aku malu tau nggak dilihat sama Nando sama Mommy!” kesal Valen membuat Rifal gemas melihat tingkah istrinya itu yang sedang hamil.


“Biar mereka tau kalau semalam kita romantis,” ucap Rifal santai membuat Valen langsung mencubit perut milik Rifal.


“Nggak sakit!”


“Pokoknya aku ngambek!”


“Yang bener?”


“Aku serius, Fal. Nggak bercanda!”

__ADS_1


“Yang bilangin kamu bercanda siapa?” tanya Rifal dengan tampang songong membuat Valen ingin mencakar wajah tampan milik suaminya.


“Tau ahk. Intinya aku ngambek!”


Valen langsung pergi, namun pergelangan tanganya langsung di cekal oleh Rifal.


“Lepasin. Aku nggak mau ngomong sama kamu. Aku lagi ngambek!”


“Pokoknya kamu harus mandi, kamu belum mandi pagi!” tuntut Rifal membuat Valen langsung menggelengkan kepalanya tidak mau.


Jujur saja, semenjak dia hamil. Dia sangat malas mandi pagi. Bahkan dia hanya mandi sekali sehari itupun ingin menjelang malam dia baru mandi.


“Ahk, aku nggak mau mandi pagi!!!!” berontak Valen namun Rifal tidak melepaskan tangan istrinya itu.


“Kamu yah, Len. Semenjak kamu hamil kamu malas mandi pagi!” kesal Rifal.


“Ihk, bukan aku yang nggak mau, tapi anak kamu yang nggak mau mandi pagi!!”


“Jangan banyak alasan, Len!”


Tentu saja Rifal tau, meski dia buta saat menemani kehamilan Valen, namun dia hapal jika istrinya itu semenjak hamil malas mandi pagi.


Rifal tidak menegurnya saat itu, karna dia sedang buta. Dan sekarang dia sudah kembali normal.


“Ihk, Lepasin. Aku nggak banyak alasan, anak kamu yang mager!”


“Dia belum jalan, jadi nggak kata mager!”


“Aku-“


“Jangan banyak alasan, kamu harus mandi. Ini bukan mandi pagi karna sudah jam 11, tapi besok sampai seterusnya kamu harus mandi pagi, kalau perlu mandi jam 4 subuh biar kamu sehat bersama Rifal junior!” oceh Rifal menarik tangan Valen masuk kedalam kamar mandi, yang berusaha melepaskan tanganya.


“Aku nggak mau mandi!”


Rifal langsung mengunci kamar mandi membuat Valen menyesal menghampiri Rifal di kamar.


Valen melototkan matanya saat Rifal dengan santai melepaskan handuk yang dia kenakan.


Valen langsung refleks menutup matanya namun mengintip di celah-celah tanganya. “Nggak usah di tutup kalau ujung-ujungnya ngintip, sama aja, hehhehe!” tawa Rifal membuat Pipih Valen memerah.


Rifal menyalakan kran air, lalu mengambil shower.


Rifal menatap Valen, sementara jantung Valen sudah tidak karuan lagi. “Pakaianya mau lepas sendiri atau aku Lepasin?” tanya Rifal membuat Valen merasakan kamar mandi yang mereka tempati menjadi panas.


“Masih diam, itu berarti kamu nyuruh aku bukain baju kamu, yah?” ucap Rifal seraya tersenyum jenaka membuat Valen langsung menggelengkan kepalanya.


“Nggak usah!”


“Kenapa? Bukanya pas aku buta kamu bukain baju aku. Aku pasrah,” ejek Rifal membuat Valen kembali menatap Rifal dengan jengkel.

__ADS_1


“Itu ceritanya lain, aku bisa melihat aku bisa buka baju aku sendiri!”


“Yaudah buka kalau bisa!” Tantang Rifal membuat Valen meneguk salivanya susah payah.


__ADS_2