
Pagi tadi Rifal melarang Valen untuk berangkat bekerja karna dia sedang sakit. Dengan alasan, jika dia tidak ingin direpotkan jika Valen sampai sakit.
Namun, Valen tidak menghiraukan ucapan Rifal, karna nyatanya dia tetap berangkat bekerja. Karna dia mempunyai kewajiban di rumah sakit. Apa lagi dia akan mengecek kondisi Adelia, karna sudah satu minggu lebih dia bekerja sama dengan Nathan untuk memantau keadaan Adelia.
Seperti sekarang ini, Valen sedang berjalan di koridor rumah sakit dengan setelan jas kebanggaannya sebagai seorang dokter. Dokter merupakan profesi yang sangat mulia karena bisa membantu orang-orang.
Valen berjalan dengan sedikit lemas, entah mengapa pagi-pagi dia menjadi lemas seperti ini. Padahal kemarin dia baik-baik saja. Sebenarnya Valen ingin istrihat namun dia sudah membuat janji dengan Nathan akan memeriksa kondisi Adelia pagi ini.
Bruk
Untung saja tangan kekar dengan sigap menangkap tubuh Valen yang sempat oleng, karena dia merasakan pusing.
Valen menatap tangan kekar yang menangkap tubuhnya.
Nathan!
Rupanya Nathan yang menangkap tubuhnya, lagi dan lagi cowok itu datang tepat waktu untuk membantu Valen. Andai saja bukan tangan kekar Nathan yang menangkapnya sudah dipastikan jika Valen akan jatuh dilantai.
"Makasih," kata Valen dengan lemas lalu memperbaiki jasnya.
Nathan hanya mengangguk mengiyakan ucapan Valen. Dia memperhatikan dengan seksama wajah Valen yang sangat pucat, dia sangat lemas.
Valen langsung melanjutkan langkah kakinya, sementara Nathan masih menatap punggung Valen yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan dirinya.
Valen tidak baik-baik saja, karna terlihat jika wajah gadis itu pucat serta tubuhnya lemas. Yah, Nathan memperhatikan itu semua.
Nathan merogoh saku celananya, lalu mengirimkan pesan disalah satu kontaknya. Lepas mengirimkan pesan dia kembali berjalan di koridor dengan tegap.
"Dokter, Nathan!"
Seketika langkah kaki Nathan terhenti, mendengar suara meneriaki namanya. Seluruh tatapan terarah pada sosok gadis yang memangil nama Nathan penuh semangat dalam dirinya.
Banyak yang berbisik-bisik karna gadis itu meneriaki nama Nathan.
__ADS_1
Gadis dengan rambut terikat itu langsung menghampiri Nathan.
Nathan membalikkan badannya, dan sudah melihat sosok gadis dengan almamater warna biru melekat ditubuhnya. Nathan menyeritkan alisnya, pasalnya sudah tidak ada latihan praktek namun gadis itu masih berada dilingkungan rumah sakit.
Yah, dua hari yang lalu Lea sudah selesai praktek dirumah sakit tempat Nathan bekerja. Namun gadis itu masih berada dilingkungan rumah sakit. Apa gadis itu lupa jika dia sudah tidak melakukan praktek lagi?
"Dokter Nathan kemana aja sih? Lea cariin," kata gadis berusia 19 tahun itu kepada Nathan. Tentu saja Nathan heran dengan perkataan Lea.
Tidak haruskan jika Nathan pamit kepada Lea? Lagian mereka juga tidak akrab.
"Lea kesini mau tanya sama Dokter Nathan. Perihal hari itu dokter Nathan mau bicara sama Lea. Tapi nggak jadi, karna dokter udah pergi," lanjutnya membuat Nathan mengingat kejadian waktu itu.
"Lupakan saja, Lea," kata Nathan lalu pergi meninggalkan Lea. Gadis itu menatap punggung kokoh milik Nathan yang sudah pergi.
Padahal, pagi ini dia ada kelas pagi. Namun, gadis itu hanya singgah dirumah sakit karna rasa penasarannya perihal waktu itu. Namun jawaban yang dia terima tidak sesuai dengan harapannya. Dia kira, Nathan ingin mengutarakan perasaannya.
"Dokter Nathan nggak jelas banget sih!" kesalnya lalu membalikkan badannya untuk segera pergi dari rumah sakit, untuk segera ke kampus pagi ini.
***
Tok...Tok...Tok...
Ruangan Valen diketuk dari luar, dia membuka matanya." Masuk," perintah Valen kepada seseorang yang mengetuk pintunya. Padahal Valen tidak ada janji dengan siapapun diruanganya.
Rupanya yang masuk merupakan perawat dirumah sakit ini."Maaf dokter Valen, menggangu waktunya, saya disuruh Dokter Nathan membawakan obat ini untuk dokter Valen," kata perawat itu meletakkan obat diatas meja Valen dan juga air mineral.
Valen terdiam sejenak. Itu berarti Nathan memperhatikan wajahnya yang tidak baik-baik saja. Jelas saja, karna dia hampir jatuh dilantai karna merasakan pusing. Dan, untung saja Nathan datang tepat waktu.
"Makasih," jawab Valen dengan senyuman diwajahnya. Perawat itu mengangguk mengiyakan ucapan Valen lalu keluar dari ruangan Valen.
Valen membuka obat yang dibawah oleh perawat tadi, lalu meminumnya. Valen tidak tau, kenapa dia tiba-tiba lemas, padahal kemarin dia baik-baik saja.
Ting
__ADS_1
Handpone milik Valen bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Tangannya membuka pesan yang dikirim oleh Nathan. Rupanya pesan yang dikirim Nathan membuat Valen tersenyum samar.
Karna isi pesan milik Nathan mengatakan jika dia yang akan memeriksa kondisi Adelia dengan Dokter lainnya, karna dia mengerti keadaan Valen saat ini.
Perhatian kecil Nathan mampu membuat hati Valen menjadi hangat. Dalam keadaan seperti ini yang perduli padanya hanya sosok Nathan saja. Sedangkan Rifal? Sudah, jangan ditanyakan lagi.
***
Rifal sedari tadi tidak fokus dengan berkas diatas meja kerjanya yang harus dia periksa. Fikiranya saat ini berkelana kepada sosok Valen. Bagaimana tidak jika Valen berangkat kerumah sakit dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
Rifal melirik handponenya, dia ingin mengirimkan pesan kepada Valen namun dia juga gengsi. Apa lagi pagi tadi perkataannya tidak mengenakan.
"Valen sakit apa?" menolognya pada dirinya sendiri, seraya menyandarkan kepalanya dikursi. Tidak berfikir jika Valen hanya kecapean saja efek pekerjaan dirumah sakit yang padat.
Valen menutup mulutnya, karna tiba-tiba saja dia merasakan ingin memuntahkan sesuatu, perutnya bergejolak untuk segera dia keluarkan. Valen langsung berlari cepat masuk kedalam kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu dalam perutnya.
Gadis itu mengeluarkan cairan putih dari dalam mulutnya, hanya cairan putih saja namun mampu membuatnya selemas ini. Valen tidak tau ada apa dengan dirinya?
Dia memutar keran air untuk berkumur-kumur dan membasahi wajahnya. Dia menatap wajahnya didepan cermin. Wajahnya sangat pucat.
Dua sangat lemas karena habis muntah.
Ceklek
Valen membuka pintu kamar mandi, dia terdiam didepan pintu kamar mandi karna melihat Nathan berada diruanganya. Mata mereka berdua saling bertatapan. Nathan berdiri dari tempat duduknya karna melihat wajah Valen sangat pucat.
"Lo sakit, Len." Terdengar suara Nathan khawatir kepada Valen.
" Saya hanya kecapean dokter, Nathan.x
Nathan mengambil tisu diatas meja Valen. Tanganya bergerak menghapus jejak air yang masih menetes diwajah Valen.
Valen terdiam saat Nathan melakukan tindakan seperti padanya, jaraknya sangat dekat sehingga Valen bisa merasakan hembusan nafas Nathan saat ini.
__ADS_1
"Makasih, tapi Dokter Nathan tidak perlu melakukan itu semua." Valen langsung menjaga jarak dari Nathan. Dia merasa sangat bersalah berdekatan seperti ini dengan Nathan.