
''Kak Eza , Rara nggak bisa nafas di peluk erat kayak gini!'' keluhnya membuat Frezan terkekeh dengan keluhan wanita dalam kungkuhanya.
''Kamu sih lucu!''
Rara kembali memanyunkan bibirnya membuat Frezan kembali memeluk istri kecilnya itu.
Rara dan Frezan masih berpelukan dengan erat, tiba-tiba Frezan mencium leher Rara. ''Kamu belum mandi?'' Tanya Frezan membuat Rara kembali cengengesan.
''Iya. Tapi tetap wangi kok,'' lanjut Rara mencium badanya, masih tetap wanginya meskipun belum mandi sore.
''Kata siapa masih wangi? Buktinya aku cium bau nggak enak. Bikin aku mau muntah,'' bohong Frezan lalu menutup hidungnya.
Padahal, dia tidak mencium apa-apa dari tubuh Rara.
''Kak Eza bohong, buktinya Rara nggak cium apa-apa,'' ucap Rara lagi masih mencium ketiaknya.
''Kebanyakan orang emang kurang sadar diri,'' tawa Frezan membuat Rara menatapnya dengan tatapan garang, namun terlihat lucu bagi Frezan.
''Mandi dulu sana, mumpung belum terlalu malam,'' perintah Frezan dengan lembut, seraya memegang pipih Rara dengan lembut.
Rara yang mendapatkan sentuhan lembut dari Frezan, memejamkan matanya. ''Mandi dulu, jangan menikmati sebelum mandi,'' canda Frezan sehingga wanitanya langsung membuka matanya.
Dengan kesal, Rara bangun dari tempat tidurnya untuk segera mandi, bukan mandi sore lagi, melainkan mandi malam.
''Mau aku temenin mandi?'' Tawar Frezan membuka kancing bajunya yang belum sempat dia lepaskan.
''Nggak usah, nanti mandinya jadi lama,'' cebik Rara lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Frezan lagi-lagi terkekeh dengan tingkah Rara yang sangat menggemaskan dimata Frezan. ''Dasar bocil,'' gumamya seraya memasukkan baju kotor didalam keranjang didekat lemari.
Tok...Tok...Tok
Frezan melirik pintu yang di ketuk.
''Siapa!'' Sahut Frezan dengan suara datar.
''Tuan, dibawa ada Nathan,'' sahut Art yang bekerja di rumah Rara dan Frezan.
__ADS_1
''Suruh tunggu di ruangan kerja saya!'' perintah Frezan.
''Baik Pak.'' Art melenggang pergi dari hadapan pintu kamar Rara dan Frezan.
Frezan mengambil baju kaos didalam lemari pakaian khusus untuk baju yang dia kenakan di dalam rumah.
Frezan memakai bajunya lalu keluar dari kamar untuk menghampiri adiknya itu.
Ceklek
Frezan membuka pintu ruanganya, dan melihat Nathan sedang membaca buku-buku di rak buku.
Nathan melirik Frezan yang tengah menutup pintu ruanganya. ''Ruangan kerja mu seperti perpustakaan.'' Nathan menggelengkan kepalanya lalu menghampiri Frezan yang sudah duduk diatas kursi kerjanya.
''Masa sekolah sudah berakhir,'' lanjut Nathan duduk didepan Frezan.
''Ngapain singgah di sini?'' Frezan langsung to the point kepada adiknya.
‘’Jemput Farel,'' jawab Nathan dengan sedikit malas.
Apakah harus mempunyai alasan agar bisa singgah di rumah ini? Itu yang di pikir oleh Frezan saat ini.
‘’Adikmu ini sibuk kalau pagi. Aku juga kesepian kalau nggak ada Farel di apartemen. Udah dua hari dia tinggal di sini, adikmu juga kesepian,'' dramatis Nathan. Meski apa yang dikatakan memang benar jika dia kesepian di apartemen tanpa Farel.
Frezan berusaha menahan senyumnya. ''Siapa suruh tidak menikah. Usiamu sudah tidak mudah lagi, Nathan. Usinya sudah matang untuk menikah bahkan sudah pantas mempunyai anak,'' ejek Frezan membuat Nathan memutar matanya malas dapat singgungan menusuk dari Frezan.
‘’Seharusnya begitu, tapi sang pencipta belum mengirimkan ku jodoh,'' lesuh Nathan.
''Kau akan merasakan betapa indahnya pernikahan itu jika kalian menikah saling mencintai. Pulang kerja capek, tapi saat sampai di rumah, lihat senyuman istri seakan-akan capek itu langsung hilang,'' imbuh Frezan tersenyum tipis, seraya mengingat senyuman manis milik Rara saat dia pulang kerja.
Apa yang barusan dia katakan memang benar, jika capek dan melihat senyuman istrinya. Seakan-akan capek itu langsung hilang begitu saja entah kemana.
''Di saat tidur, ada yang di peluk setiap pagi dan malam. Ada yang mengelus rambut mu penuh kasih sayang. Ada yang memberikan mu kata manis setiap saat. Ada yang membuat kan mu makanan. Ada yang menemani di saat kau susah dan bahagia.''
Tak henti-hentinya Frezan berkata, seraya tersenyum mengingat wajah Rara.
''Dan kebahagiaan dalam berumah tangga semakin bahagia saat kehadiran seorang anak.'' Frezan berkata seraya tersenyum tipis kearah adiknya. ''Itulah dahsyatnya pernikahan,'' lanjut Frezan dengan sombong membuat sikap irih Nathan meronta-ronta untuk segera menikah. Tapi belum menemukan wanita yang tepat sesuai kriterianya.
__ADS_1
‘’Segeralah menikah.'' Frezan menepuk pundak Nathan.
''Maunya begitu,'' lesuh Nathan. ‘’Tapi sampai sekarang, jodoh belum juga datang,'' lanjutnya.
''Dia sudah datang, hanya saja kau tidak menyadari kehadirannya,'' gumam Frezan.
Nathan mengangkat alisnya sebelah. ‘’Maksud mu, Lea?''
Frezan mengangguk. ''Siapa lagi kalau bukan dia. Dia selalu mengharapkan mu. Jangan sampai kau menyesal karna menolak dirinya. Diambil orang baru tau rasa,'' goda Frezan kepada Nathan.
‘’Lea sangat pas untuk mu, meski umurnya masih terbilang muda. Pasti dia bisa mengurus dirimu dan juga Farel,'' saran Frezan lagi. ''Aku mendukung mu jika bersama dengan Lea. Dia gadis yang baik-baik.''
''Tidak perlu!'' kilah Nathan. Dia tidak bisa membayangkan jika dia menikah dengan gadis seusia Lea. umurnya terbilang samgat jauh denganya.
''Apa yang membuat mu tidak suka padanya?'' Tanya Frezan.
''Dia cantik dan manis. Bisa memperbaiki keturunan mu,'' ejek Frezan lagi membuat Nathan berdecak kesal.
''Dia bukan tipe ku, dia masih kecil untuk diriku. Gue ini sudah dewasa, masa iya dapat istri bocil modelan kayak Lea.'' Dengan ilfil, Nathan menggelengkan kepalanya.
''Jangan sampai kau di tikung asisten Rifal.'' Frezan mulai memberikan pengaruh kepada adiknya.
Entah sejak kapan, percakapan mereka berdua langsung melenceng kesini. Membahas Nathan dan Lea.
''Gue dengar-dengar, tangan kanan Rifal menyukai gadis unik itu. Namanya Nando, dia orangnya tampan, bahkan lebih tampan darimu,'' ejek Frezan berkata bohong, padahal ketampanan adiknya juga tidak kalah dengan ketampanan milik Fernando.
''Terus?''
Frezan langsung menatap tajam Nathan, karna dia sudah berbicara panjang kali lebar, dan adiknya hanya bilang kata ,terus,
Giliran Nathan yang tertawa melihat frezan. ‘’Biarpun Lea dan tangan kanan Rifal itu berpacaran sampai bahkan menikah, gue nggak bakalan cemburu sama sekali.''
‘’Bahkan gue lebih bahagia jika Lea mempunyai pacar, itu tandanya dia sudah berhenti mengejar diriku ini. Wajar saja jika gadis sepertinya mengejar diriku, karna Ketampanan ku ini.''
‘’Sepertinya gue ini udah mati Rasa,'' lesuh Nathan.
''Cinta SMA gue di bawa mati sama Hasya, sampai gue nggak bisa ambil lagi. Orang yang gue suka dari pertama kali dia masuk sekolah diambil orang. Dan sekarang cinta gue, montok di istri orang.'' Lesuhnya.
__ADS_1
Wajah Frezan sangat dingin, dia tau siapa yang di maksud oleh adiknya itu.
''Hmm, lo masih ingatkan, istrimu itu dulu sangat mengidolakan diriku di sekolah,'' goda Nathan.