
Kayla membuka matanya, dia belum melihat keberadaan Elga. Berarti pria itu tidak pulang semalam? Kemana Elga?
Kayla mencuci wajahnya lalu menyikat giginya untuk segera turun kebawah membuat sarapan.
"Ra," panggil Kayla melihat perempuan itu sedang membuat sarapan bersama dengan salah satu art.
"Kay," kata Rara melihat Kayla tengah menghampirinya. "Semalam kamu kemana Kay, kasihan sikembar semalam nangis," lanjutnya kepada Kayla.
"Maaf Ra," Kayla hanya mengucapakan kata maaf kepada Rara dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
"Oh iya Ra, Elga mana?" tanya Kayla membuat pergerakan tangan Rara tertenti.
Rara melirik Kayla yang masih mengenakan baju tidur bermotif bunga-bunga. "Emangnya bang Elga nggak ada dikamar?" heran Rara kepada Kayla.
"Nggak ada, semalam gue pulang, Elga udah nggak ada," terang Kayla kepada Rara.
"Masa sih nggak ada. Semalam bang Elga yang bangunin aku buat kasi ASI ke Dyra," kata Rara. Dia masih mengingat jika saudaranya itu memangilnya yang tengah tertidur hanya untuk menyusui Dyra.
"Terus, Elga kemana?" bingung Kayla. Karna semalaman memang Elga tidak ada dikamarnya.
"Apa mungkin udah berangkat kerja," beo Rara membuat Kayla memutar bola matanya malas. Padahal Kayla sudah menjelaskan jika semalaman Elga sudah tidak ada.
"Kan gue udah bilang, semalam Elgara nggak ada," kata Kayla membuat Rara cengengesan kearah Kayla.
"Terus, bang Elga kemana?" tanya Rara membuat Kayla mengedikkan kedua bahunya.
"Mana gue tau, semalam 'kan gue keluar," kata Kayla membuat Rara menatap sahabatnya itu.
Meski sifat Rara kadang kekanak-kanakan, namun dia bisa berpikir dewasa juga.
"Kay, kalau kamu marahan sama bang Elga jangan sampai pergi dari rumah, yah. Itu bakalan buat rumah tangga kamu bakalan jauh dari kata baik-baik aja kalau kamu pergi dari rumah. Kasihan juga sikembar. Urusan rumah tangga harus diselesaikan dengan kepala dingin," kata Rara dengan bijak membuat Kayla tersenyum simpul lalu mencubit kedua pipih Rara.
"Sorry Ra, semalam gue bete banget sama Abang lo," kata Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
"Tapi jangan sampai ninggalin rumah yah, Kay. Kasihan sikembar, apa lagi semalam kamu belum kasi dia Asi dari pagi," kata Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Kayla.
"Gue bantu lo buat sarapan," kata Kayla mengambil bawang lalu mengupasnya.
"Kay," panggil Rara.
"Hmm," Kayla hanya membalasnya dengan deheman karna dia sedang mengupas bawang merah.
"Kira-kira bang Elga kemana yah?" tanya Rara nampak khawatir. Saat mengetahui jika saudaranya semalam itu tidak ada dikamar.
__ADS_1
"Palingan juga ke hotel," jawab Kayla tanpa melihat kearah Rara.
"Kok kamu tau, Kay?"
Kayla melirik Rara, "kalau gue berantem sama Elga, dia selalu ke hotel buat tidur," kata Kayla membuat mulut Rara terbuka mendenger penuturan dari Kayla. Rara pikir ini pertama kalinya Kayla dan Elga berantem ternyata dia salah.
"Tapi gue sama Elga nggak berantem berat kok," sambungnya agar Rara tidak memikirkan hal itu . Apa yang dia katakan memang benar.
Setiap seseorang yang berumah tangga pasti akan merasakan namanya adu mulut antara suami dan istri.
Kayla dan Rara melanjutkan acara masakannya, sebelum Frezan berangkat kerja. Setelah sarapan masak, Rara dan Kayla menyusun makanan tersebut keatas meja makan. Sementara art dirumah Rara membereskan dapur.
"Akhirnya, selesai juga," gumam Rara melihat masakan pagi ini sudah tertatah rapih diatas meja.
"Gue keatas dulu yah, Ra. Gue mau kasi asi buat sikembar," kata Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Rara juga meninggalkan meja makan untuk membangunkan Frezan untuk segera kekantor.
"Sayang, bangun. Udah jam tujuh," kata Rara menguncangkan tubuh Frezan agar segera bangun untuk mandi.
Frezan membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah alami milik istrinya.
"Bangun!" kata Rara membuat Frezan menarik sudut bibirnya tersenyum.
"Cium dulu," kata Frezan menunjuk bibirnya sendiri.
Cup
"Itu udah," kata Rara.
Cup
Kini Frezan yang mencium kening milik Rara begitu lama. "Morning wife," kata Frezan dengan lembut lalu melepaskan ciumannya.
"Morning to," balas Rara dengan senyuman manisnya.
Frezan menyibakkan selimutnya untuk segera menuju kamar mandi.
"Sayang, mau pake kemeja warna apa?" tanya Rara sebelum Frezan benar-benar masuk kedalam kamar mandi.
"Terserah kamu aja, yang kamu pilihan aku pasti pake," kata Frezan sembari mengambil handuk.
"Mau pak jas apa?" tanyanya lagi kepada Frezan.
__ADS_1
Frezan membalikan badannya. "Terserah kamu aja sayang," kata Frezan lalu masuk kedalam kamar mandi.
Perkataan Frezan yang singkat mampu membuat pipihnya merah merona, serta hatinya berbunga-bunga. Semogah saja rumah tangganya dengan Frezan selalu begini.
Setelah tiga puluh menit mandi, Frezan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya.
Sementara Rara baru selesai melipat selimutnya.
"Baju kamu udah aku setrika," kata Rara lalu membalikkan badannya untuk menyimpan selimut kedalam lemari.
Rara langsung meneguk salivanya susah payah, saat melihat Frezan hanya mengenakan handuk, serta rambutnya yang basah turun ke wajahnya membuatnya semakin Tampan.
Benar-benar ketampanan Frezan yang tidak pernah pudar sedikitpun, semakin hari ketampanannya semakin bertambah dimata Rara maupun orang lain.
Frezan menggelengkan kepalanya, melihat mulut Rara sedikit terbuka, beginilah tingkah Rara saat Frezan telah selesai mandi. Dan tentunya Frezan sengaja akan hal itu karna suka melihat ekspresi Rara seperti ini.
"Kenapa?" tanya Frezan seakan-akan tidak tau apa yang dirasakan oleh Rara saat ini.
"Ngga kok!" jawab perempuan itu dengan cepat .
"Ngiler?" tanya Frezan.
Rara mengangguk polos, tiga detik kemudian dia melototkan matanya. Sudah bertahun-tahun menikah dengan Frezan, namun dia masih juga malu jika menyangkut seperti ini.
"Apa sih!" kesal Rara karna Frezan telah memancing otak oonya untuk mengangguk.
"Buruan pake bajunya, entar kamu telat," kata Rara berjalan kearah lemari guna untuk menyimpan selimutnya.
"Kenapa kalau aku telat?" tanya Frezan dengan Rara menutup lemari setelah dia memasukkan selimutnya.
"Nggak akan ada yang pecat aku kalau aku telat ke kantor," kata Frezan. "Karna aku bos," lanjutnya dengan bangga kepada Rara.
"Nggak baik buat dicontoh sama karyawan. Masa iya bos telat," kata Rara membuat Frezan menyungkirkan senyum tipisnya.
"Yang nggak baik nggak boleh dicontoh," balas Frezan.
Rara tidak membalas perkataan Frezan lagi, dia mengambil kemeja yang sudah dia seterika baru dia berikan kepada Frezan.
Frezan memakai kemeja berwarna biru tersebut dengan Rara yang mengandungnya.
Cup
Rara mencium pipi Frezan dengan berjinjit karna tingginya tidak sepadan.
__ADS_1
"Rara cium yah," kata gadis itu dengan tertawa kecil. Dia minta izin setelah dia sudah mencium Frezan.
"Setiap saat juga aku suka, tanpa kamu perlu minta izin," kata Frezan.