
Sudah pukul sepuluh malam, Kayla belum juga pulang padahal sedari tadi dia pergi. Elgara sedang mondar-mandir di balkon kamarnya sembari menunggu mobil Kayla yang tak kunjung juga datang.
Elga menelfon Kayla, namun nomor perempuan itu sedari tadi tidak aktif, membuat Elga harus menguji kesabarannya. Dia dan Kayla bisa bercanda seceriah mungkin, dan juga bisa seperti ini dengan serius.
Suara tangisan kedua anaknya membuat Elga meninggalkan balkon kamarnya, untuk segera menghampiri Dyta dan juga Dyra yang sedang menangis.
Kedua anak itu sedari tadi menangis karna belum mendapatkan asi dari Kayla sejak pagi tadi.
"Anak papah jangan nangis yah," bujuk Elga dengan menggendong anaknya yang satu, sementara yang satunya sedang menangis ditempat tidurnya.
Elga tidak tau, harus menenangkan yang mana terlebih dahulu, apa lagi baby sister Dyta dan juga Dyra sudah pulang jika sudah menjelang malam hari.
"Tunggu papah disini yah, sayang. Papa panggil Tante Rara yah," kata Elgara meninggalkan Dyta yang tangisnya sudah sedikit redah, sementara Dyra semakin kencang menangis dalam dekapan Elga.
Bahkan Elga menggendong Dyra keluar dari kamar untuk segera ke kamar Rara. Dia yakin, Rara sudah tidur karna sudah pukul sepuluh malam.
Tok....Tok....Tok
Elgara mengetuk pintu kamar Rara, sehingga Frezan yang masih setia dengan laptopnya sembari berbaring dikamar dengan kepalanya dia sandarkan disandaran kamar.
Frezan melirik pintu kamarnya, sementara Rara sudah sedari tadi tertidur.
Frezan menyimpan laptopnya diatas nakas lalu turun dari ranjangnya karena mendenger suara tangisan anak kecil, Frezan tidak tau, apakah itu Dyta atau Dyra.
Ceklek
Pintu kamar dibuka oleh Frezan, sehingga dia bisa melihat Elga dengan menggendong Dyra. Frezan sudah bisa membedakan kedua anak itu melalui rambutnya.
"Bangunin Rara bentar, sedari tadi Dyra sama Dyta nangis. Sedari pagi belum minum Asi," kata Elga sembari menenangkan Dyra dalam gendongannya.
Sebenarnya, Frezan tidak ingin membangunkan Rara namun dia juga kasihan melihat anak kecil dalam gendongan Elga.
"Ra," panggil Frezan dengan menepuk pipi Rara dengan lembut. Rara mengerjapkan matanya sedikit menyipit karna dia masih mengantuk.
"Bangun dulu, yank. Dyta lagi nangis. Elga nyuruh kamu kasi dia Asi," kata Frezan dengan lembut melihat wajah Rara baru membuka matanya.
"Dyta sama Dyra kenapa?" tanya Rara setengah sadar, Frezan tersenyum simpul melihat Rara sekarang ini.
__ADS_1
"Dia nangis. Elga nyuruh kamu buat kasi Asi ke dia," kata Frezan membuat Rara bangun lalu duduk di ranjangnya.
Rara melirik Frezan dengan wajah yang sangat mengantuk. "Kayla belum balik?" tanya Rara dengan suara khas bangun tidur.
"Belum," jawab Frezan.
Rara menyibakkan selimutnya lalu memakai sandalnya. "Aku kekamar Elga dulu," pamit Rara, sebelum itu Frezan menahan tangannya terlebih dahulu.
"Cuci muka dulu, sebelum kasi Asi buat Dyta dan Dyra," kata Frezan membuat Rara mengangguk kecil.
Rara masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, setelah mencuci wajahnya dia berjalan keluar kamarnya untuk segera kekamar milik Elgara.
Rara langsung masuk kedalam kamar Elga, dia sudah melihat kembaranya itu nampak kesusahan menangani dua anaknya yang menangis. Rara melirik jam di dinding kamar Elga, sudah pukul sepuluh malam lewat Kayla belum pulang.
Kemana Kayla pergi?
"Sini bang, biar Rara kasi asi," kata mengambil Dyra dalam gendongan Elga. Sementara Elga langsung menggendong Dyta yang tangisnya sudah sedikit redah. Katakan, jika yang paling cengeng adalah Dyra, si bungsu.
Rara duduk ditepi ranjang lalu menyusui Dyta. Anak itu sudah meredakan tangisnya saat Rara menyusuinya, kentara jika anak itu itu haus.
Elga memijit pelipisnya, baru begini dia sudah nampak kesusahan mengasuh dua anak yang menangis tanpa Kayla.
"Bang, El," panggil Rara. "Kayla kemana?" tanyanya.
"Gue juga nggak tau Ra, Kayla kemana," jawab Elga membuat Rara mengangguk kecil.
"Kamu kembali dikamar kamu, sepertinya Dyta dan Dyra sudah tidur nyenyak," kata Elga lagi melihat kedua anaknya tertidur pulas.
"Kalau mereka nangis lagi, bang El ke kamar Rara aja," kata Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Elga.
Rara masuk kedalam kamarnya, dia mengambil handponenya guna menghubungi nomor Kayla. Nomor Kayla tidak aktif membuat Rara mengkhawatirkan sahabatnya sekaligus iparnya.
Lo kemana sih, Kay.
Rara melihat WhatsApp, dia melihat Valen sedang online. Dia ingin mengirimkan pesan untuk menanyakan apakah dia tau dimana Kayla. Namun dia urungkan karna ada yang lebih berat dipikirkan oleh Valen.
Rara belum tau jelas masalah rumah tangga Rifal dan Valen akhir-akhir ini seperti sebuah permainan yang dimainkan tanpa perasaan bersalah.
__ADS_1
Rara langsung membaringkan tubuhnya didekat Frezan, karna Frezan sudah tidur.
Rara menatap langit-langit kamarnya Cepat pulang Kay, aku nggak mau rumah tangga kamu sama seperti Valen, hanya karena masalah sepeleh. Batinnya lalu memejamkan matanya untuk segera tidur.
***
Saat ini Kayla sedang disalah satu bar, suara dentuman music menghiasi bar malam ini. Saat ini Kayla sedang duduk didepan kursi seseorang yang meracik minuman.
Kayla hanya minuam sedikit, sehingga dia tidak perlu khawatir untuk mabuk. Dia ingin pulang karna sedari tadi dia memikirkan kedua anaknya yang belum dia berikan asi sebelum pergi. Namu dia juga malas jika bertemu dengan Elga, dia masih jengkel dengan perlakuan Elga tadi padanya.
Seakan-akan dia yang disalahkan atas semua ini.
"Minuman wine-nya."
Kayla langsung melirik orang disampingnya, suara yang tidak asing memesan minuman wine.
Deg
Mata Kayla dan orang yang memesan wine tersebut bertatapan, seseorang yang memesan wine itu langsung menatap kearah bartender kembali guna menunggu pesannya.
Daniel.
Yah, pria itu adalah sosok Daniel yang masih menggunakan seragam kantornya, karna dia menghandle segala pekerjaan Frezan tadi sehingga dia pulang semalam ini.
Tanpa sengaja dia bertemu dengan Kayla disini, sosok masa lalu saat mereka SMA sampai masa kuliah mereka berpisah.
Ini yang ke-dua kalinya Kayla bertemu dengan Daniel setelah dia menikah dengan Elga.
Daniel meneguk wine-nya sembari melonggarkan dasinya itu semua tidak luput dari penglihatan Kayla.
Aura Daniel semakin dewasa, pria itu semakin dewasa seiring berjalannya waktu, sepertinya dia juga sudah berubah sikap. Karna dia tidak menyapa Kayla. Padahal wajah Kayla tidak berubah drastis.
Tak dipungkiri penampilan dan ketampanan Daniel menyita pasang mata di Bar terutama kaum hawa.
Mulut Valen bergerak untuk menyapa Daniel, namun pria itu lebih dulu pergi meninggalkan tempatnya sehingga mulut Kayla hanya terbuka sedikit hampir menyapa Daniel tapi pria itu lebih dulu pergi.
Padahal Kayla hanya ingin menanyakan kabarnya saja.
__ADS_1