
Rifal berjalan dikoridor rumah sakit begitu buru-buru sehingga jika seseorang melihatnya mengira dia ingin menemui keluarganya yang sakit parah.
Lea langsung berdiri dari kursi yang dia duduki saat melihat sosok jangkung sedang berjalan kearahnya dengan wajah yang sangat sulit untuk ditebak.
"Valen mana?" pertanyaan tersebut langsung terlontar dari mulut Rifal.
"Dokter Valen masih ditangani sama dokter kandungan. Dokter Valen baik-baik aja kok. Baby R juga aman."
"Baby, R," menolog Rifal yang tidak tau apa maksud Lea saat ini.
Lea mengganguk mengiyakan ucapan Rifal. "Calon anak dokter Valen udah Lea kasih nama. Yaitu baby, R."
Rifal langsung melototkan matanya mendengar perkataan, Lea. Dia baru dikejutkan dengan kabar kehamilan Valen dan sekarang dia dikejutkan lagi karna tetangganya ini sudah memberikannya nama.
"Om Rifal jangan protes, yah." Lea hanya cengengesan kearah Rifal membuat Rifal menggelengkan kepalanya. Tidak mengangguk maupun menolak nama yang telah diberikan Lea.
Kandungan Valen masih baru dan gadis gesrek itu sudah memberikan nama untuk anak yang dikandung Valen?
"Biar saya yang jaga, Valen. Kamu boleh pulang," kata Rifal dan dibalas gelengan kepala oleh Lea.
"Nggak mau! Lea mau ngelus perut Dokter Valen dulu. Lagian, Lea udah kasi nama buat anak dalam kandungan dokter Valen," kata gadis itu berkata keras menolak untuk pulang.
"Kamu yakin nggak mau pulang?" tanya Rifal terlihat santai dan dibalas anggukan kepala setuju oleh Lea.
"Yakin?" Sekali lagi Rifal memberikan pertanyaan tersebut.
"Yakin dong om!" Lea membalasnya dengan semangat empat lima kepada sosok pria dewasa dihadapannya.
"Kamu nggak penasaran dengan hadiah yang saya kasih untuk kamu?"
Lea mengganguk, sedetik kemudian dia melototkan matanya. Apa benar Rifal telah memberikannya hadiah? Karna sudah mencari tau tentang Valen?
"Om Rifal serius?" tanya gadis itu memastikan.
Rifal mengangguk mengiyakan ucapan Lea. "Kalau penasaran, lebih baik kamu pulang lihat hadiahnya. Saya sudah kasi tau tangan kanan saya untuk membawakan hadiah untuk kamu." Rifal berkata dengan serius membuat Valen
"Kalau gitu Lea, pulang duluan yah!" Lea langsung menyalami tangan milik Rifal dengan semangat menggebu-gebu membuat Rifal menatapnya dengan tatapan datar.
"Salam sama dokter Valen!" gadis itu melambaikan tangannya kearah Rifal sebelum benar-benar pergi dari tempat tersebut.
Rifal yang melihat tingkah Lea menggelengkan kepalanya sembari duduk dikursi tempat Lea tadi.
Ceklek....
__ADS_1
Belum ada satu menit Lea pergi, pintu kamar yang ditempati Valen dibuka oleh dokter kandungan yang menangani Valen tadinya.
Tentu saja Rifal langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Gimana kondisi Valen?" tanya Rifal kepada dokter tersebut.
"Ahk iya.... Dokter Valen baik-baik saja," kata dokter itu sedikit gugup. Pasalnya dia telah diberikan amanah dari Valen untuk tidak memberi tahukan mengenai kandungannya kepada siapapun, termasuk Rifal.
"Bagaimana dengan kandungannya?" tanya Rifal membuat dokter yang menangani Valen jadi gelagapan. Bagaimana bisa Rifal tau akan hal ini?
"Ha? Kandungan? Kandungan apa? Dokter Valen nggak hamil." Elak dokter itu sembari tersenyum kikuk.
Rifal menatap dokter dihadapannya. Meskipun dokter tersebut tiga tahun lebih mudah darinya. Membuat dokter tersebut meneguk salivanya susah payah mendapatkan tatapan mengerikan dari Rifal.
"Saya sudah tau, kalau Valen hamil!"
Dokter tersebut langsung tersentak kaget.
"Katakan, bagaimana keadaan kandungan Valen. Sebelum saya mengacak-acak rumah sakit ini!" ancam Rifal membuat dokter tersebut menjadi gelisah.
-"Kandungan dokter Valen baik-baik saja." Akhirnya dokter tersebut menjawab dengan jujur.
Maafkan saya dokter Valen. Saya takut jika suami anda mengacak-acak rumah sakit ini.
Rifal.
"Satu bulanan."
Dokter yang menangani Valen langsung pergi saat melihat tatapan Rifal yang sangat tidak bersahabat. Apa lagi raut wajah pria itu selalunya datar membuat dokter tersebut takut jika lama-lama berdekatan dengan Rifal.
Ceklek....
Rifal membuka pintu kamar Valen, dia melihat sosok Valen sedang tertidur diatas bansal dengan selang infus melekat ditangannya.
Rifal langsung mendudukkan bokongnya diatas sofa sembari melihat Valen yang tengah tertidur. Rifal tau jika perempuan itu sedang istirahat sesuai dengan dokter yang menangani Valen.
Huft
Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Rifal. Dia tidak tau jika selama ini Valen tengah hamil, apa lagi usia kandungan Valen masih terbilang mudah.
Bagaimana jika Rifal mengetahui jika Valen hamil saat Valen tengah hamil besar?
Rifal melihat Valen masih tidur nyenyak, terlihat wanita itu tidak terganggu sama sekali.
__ADS_1
Rifal melangkahkan kakinya untuk menuju bansal milik Valen yang tengah tertidur. Dia mengambil kursi lalu duduk didekat bansal milik Valen dengan kursi.
Ini yang kedua kalinya dia melihat Valen berbaring dirumah sakit. Pikiran Rifal langsung melayang saat dimana Valen masuk rumah sakit. Dia pikir yang ingin disembunyikan oleh Valen saat berbicara dengan Rara adalah tentang kesadaran Adelia.
Ternyata bukan sama sekali!
Rifal baru mengerti jika yang ingin sembunyikan Valen saat itu adalah kandungannya. Mengapa dia harus menyembunyikan semua untuk Rifal? Rifal terus saja bertanya pada dirinya sendiri mengapa Valen merahasiakan kehamilan nya, dan tidak memberitahukan kepadanya?
Tangan Rifal bergerak memegang perut datar Valen. Tangannya berhasil memegang perut datar milik Valen. Ada rasa haru, bahagia, kecewa dalam dirinya saat tangannya berhasil memegang perut Valen.
"Maafin, Daddy sayang," kata-kata itu keluar dari mulut Rifal sembari tersenyum haru. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
Rifal melepaskan tangannya, dari perut Valen lalu menatap Valen yang tengah tertidur nyenyak tanpa terganggu sama sekali saat tangan kekarnya menyentuh perutnya.
Tangannya mengambil tangan Valen yang tengah terpasang selang infus.
Cup....
Satu kecupan mendarat dipunggung tangan Valen.
"I am sorry."
***
Sudah setengah jam Lea berbaring ditempat tidurnya. Namun gadis itu belum juga sadar dari pingsannya padahal dia sudah setengah jam pingsan.
"Anak ini selalunya bikin susah!" ngomel sang mamah memberikan Lea minyak telon agar gadis itu bangun dari pingsannya.
Mata Lea mengerjap membuat sang Mamah langsung berkacak pinggang. Soalnya, gadis itu bangun lalu kembali pingsan.
"Kalau kamu pinsan lagi, Mamah akan tinggalin kamu," ancam Mamah membuat Lea yang ingin kembali menutup matanya terurungkan.
Bagaimana tidak, jika hadiah yang diberikan oleh Rifal diluar ekpsestasinya. Membuat Lea selalu memukul pipinya jika dia tidak mimpi atau salah lihat.
"Mobil Lea mana, Mah?" tanya gadis itu membuat Mamah nya menggelengkan kepalanya gusar.
"Mobil kamu diluar. Nggak bakalan ada yang culik," kata Mamah.
"Jadi Lea nggak mimpi!" pekik gadis itu membuat mamahnya bernama Susan memutar bola matanya malas melihat tingkah anaknya.
"Kamu nggak morotin Rifal 'kan? Sehingga dia beliin kamu mobil mewah?" Susan menyipitkan matanya kearah anaknya itu.
"Itu hadiah untuk Lea karna udah nyelasain misi Om Rifal!" Lea langsung menyibakkan selimutnya untuk segera turun tempat tidurnya.
__ADS_1