Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menunggu Rifal pulang


__ADS_3

Perjalanan pulang


Saat ini, Rina dan Valen sudah pulang dari Mall dengan supir yang menjemput mereka atas perintah Rifal.


Banyak sekali belanjaan Rina dan juga Valen, bahkan, mobil tidak bisa menampung barang-barang yang mereka beli, alhasil mereka memanggil taxi untuk membawa sebagian barang belanjaan mereka.


Valen mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Sudah seharian ini dia tidak membuka akun Sosmednya, terutama Instagram.


Saat membuka Instagram, dia langsung melihat stori Rara paling pertama. Dia penasaran dan melihat stori Rara yang tengah berada di Mall bersama anak-anak dan juga Kayla.


“Bisa-bisanya gue nggak ketemu mereka,” oceh Valen melihat stori Rara.


Bosan melihat stori di Instagram, dia kembali menyimpan ponselnya, dia kesal karna semenjak Rifal pergi pria itu belum mengabari dirinya dia kemana.


“Pokoknya, gue nggak bakalan ngomong Rifal kalau dia udah balik,” kesal Valen.


Mobil yang di tumpangi Valen masuk kedalam pekarangan rumah. Valen langsung keluar dari mobil dan menyuruh supir untuk membawa barang-barang belanjanya.


Dia sangat kesal, karna Rifal membuatnya semakin kesal sebab kepergian pria itu, tanpa pamit kepadanya dan tanpa mengatakan dia mau kemana.


Valen langsung menutup pintu kamarnya, lalu duduk di tepi ranjangnya. Dia merasa gerah karna beberapa jam berkeliling Mall bersama dengan Rina.


Dia mengambil handuk untuk segera mandi. Untuk Menyegarkan kepalanya dan juga hatinya yang panas akibat Rifal.


Valen menyalakan shower membasahi kepalanya, seraya memejamkan matanya. Dia mengusap perutnya yang sudah membuncit.


Valen tersenyum bahagia, dia sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya nanti. Diantara sahabatnya, dirinya yang pertama menikah, namun dirinya yang dibelakang di karunia anak.


Valen tidak memikirkan nama untuk anaknya, karna Lea sudah lebih dulu memilihkan nama untuk calon anaknya, dan Valen menghargai itu.


Sekitar tiga puluh menit didalam kamar mandi, akhirnya Valen telah keluar dari kamar mandi menggunakan baju daster yang dia beli tadi, sehingga perutanya kentara buncit.


Valen sudah meminta cuti kepada kepala rumah sakit, sampai dia melahirkan. Karna Rifal tidak mengizinkannya bekerja dengan kondisinya yang tengah hamil.


Valen mengeringkan rambutnya di depan cermin, lepas itu dia membaringkan tubunya diatas kasur.


Dia melirik jam di dinding kamarnya, dan tanpa sadar dia mulai menutup matanya karna kecapean.


Ughhhh


Valen menggeliat dari tidurnya, dia tersentak kaget karna dia tidak sadar telah tidur, dia melihat jam di dinding sudah pukul delapan malam.


“Rifal belum pulang jam begini?” Menolog Valen dengan rasa kantuk masih menyerang.


Dia bangun dari tempat tidurnya dan mengecek ponselnya, dia melihat panggilan dari Rina sebanyak sepuluh kali dan pesan menyuruh Valen untuk makan malam.


Huft

__ADS_1


Valen menghembuskan nafasnya berat, tidak ada satupun notif Telfon dari Rifal, padahal dari sore pria itu pergi dan ini sudah malam, Rifal belum juga kembali.


Valen berjalan menutup gorden jendelanya yang tidak sempat dia tutup tadi.


“Rifal kemana sih,” jengkel Valen seraya berjalan ke kasur miliknya lalu kembali membaringkan tubunya.


Dia ingin menelfon Rifal, menanyakan keberadaan pria itu namun dia juga gengsi.


Valen sibuk berguling-guling diatas kasurnya seraya memainkan ponselnya menunggu pesan atau Telfon dari Rifal.


Satu jam berlalu, namun Valen belum juga tidur dan masih setia menatap ponselnya.


Lima jam berlalu, Rifal belum juga pulang dan belum mengabari Valen, Valen melirik jam di dinding kamarnya sudah hampir pukul tiga subuh.


Valen menguap, dan akhirnya dia kembali tertidur dengan ponselnya di sampingnya menemani dirinya.


Berselang satu jam Valen tidur, pintu kamar dibuka oleh Rifal. Dia menyalakan lampu kamar dan melihat Valen sudah tertidur dengan lelap.


Dia berjalan mendekati Valen lalu memakaikan Valen selimut.


Cup


Satu ciuman mendarat di kening milik Valen, lalu Rifal berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karna dia sedang bau alkohol.


Sekitar sepuluh menit membersihkan tubuhnya, akhirnya Rifal telah usai.


Dia masih memikirkan Elga, sehingga dia pulang subuh seperti ini karna dia mampir ke club untuk menenangkan pikiranya.


Huft


Hembusan nafas berat keluar dari mulut Rifal. Dia memejamkan matanya seraya memeluk Valen lalu tertidur karna sudah pukul lima subuh.


Sinar mentari menerobos masuk jendela menembus gorden kamar milik Rifal dan Valen. Kedua pasangan suami istri itu masih tertidur lelap karna mereka berdua tidur subuh, dengan Valen menunggu kepulangan Rifal, dan Rifal menenangkan pikiranya.


Pukul sembilan pagi, mereka berdua belum bangun dari tidurnya, sedari tadi Rina dan asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Rifal dan Valen untuk sarapan namun keduanya tidak mendengar ketukan pintu karna saking lelapnya dia tertidur.


“Gimana, apa Rifal dan Valen sudah bangun?” Tanya Rina kepada pembantu yang dia suruh untuk membangunkan Valen dan Rifal.


“Tidak ada sahutan dari dalam kamar tuan Rifal,” jawab bibi itu membuat Rina mengangguk.


“Kita makan duluan, mungkin saja mereka berdua masih bermesraan jam begini, kamu pernah mudah, masa hal begitu saja kamu tidak paham,” ucap Aska menggelengkan kepalanya membuat Rina refleks mencubit perut suaminya itu.


“Aku cuman khawatir sama Valen, tadi malam dia tidak makan malam bersama kita,” jelas Rina.


“Valen nggak bakalan biarin dirinya kelaparan di rumahnya sendiri, kalau dia lapar dia akan makan,” ucap Aska dan tidak dibalas oleh Rina lagi.


Rina dan Aska hanya makan berdua saja, karna Rifal dan Valen belum juga bangun.

__ADS_1


Pukul sebelas siang.


Rifal dan Valen belum juga bangun jam begini.


Valen menggeliat dan mengucek matanya karna sinar matahari langsung menyapa matanya saat dia membuka kedua matanya.


Dia melirik perutnya, yang dimana tangan kekar tengah memeluknya dengan begitu erat, mengingat hal semalam membuat Valen kesal kepada Rifal.


Valen melihat wajah tampan milik Rifal, ingin sekali dia mencium wajah suaminya namun dia masih marah pada Rifal.


“Ingat, Len. Lo nggak boleh ngobrol sama Rifal, itu udah janji lo sama diri lo sendiri,” menolog Valen pada dirinya sendiri lalu menyingkirkan tangan kekar milik Rifal yang tengah memeluknya.


Valen memegang perutnya yang bunyi, sejak semalam dia belum makan dan sekarang sudah pukul sebelas siang.


Terlebih dahulu Valen masuk kedalam kamar mandi lalu membersihkan wajahnya dengan sabun dan menyikat gigi.


Dia malas mandi semenjak dia hamil. Lepas itu, Valen keluar dari kamar mandi dan melirik Rifal yang masih tertidur lelap.


Valen keluar dari kamar lalu menuruni anak tangan untuk segera turun untuk mengisi perutanya dengan makanan.


“Maaf yah, sayang. Mamah nggak merhatiin kamu,” sedih Valen mengusap perutanya dengan lembut seraya menggeser kursi.


*****


Jangan lupa like dan komen yah🙏🙏🙏


Itu sangat berpengaruh untuk author untuk meningkatkan mood menulis. Tinggalkan jejak kalian.


Mohon maaf untuk readers, jarang update. Bulan ini author akan up rutin, Insyaallah🥰 asalkan like dan komen.


Jangan lupa follow ig author yahhhhhh


@ananda.putri815


Yuk, saling save nomor wa, biar saling berinteraksi.


Ini nomor wa baru author yah






Cantumkan nama kalian kalau minta save yah hehe🥰

__ADS_1


__ADS_2