
Nathan terdiam, dia seperti menimbang-nimbang perkataan dokter Zul yang ada benarnya juga. Lagian, dia tidak akan basah basih melainkan menanyakan langsung tujuannya mengapa dia menelfon.
‘’Gimana?'' Tanya dokter Zul karna belum mendapatkan jawaban dari Nathan. ''Apa kau tidak kasihan melihatnya?'' tunjuk Zul kepada Agrif yang masih menangis terisak memanggil nama kakak cantik.
‘’Baiklah,'' final dokter Nathan membuat Zul tersenyum puas dengan jawaban yang di berikan oleh Nathan.
''Tunggu sebentar, saya meminta nomor Lea dulu sama merek,'' ucap dokter Zul yang langsung di cekat oleh Nathan.
''Tidak perlu, nomor Lea ada di saya,'' ujar dokter Nathan seraya mengeluarkan ponselnya dari sakunya.
Dokter Zul mendelik. ‘’Ternyata kau menyimpan nomornya. Tapi sok jual mahal!'' cibir Zul yang hanya di anggap angin lalu oleh dokter Nathan.
‘’Gimana?'' Tanya dokter Zul saat nathan sudah menekan nomor Lea.
Nathan menggelengkan kepalanya. ''Nggak di angkat. Padahal berdering,'' gumam Nathan membuat Zul nampak berpikir.
‘’Telfon dari orang yang dia sukai saja, tidak dia angkat. Apa mungkin dia sibuk? Atau ingin istirahat?'' celoteh Dokter Zul.
Nathan langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam saku. Sudah tiga kali dia menelfon Lea, namun gadis itu tidak mengangkat Telfon darinya.
‘’Sepertinya dia sibuk,'' gumam Nathan.
Dia pikir, saat Telfon pertamanya Lea akan mengangkatnya tanpa menunggu lama. Namun ternyata perkiraannya salah. Karna dia menghubungi tiga kali nomor Lea, namun gadis itu tidak mengangkat telfonya.
Nathan lebih dulu keluar dari ruangan Daniel.
''Gue lupa beri tau Eza soal ini,'' gumam Nathan saat keluar dari ruangan Daniel. ‘’Sebaiknya gue bicara langsung saja saat pulang dari dinas,'' menolog pria itu lalu berlalu pergi dari depan pintu ruangan Daniel.
Sementara Zul masih berada di ruangan Daniel. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karna pusing harus berkata seperti apa.
Dia ingin berlalu pergi sama seperti Nathan, namun dia juga kasihan dengan Agrif yang masih saja menangis seraya memanggil nama kakak cantik.
‘’Sepertinya kakak cantik mu sedang sibuk,'' ucap dokter Zul. Agrif melirik dokter Zul dengan mata sembab, serta hingusnya yang keluar.
Zul menahan tawa melihat wajah Agrif yang kucel, namun tetap saja tampan.
__ADS_1
‘’Dokter tau dari mana?'' Tanya Agrif dengan suara serak.
Dokter Zul menundukkan sedikit tubuhnya agar bisa mencubit pipih milik Agrif yang di penuhi dengan air mata. ‘’Karna dokter tadi nelfon kakak cantik kamu, tapi dia nggak ngangkat Telfon dari dokter.'' Zul menjelaskan dengan penuh kehati-hatian agar Agrif paham apa maksudnya.
''Tapi kenapa kakak cantik nggak kasi tau Agrif?'' Tanya anak itu masih dalam pangkuan bibi. ''Dari pulang sekolah, Agrif belum makan. Karna nungguin kakak cantik bawain Agrif nasi goreng dan menyuapi Agrif nasi goreng. Hiks!'' Agrif bercerita seraya menangis di akhir katanya.
''Kamu makan. Nanti kalau kamu sakit nggak makan, papah kamu akan semakin sedih lihat kamu,'' ujar Zul kepada Agrif agar anak itu makan.
''Papah juga nggak bangun, hiks!''
''Kalau Agrif nangis, papah bakalan gendong Agrif dan nyuruh Agrif buat diam. Tapi papah cuman diam. Nggak nyuruh Agrif buat diam!'' Tadi anak itu curhat tentang Lea. Sekarang dia berbicara mengenai papahnya membuat hati siapapun yang mendengar tangisan Agrif aja ibah.
‘’Insyaallah, papah kamu akan secepatnya sadar,''timpal dokter Zul agar anak itu diam.
‘’Dokter bohong. Udah lama dokter bilang kayak gitu, tapi papah nggak bangun sampai sekarang!''
Bibi mengusap air matanya mendengar curahan hati Agrif. Sementara dokter Zul tersenyum masam. Sudah berulang kali dia menjanjikan Agrif akan kesadaran papahnya.
Namun sekarang. Janjinya belum terbukti membuat Agrif sudah tidkk percaya omongan dokter di hadapannya ini.
Bibi menenangkan Agrif, menggendong anak itu. Sementara Zul hanya memperhatikan dari sini saja karna bibi itu membawa Agrif di dekat jendela yang terhalang kaca.
Sehingga dari sini dia melihat pengendara mobil dan motor berlalu lalang di bawah sana.
Zul sudah pamit undur diri, dia ingin ke kantin mengisi perutnya yang tengah lapar. Di tengah perjalanan menuju kantin. Dokter Zul tidak sengaja melihat Dokter Kiki dan Nathan asik mengobrol.
Dia melihat dokter Nathan tertawa kecil begitupun dengan Kiki. Dokter Zul tidak tau apa yang mereka bahasa sehingga mereka berdua tertawa.
Dokter Zul tersenyum kecil melihat keasikan Nathan dan Kiki. ''Dokter Nathan jauh lebih unggul,'' gumam Dokter Zul seraya melanjutkan langkah kakinya menuju kantin.
''Saya duluan dulu dokter Nathan, saya ingin mengisi perut say,'' pamit Kiki yang ingin ke kantin dengan sisa tawanya.
''Baik.''
''Apa dokter Nathan nggak mau ikut makan?'' Tanya Kiki dan dibalas gelengan kepala oleh Nathan.
__ADS_1
''Saya sudah makan,'' balas dokter Nathan.
Dokter Kiki berlalu pergi karna ingin segera ke kantin. Dokter Kiki memasuki kantin khusus dokter dan perawat yang makan di kantin ini.
Dokter Kiki mengedarkan pandanganya mencari tempat. Lalu senyum terbit di bibirnya saat melihat rekannya sesama dokter sedang duduk di di meja pojok seraya menunggu pesanannya.
Dia mengayunkan langkah kakinya menuju meja pojok.
''Hai, dokter Zul,'' sapa dokter Kiki dengan senyuman khas miliknya. Dia langsung duduk di kursi kosong depan dokter Zul.
''Hai, juga dokter Kiki,'' balas dokter Zul tak kalah ramahnya dengan sapaan dokter Kiki tadi.
''Sendiri aja,'' celetuk dokter Kiki seraya memesan menu makanan di kantin ini. Kantin rumah sakit ini sangat luas, sehingga memerlukan tiga pelayan di kantin ini.
''Andai nggak jomblo, mungkin saya nggak sendiri,'' ujar Zul dengan tawa kecil membuat dokter Kiki tertawa.
‘’Langsung nikah aja, usia sekarang nggak jaman lagi pacaran. Tapi langsung nikah!'' Kiki tertawa kecil membuat dokter Zul menggelengkan kepalanya.
Dia tau, jika dokter Kiki ini orangnya periang, pandai mencari topik pembicaraan. Pandai membuat lawan bicaranya tertawa dan tentunya pandai memikat hati dokter di hadapannya ini.
Pesanan dokter Zul datang lebih dulu, karna dia lebih dulu datang kesini.
‘’Dokter Kiki sempat mau? Biar saya yang menunggu makanan dokter Kiki.'' Dokter Zul menawarkan semangkok bakso kepada wanita di hadapanya.
‘’Dokter Zul makan duluan saja. Saya lagi menunggu menu diet saya.'' Kiki berkata seraya cengengesan membuat Zul menggelengkan kepalanya.
''Nasi merah lagi?'' Tanya Zul dan dibalas anggukan kepala oleh Kiki.
Sudah beberapa bulan ini, dokter Kiki saat makan di kantin selalu memesan nasi merah dan buah salak. Lauknya hanya ikan dan Sayur.
''Nggak baik, entar terlalu kurus,'' tegur dokter Zul.
''Sisa mau Turunin tiga Kilo lagi kok,'' ucap Kiki dengan tawa kecil.
Tidak lama, pesanan Kiki datang dan mereka berdua makan bersama.
__ADS_1