
Pagi-pagi seperti ini, Frezan sudah rapih dengan setelan jas kantornya, sedari tadi mulut Rara sangat gatal untuk mengajukan pertanyaan mengenai Daniel, semalam.
"Sayang," panggil Rara.
"Hmm," Frezan hanya berdehem sembari memperbaiki jasnya didepan cermin.
"Kamu kenapa sih nggak bilang-bilang kalau Daniel kerja diperusahaan kamu, apa lagi dia jadi tangan kanan kamu," Rara mengajukan pertanyaan pertama untuk Frezan, suaminya yang telah bercermin didepan cermin.
"Daniel udah berapa lama kerja sama kamu?" tanyanya lagi membuat Frezan membelakangi cermin menatap Rara yang tengah duduk diatas tempat tidurnya menatap Frezan.
"Nggak semuanya harus kamu tau, Ra," kata Frezan dengan lembut menghampiri Rara.
Cup
Satu kecupan mendarat dikening milik Rara.
Rara mengerucutkan bibirnya kearah Frezan membuat Frezan menggelengkan kepalanya kearah istrinya itu.
"Kapan?" tanya Rara membuat Frezan menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rara.
Rara memanyunkan bibirnya, "sejak kapan Daniel kerja diperusahaan kamu?" tanya Rara kepada Frezan.
"Gunanya buat kamu tau apa?" tanya balik Frezan membuat Rara tambah memanyunkan bibirnya.
"Karna Daniel 'kan pernah dalam hidup kita semua," kata Rara membuat Frezan mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rara saat ini.
"Jadi....Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Kurang lebih empat tahun," kata Frezan sukses membuat Rara membuka mulutnya saking terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Frezan.
Jadi, selama ini Daniel tidak hilang kabar? Dia bekerja diperusahaan Frezan yang tidak dia ketahui.
Kenapa Frezan tidak memberitahukan akan hal ini kepadanya?
"Kenapa?" tanya Rara nampak ambigu dengan mulut masih sedikit terbuka.
Frezan menggelengkan kepalanya," udah yank, lebih baik kita turun sarapan. Sepertinya kamu butuh makan," kata Frezan mengajak istrinya itu untuk segera makan.
"Sayang....." rengeknya kepada Frezan.
Frezan langsung menarik tangan Rara untuk segera turun dari tempat tidurnya untuk segera sarapan. Untung saja dia sudah cuci muka, tak dipungkiri selama Rara menikah dia selalu bangun pagi untuk menyiapkan Frezan perlengkapannya untuk ke kantornya.
Rara langsung menuruni tangga bersama dengan Frezan.
__ADS_1
Sementara Kayla masih sibuk membangunkan Elgara, pria itu tidur seperti orang mati saja, seakan-akan tidak ingin bangun lagi.
"EL!" teriak Kayla. Ini panggilan yang keseksian kalinya untuk Elgara. Elgara hanya menggeliat lalu kembali menutup matanya. Itu terus yang dilakukan oleh Elga.
"El, kalau kamu nggak bangun, aku bakalan nyiram kamu pakai air panas!" ancam Kayla. Otomatis mata Elgara terbuka dengan lebar mendengar Kayla ingin menyiramkannya dengan air panas.
"BANGUN!"
"IYA, KAY!"
Elgara langsung menyibakkan selimutnya untuk segera turun dari tempat tidurnya. Kayla menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan pelan.
"EL!" geram Kayla lagi melihat Elgara tidak kekamar mandi, melainkan duduk disofa seperti sedang meresapi hidupnya saat ini.
"Aku udah bangun Kay, kamu nggak lihat mata aku udah terbuka!" balas Elgara membuat Kayla menatap tajam Elgara.
"Aku nyuruh kamu bangun buat mandi, El. Bukan buat duduk santai diatas sofa!" geram Kayla.
"Udah Kay, cerewet banget sih jadi istri!" kata Elgara bangun dari sofa yang dia duduki.
"Jangan mandi yang lama, El. Ini hari pertama kamu kerja!" peringat Kayla setelah Elgara masuk kedalam kamar mandi. Dia tidak mau jika Elgara mandi berjam-jam lamanya.
"Cerewet!"
BRUK
Kayla membereskan tempat tidurnya, karna sedari tadi dia ingin membereskan tempat tidurnya namun Elgara belum bangun. Padahal hari ini hari pertama Elgara bekerja diperusahaan Frezan.
Elgara dan Kayla belum tau pekerjaan apa yang akan diberikan Frezan untuk Elgara.
Sekitar tiga puluh menit, Elgara keluar dari kamar mandi menggunakan baju dalam berwarna hitam.
"Kay!" panggil Elgara membuka lemari.
"Kemeja warna hitam mana?" tanyanya kepada Kayla.
"Diatas tempat tidur!" sahut Kayla dari balkon kamar. Dia sedang melihat pesan yang dikirimkan oleh seseorang untuknya.
Dia tidak tau, siapa nomor baru yang mengirimkannya pesan berupa foto. Kayla langsung mengepalkan tangannya saat melihat foto tersebut.
Rasanya dia ingin meninju wajah seseorang sekarang ini juga, saat melihat foto tersebut.
Kayla meninggalkan balkon kamarnya, Elgara yang melihat raut wajah Kayla menyeritkan alisnya.
__ADS_1
"Kay," panggil Elgara. Dia tau jika Kayla sekarang mempunyai masalah, terlihat dari raut wajahnya.
Kayla menarik nafasnya panjang, dia tidak boleh emosi pagi-pagi seperti ini, apa lagi Elgara belum juga berangkat kerja.
"Kamu kenapa?" tanya Elgara dan dibalas gelengan kepala oleh Kayla.
"Nggak apa-apa," jawabnya. Elgara hanya mengangguk, meski dia tau jika Kayla saat ini berbohong kepadanya.
"Pasangin dasinya, Kay," kata Elgara.
Kayla menghampiri Elgara lalu memasangkan dasinya.
Elgara memegang wajah Kayla setelah Kayla berhasil memasangkan dasinya.
"Kalau ada masalah, bilang sama aku Kay. Walaupun kita sering berantem nggak jelas," kata Elga.
"Aku nggak punya masalah, El," kata Kayla membuat Elgara mengedikkan bahunya.
"Hanya kamu yang tau diri kamu sendiri, Kay. Apa kamu jujur atau nggak," kata Elga membuat Kayla memutar bola matanya malas.
"Sok bijak kamu, El," kata Kayla, "yaudah turun, sarapan," lanjutnya dibalas anggukan kepala oleh Elgara.
Kayla dan Elga sudah melihat Rara seorang diri tengah malam roti, kemana Frezan? Apakah jam begini pria itu belum siap-siap untuk ke kantor?
Elgara dan Kayla langsung menggeser kursi, terlebih dahulu Kayla memberikan roti untuk Elgara, suaminya.
"Suami lo, kemana Ra? Belum bangun?" tanya Elgara dengan santai sembari memasukkan roti yang telah diolesi oleh Kayla selai nanas.
Rara melirik Elgara, "kata siapa?" tanya Rara meminum susu yang dibuat sendiri olehnya.
Elgara menatap Rara dengan tatapan jengah, dia baru saja mengucapakan kata itu tadi, dan Rara bertanya kata siapa? Untung saja saudaranya, jika bukan sudah dia somprot.
"Kat gue lah, Ra. Kan barusan gue bilang," kata Elgara, "apa suami lo itu belum siap-siap? Nggak patuh untuk dicontoh, padahal dia pemimpin perusahaan," kata Elgara dramatis dengan menggelengkan kepalanya membuat Kayla menatap jengah suaminya itu.
"Nggak kok," kata Rara dengan santainya, "udah setengah jam lebih suami Rara udah berangkat kerja," lanjutnya membuat Elgara meneguk salivanya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih, Ra," kata Elga dengan buru-buru meminum kopinya membuat Kayla tertawa kecil.
"El!" panggil Kayla membuat langkah kaki Elgara terhenti.
"Apa lagi sih Kay, kamu nggak tau kalau aku udah telat!" gerutu Elga.
"Kamu belum Salim sama istri kamu, kamu mau rejeki kamu berkurang," kata Kayla membuat Rara Elgara menatap Kayla dengan tatapan geram.
__ADS_1
Elgara sudah terlambat, tapi Kayla membuatnya harus berpikir lagi.
"Kebalik, Kay!"