
Novi, nama mamah Lea yang sedari tadi mondar-mandir menelfon Lea. Beberapa bulan ini, anaknya itu selalu sibuk dan jarang tinggal di rumah.
Dia tau, anak kuliahan akan sibuk dengan tugas kampus mereka. Namun tidak sampai sesibuk ini, yang dimana Lea hanya tinggal sekali seminggu di rumahnya, itu yang dirasakan Novi beberapa bulan belakangan ini dan sampai sekarang.
Bukan hanya dia saja yang merasakan hal ini, adik kembar Lea yang bernama Raka dan Riki juga sudah jarang melihat kakaknya itu.
''Apa anak itu bohong kalau dia sibuk?'' Novi mulai curiga kepada anak pertamanya itu.
Dia ingin menghubungi teman Lea. Namun dia sadar jika anaknya itu tidak mempunyai teman dekat di kampus.
''Mah, kak Lea belum pulang?'' Tanya Raka karna kakaknya itu belum juga pulang.
Kemarin sore, Lea hanya datang mengambil baju, buku dan membuat nasi goreng lalu dia bawa pergi.
''Belum,'' jawab Novi seraya mendudukkan bokongnya di kursi.
‘’Orang kuliah emang sibuk yah, Mah?'' Tanya Raka lagi lalu duduk bersama Novi.
‘’Sepertinya begitu. Mamah juga tidak terlalu tau, kan mamah cuman S2. Sd Smp,'' jawab Novi seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
''Mamah nggak tamat SMA?''
''Nggak. Karna ekonomi orang tua mamah saat itu lagi terpuruk. Makanya, kalian harus sekolah tinggi-tinggi. Jangan kayak mamah cuman lulus S2. Terutama harapan mamah jatuh sama kakak kamu, Lea. Semogah saja dia tidak berhenti tengah jalan.''
Novi menjelaskan kepada Raka, anak keduanya.
Raka mengangguk mengerti, lalu berkata. ''Kak Lea, Raka dan Riki bakalan buat mamah bangga!'' Semangat anak itu menggebuh-gebuh.
''Amin.''
***
Lea keluar dari gerbang kampus, pukul empat sore. Dia mengambil ponselnya untuk memesan taxi online.
Dia berpikir, harus pulang kemana. Apakah dia pulang kerumah orang tuanya atau rumah sakit?
Sudah satu minggu ini, dia tidak tinggal di rumahnya karna menemani Agrif di rumah sakit. Apa lagi anak itu selalu ingin di temani oleh dirinya di rumah sakit.
‘’Mamah udah nelfon sebelas kali,'' gumam Lea melihat panggil tak terjawab dari mamahnya.
Dia membuka pesan yang di kirim oleh Novi.
''Lea, kamu nginap di rumah teman kamu lagi?''
Lea membaca pesan dari mamahnya.
__ADS_1
Bukan hanya panggilan dari Novi tidak terjawab, tapi panggilan Agrif jauh lebih banyak lagi.
Hanya saja, anak itu tidak mengirimkan pesan pada Lea.
Lea merasa pening, dia seperti seorang ibu yang harus berpikir keras. Di sisi lain, Agrif membutuhkannya.
Taxi online yang dipesan Lea sudah datang, dia langsung masuk kedalam taxi.
''Mau di antar kemana neng?'' Tanya Supir taxi. ''Di rumah sakit atau di rumah neng,'' lanjut supir itu yang sudah berlangganan dengan Lea.
Jika bukan dirumah sakit dia mengantar penumpang di belakanganya, maka di rumahnya. Tapi keseringan di rumah sakit dia mengantar Lea.
''Di rumah saya saja pak,'' jawab Lea secara cengengesan dan dibalas anggukan kepala oleh supir taxi.
Sekitar sepuluh menit, akhirnya Lea sampai di depan rumahnya. Lea membayar taxi lalu turun dari mobil.
‘’Panjang umur tuh anak,'' gumam Novi yang berada di teras rumah melihat Lea keluar dari taxi.
‘’Itu kak Lea,'' tunjuk Raka kepada kakaknya.
‘’Assalamualaikum,'' salam Lea seraya tersenyum lebar.
‘’Waalaikumussalam,'' balas Raka dan Novi bersamaan.
Lea mencium punggung mamahnya, dan Raka mencium punggung tangan Lea.
''Heheh Iyya,'' balas Lea seraya tersenyum seperti orang gila.
Dia memang sibuk kuliah dengan tugasnya. Namun dimanapun tidak akan ada anak kuliah yang sesibuk ini.
Apa lagi dia baru semester awal.
''Mau nginap di rumah teman kamu lagi, malam ini?'' Tanya Novi.
''Nggak Kok Mah, Lea malam ini tinggal di rumah. Istirahat dari tugas dulu.''
''Baguslah. Awas saja kamu bohong.'' Novi menyipitkan matanya kearah Lea.
''Nggak kok mah,'' jawab Lea.
Riki keluar dari dalam rumah, dan melihat keluarganya berkumpul di teras rumah. Ketiga pasang mata melihat Riki, sehingga mereka berempat saling bertatapan.
Riki mengambil kursi, lalu melanjutkan membaca buku.
‘’Adik aku yang paling pintar.'' Lea menghampiri Riki. Lalu mengusap rambut adiknya itu dengan gemas.
__ADS_1
Setiap Lea di rumah, adiknya itu selalu belajar. Dia jarang sekali melihat adik bungsunya itu bermain hp. Tidak seperti Raka, yang jarang belajar dan meluangkan banyak waktunya di game.
Riki tersenyum tipis. ''Supaya bisa banggain mamah,'' ucap Riki lalu fokus membaca bukunya membuat Lea bertepuk tangan.
''Nggak kayak si itu yah, yang suka main game,'' sindir Lea kepada Raka.
‘’Bilang langsung namanya, nggak usah nyinyir. Karna Raka tau, kalau Raka yang di maksud sama kak Lea,'' kesal Raka membuat Lea tertawa dan Riki hanya tersenyum tipis lalu fokus membaca kembali.
Mereka berdua kembar, namun mempunyai kepribadian yang berbeda-beda.
Sementara Novi hanya menggelengkan kepalanya melihat anak-anaknya. Ketiga anaknya itu mempunyai karakter yang unik.
Riki yang dingin, yang berbicara jika penting saja. Dan Raka mempunyai sikap yang suka berbicara panjang kali lebar, suka bermain game, dan suka tertawa dan kesal tidak jelas.
Bisa dikatakan, sikap Lea dan Raka hampir sama.
Novi terlebih dahulu masuk kedalam rumah, untuk memasak. Karna tidak lama lagi akan menjelang malam.
Lea merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tiba-Tiba saja dia memikirkan dokter Valen yang tengah berlibur bersama suaminya.
Dia merindukan dokter Valen dan Rifal. Semenjak dia sibuk di rumah sakit, dia sudah jarang bermain kerumah Valen dan Rifal.
''Praktek nanti, dokter Valen yang bakalan terjun langsung ngajar. Aku bisa bercanda sama dokter Valen lagi. Cerita sama dokter Valen, dan bertanya mengenai dokter Nathan.'' Lea berkata di sertai dengan senyuman kemenangan.
Drt...
Sedari tadi ponsel Lea berdering. Dia tau, jika yang menelfonya itu adalah Agrif. Saat mengobrol dengan adik dan orang tuanya di teras tadi. Ponselnya berbunyi terus-menerus.
Dan itu semua panggilan dari Agrif, dia yakin anak itu menunggu dirinya di rumah sakit.
Lea mengambil ponselnya, dia salah. Ternyata yang menghubunginya bukan Lea. Melainkan Nando yang menelfonya.
‘’Kenapa kak Nando nelfon?''
Gadis itu menggeser tombol hijau, lalu mengangkat Telfon wa dari Nando.
''Halo Lea, kamu sibuk sekali yah!''
Suara Nando nampak kesal dari seberang, kenapa tidak. Jika anak itu tidak pernah mempunyai waktu untuk mengangkat telfonya. Meskipun dia dan Lea tidak mempunyai hubungan.
Namun dia ingin setiap saat mengetahui kegiatan.
''Lagi sibuk,‘’ lea membalas perkataan Nando dari seberang Telfon.
''Sibuk apa?''
__ADS_1
''Sibuk menata masa depan.”