
Daniel langsung menghampiri anak kecil tersebut lalu Agrif juga turun dari ayunan.
"Hai, nama kamu siapa?" tanya Agrif membuat anak mungil itu hanya memegang tangannya saja. Rambutnya yang sedikit bergelombang membuat Agrif menyukai rambut gadis dihadapannya ini.
Apa lagi wajahnya yang cantik alami. "Aku Agrif," kata anak itu memperkenalkan namanya kepada gadis mungil dihadapannya.
"Farziya," kata anak itu gelagapan membuat Daniel juga tertawa. Nama yang berbelit-belit menurut Daniel.
"Farziya yah, biasa dipanggil siapa?" tanya Daniel mendudukkan tubuhnya agar bisa menyamakan tubuhnya dengan gadis didepannya yang menggunakan baju berwarna pink serta bandol berwarna pink.
"Ziya," kata anak itu membuat Daniel manggut-manggut.
Sementara Agrif telah pergi mengambil sesuatu di tasnya, dia bisa melihat anak itu sedang mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini buat kamu, karna udah ayun aku," kata Agrif memberikan susu kepada Farziya. Jangan lupa anak laki-laki itu mengambil gelangnya dari tangannya membuat Daniel berpikir apa yang akan dilakukan putranya ini.
"Ini gelang untuk kamu, sebagai kenangan siapa tau kita bertemu lagi saat kita besar," kata Agrif sungguh-sungguh memasangkan gelang hitam kepada Ziya membuat anak itu menepuk tangannya.
Agrif memasangkannya gelang, dia juga melihat ada tahi lalat didekat tangan anak yang dia pasangkan gelang.
Sementara Daniel memotret momen dihadapannya, biar saat dewasa Agrif putranya akan mengenal masa kecilnya memberikan gadis tersebut gelang.
"Tahi lalat kamu cantik," puji Agrif sembari tertawa kearah gadis kecil dihadapannya.
Mereka berdua tertawa membuat Daniel juga bahagia.
"Akhirnya dapat teman baru," kata Daniel bersedekap dada membuat Agrif menatapnya dengan senyuman merekah diwajahnya.
"Dia cintanya Agrif." Daniel langsung melototkan matanya saat anaknya itu mengatakan kata cinta, padahal usianya masih anak kecil.
"Non," panggil seseorang yang menggunakan baju putih menandakan jika dia seorang baby sister.
"Ya ampun, ternyata non Ziya ada disini," kata baby tersebut mencium wajah Ziya. Hampir saja dia akan dimarahi habis-habisan dengan bosnya jika dia tidak menemukan Ziya.
"Makasih yah udah jaga non, Ziya," katanya dan dibalas anggukan kepala oleh Daniel.
"Jagain jodoh Agrif, bi," kata Agrif sungguh-sungguh membuat baby sister tersebut tertawa sementara Daniel menggelengkan kepalanya. Anak seusia Agrif sangat pandai mengatakan hal tersebut.
"Iya, bibi bakalan jagain non Ziya untuk kamu. Bibi pergi dulu yah, orang tua Ziya udah mau berangkat keluar negeri bersama Ziya," pamit bibi tersebut membuat Agrif lesuh.
__ADS_1
Dia sangat menyukai wajah gadis yang sangat imut itu, dan jangan lupa rambutnya sedikit bergelombang dan dia mempunyai tahi lalat ditangannya membuat Agrif menyukai anak itu.
Bibi tersebut langsung menggendong Ziya, Agrif melambaikan tangannya kearah Ziya membuat anak itu tepuk tangan lalu membalas lambaian tangan Agrif membuat Agrif tersenyum simpul.
"Teman baru Agrif udah pulang," lesuh anak itu, apa lagi dia mengatakan jika anak itu akan kembali keluar negeri.
"Semogah aja dewasa nanti kamu bisa ketemu dia," kata Daniel membuat Agrif manggut-manggut.
"Namanya Ziya, nama yang nggak bakalan Agrif lupa," kata anak itu, apa lagi ini pertama kalinya dia menemukan teman.
Daniel mengajak Agrif untuk kembali duduk menikmati makanannya yang dia bawa dari rumah.
***
"Belok kanan!" instruksi Lea sehingga Nando berbelok kearah kanan.
"Kak Nando singgah di sana yah, yang banyak anak kecil."
Stttt
Nando langsung mengerem mendadak membuat Lea langsung mengaduh kesakitan.
"Katakan jika saya salah dengar," kata Nando membuat Lea mengerutkan keningnya.
"Salah dengar apa?"
"Yang tadi kamu bilang, kalau mau singgah ditempat taman bermain," kata Nando membuat Lea manggut-manggut.
"Kak Nando nggak salah dengar kok, emang Lea mau ke taman bermain," kata Lea membuat Nando langsung menepuk jidatnya lalu menyandarkan kepalanya diatas ster mobil.
"Kenapa?" tanya Lea.
"Kenapa harus taman bermain, Lea," kata Nando membuat Lea tertawa geli.
"Lea kan udah bilang, kalau Lea lagi stres. Kalau Lea stres bawaannya mau ke taman bermain. Main sama anak-anak disana buat hilangin stres," kata Lea membuat Nando mengumpat kasar.
Dia pikir Lea akan jalan-jalan ke pantai membawa makanan sebanyak ini, ternyata gadis gesrek itu ketaman bermain.
"Kita ini bukan anak kecil lagi Lea, yang pergi ke taman bermain," kata Nando kepada Lea.
__ADS_1
"Kita?" tanya Lea bingung membuat Nando menunggu kelanjutan perkataan gadis yang duduk dibelakang. "Lea aja kali, kan Lea memang masih seperti anak kecil. Kalau kak Nando udah nggak masuk lagi, udah gede kayak om Rifal," kata Lea membuat Nando tersenyum masam kearah anak itu.
Andaikan saja dibelakangnya ini bukan tetangga Rifal, sudah sedari tadi Nando menurunkannya ditengah jalan.
"Ayok jalan!" kata Lea semangat empat lima membuat Nando terpaksa mengikuti kemauan gadis itu. Andai sedari tadi dia tau, mungkin saja Nando tidak membawa Lea kesini.
Dia seperti seorang ayah yang mengantar anaknya untuk ke taman bermain.
Lea langsung turun dari mobil disusul oleh Nando.
"Makanannya bawa kedalam," kata Lea membuat Nando mengambil makanan tersebut lalu membawakannya kedalam.
Jika Nando yang stress dia akan tambah stres diajak ke tempat bermain seperti ini. Jika dia banyak pikiran dia akan ke club bukan ketempat seperti ini.
***
Rifal membaringkan kepalanya diatas paha milik Valen, saat ini mereka berdua duduk di sofa apartemen milik Nando.
Rifal sudah bertanya pada bagian resepsionis bertanya mengenai penghuni apartemen nomor tiga kemana, karna tidak ada orang didalamnya.
Resepsionis tadi mengatakan kepada Rifal jika Nando sedang keluar menggunakan baju santai dan penampilan pria itu sangat wangi saat melewati resepsionis tersebut.
Tentu saja resepsionis tersebut tidak asing lagi dengan nama Fernando, yang selalu menggodanya jika pria itu sudah kembali ke apartemen.
Dia mengatakan jika Nando sangat sehat, tidak ada sama sekali tanda-tanda jika pria itu sakit, bahkan resepsionis tersebut mengatakan jika Nando keluar dengan wajah ceria tersenyum bak orang yang sedang mendapatkan hadiah.
Huft
Rifal menghembuskan nafasnya gusar itu semua dapat dirasakan oleh Valen, karna Valen sedang asik memainkan rambut milik Rifal yang sudah panjang.
"Sejak kapan anak itu pandai meninpu, jika menipu seorang wanita itu sudah biasa, ini.... Bosnya sendiri dia tipu. Apa Dia tidak takut untuk dipecat," kata Rifal membuat Valen tertawa sehingga Rifal melihat kearah Valen.
"Dia butuh hiburan," kata Valen.
"Setidaknya jujur."
"Kalau dia jujur, emangnya kamu kasi?"
Rifal terdiam.
__ADS_1
"Awas aja lo, Nan. Gue tunggu lo sampai balik," geram Rifal mengingat pesan Nando dimana dia mengatakan jika badannya mules.