Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Tamu yang tak terduga


__ADS_3

Rifal terkekeh dalam mobil mendengar apa yang di katakan oleh Valen.


“Nanti lagi romantisnya, di kamar,” bisik Rifal di telinga Valen membuat bulu kuduk Valen meremang.


“Kamu terkam aku nanti, bukan romantis!” Sosor Valen membuat Rifal terkekeh dengan perkataan Valen.


“Kamu peka yah, Va,” kata Rifal sehingga Valen memutar bola matanya malas.


Hujan telah berhenti, sehingga Rifal tidak memerlukan payung lagi. Rifal keluar dari mobil lalu membukakan Valen pintu mobil.


Seperti tadi, mereka berdua bergandengan tangan untuk masuk ke dalam rumah. Rifal membuka pintu lalu melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.


Pergerakan kaki Valen dan Rifal terhenti saat melihat pria paruh baya dan wanita paruh baya tengah duduk di kursi sofa menikmati teh.


Meski umurnya tidak muda lagi, mereka tetap tampan dan cantik di usianya yang sudah tidak muda.


Rifal dan Valen saling berpandangan, seakan-akan berkomunikasi lewat matanya.


“Apa kamu yang memberitahukan semuanya ?” Tanya Rifal kepada Valen.


Valen menggelengkan kepalnya. “Aku nggak pernah ngomong apapun sama Daddy dan mommy,” jawab Valen membuat pandangan Rifal kembali terarah pada sosok paruh baya yang sedang menonton tv sembari menikmati teh.


“Itu Rifal sama Valen!” Tunjuk wanita paruh baya pada sosok Rifal. Sosok pria yang sudah lamanya tidak dia kunjungi di Jakarta.


Lelaki paruh baya di sampingnya melihat kearah yang di tunjuk oleh istrinya.


“Mommy, Daddy,” menolog Rifal saat melihat kedua paruh baya itu berdiri dari kursinya.


Valen langsung menggandeng tangan Rifal untuk menghampiri orang tua Rifal.


“Astagah, kalian berdua tambah tampan dan cantik,” puji Rina kepada Valen yang menyalami tanganya.


“Faktor keturunan, Mom,” terang Rifal.


Valen menyalami tangan Aska, begitupun dengan Rifal menyalami tangan Daddy-nya itu.

__ADS_1


Mereka berdua langsung duduk bersama. “Kenapa Mommy sama Daddy tidak memberitahukan dulu kepada Rifal kalau mau kesini!” kesal bercampur cemas dalam diri Rifal. Bagaiamana jika kondisinya masih buta dan orang tuanya ke sini. Untung saja kondisinya sudah kembali normal.


“Mommy mau kasi suprise ke kalian,” kata Rina tersenyum penuh kemenangan kepada anak dan menantunya itu.


“Mommy harap ada kabar baik dari kalian,” sedih Rina membuat Rifal menyeritkan alisnya heran dengan perkataan Rina.


Rina menarik nafasnya panjang, apa anak dan menantunya itu tidak peka?


“Kalian sudah bertahun-tahun menikah, dan Mommy belum mendapatkan kabar kalau kalian akan mempunyai anak,” sedihnya membuat Valen menjadi salah tingkah dan Rifal menjadi tersenyum.


“Apa kalian berdua tidak kasihan sama Mommy dan Daddy, yang udah pengen nimang cucu. Kamu lihat Alvi, Sinta dan Rindi sudah mempunyai cucu untuk di gendong. Sedangkan Mommy?” Perktaaan yang keluar dari Rina tersiratkan kesedihan.


“Mommy sama Daddy sudah capek mengurus perkebunan sayur di kampung, sekarang Mommy maunya mengurus cucu,” kata Rina membuat pipih Valen semakin memerah.


Biarkan saja Rifal yang mengatakan kepada kedua orang tuanya jika dia sedang mengandung anak pertama, cucu pertama mereka berdua.


Aska dan Rina dulu memutuskan tinggal di perkampungan untuk menikmati hawa pegunungan yang jauh dari populasi. Mereka berdua mengurus perkebunan sayur dan berbagai tumbuhan lainya.


Mereka mempekerjakan warga di sana untuk menembaga sayur untuk ke Jakarta dan memanen sayur, dan berbagai lainya lagi.


“Apa kalian belum saling mencintai?” Tanya Aska serius yang sedari tadi hanya diam saja.


Bagaiamana tidak, jika bertahun-tahun sudah anak dan mantunya belum juga memberikanya cucu.


Aska bertanya seperti itu, karna dia tau bagaiamana pernikahan antara Rifal dan Valen saat itu hanya dalam keadaan terpaksa karna mereka di ciduk.


Jadi mereka berdua langsung di nikahkan, padahal mereka berdua masih duduk di bangku SMA.


Rifal yang duduk bersampingan dengan Valen langsung menggenggam tangan Valen dan memegang perut Valen.


“Apakah kehadiran Rifal junior masih kurang membuktikan jika aku sudah sangat mencintai istriku,” kata Rifal serius sembari mengusap perut Valen dengan lembut.


Aska dan Rina saling bertatapan. “Astagh. Apakah kamu serius!” jerit Rina heboh membuat Aska menutup telinganya.


Sementara Valen menahan tawa, dia bisa melihat kebahagiaan mama mertuanya saat mengetahui jika dirinya tengah hamil.

__ADS_1


Rina langsung duduk di samping Valen, dia menyingkirkan tangan Rifal yang mengusap perut Valen membuat Rifal berdecak kesal dengan tingkah Rina.


Sedangkan Valen berusaha menahan tawanya saat melihat tindakan Rina yang menghempaskan tangan Rifal dari perutnya.


Rina mengusap perut Valen, sementara Rifal langsung pindah posisi duduk di dekat Aska.


“Kandungan kamu sudah berapa bulan, Sayang?” Tanya Rina dengan lembut mengusap perut Valen.


“Menuju empat bulan, Mom,” jawab Valen membuat Rina langsung menghitung jari-jarinya membuat Valen tidak bisa menahan senyum.


“Astgah, tidak lama lagi Mommy akan menggendong cucu,” senangnya membuat Valen langsung mengangguk mengiyakan perktaaan Rina.


“Kenapa kalian berdua tidak memberitahukan Mommy sama Daddy kalau kamu sedang hamil,” tanya Rina sedikit kecewa karna menantunya itu tidak memberitahukan jika dia sedang hamil.


“Andai Mommy dan Daddy tidak kesini, mungkin sampai saat ini kami berdua tidak mengetahuinya,” sedihnya menbuat Valen merasa bersalah.


Andai saja Rina tau jika Valen tengah hamil, dia akan membelikan perlengkapan bayi untuk Valen.


“Sebenarnya Valen ingin memberitahukan kepada Mommy sama Daddy. Tapi suami Valen bilang mau kunjungi Mommy di kampung untuk memberikan kabar bahagia ini,” jujur Valen, Rifal sudah mengatakan hal ini pada Valen, jika kondisinya sudah sepeti dulu mereka akan ke kampung memberitahukan kabar bahagia ini.


Namun tak di sangka, ternyata kedua mertuanya lah yang kesini mengunjungi mereka berdua.


“Tidak apa-apa, yang penting Mommy akan punya cucu,” senang Rina membuat Valen juga senang.


“Gimana kalau kita sekarang ke Mall, beli perlengkapan bayi untuk anak kamu,” kata Rina dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Mumpung masih pukul delapan malam, masih ada kesempatan untuk ngemall.


“Nggak bisa, Mom,” sahut Rifal. “Valen harus istirahat,” lanjutnya membuat Rina menjadi lesuh.


“Nggak apa-apa, Fal. Kebetulan ada yang ingin aku beli juga di Mall. Jadi sekalian sama Mommy kesana,” bantah Valen dengan lembut karna dia tidak ingin mengecewakan mertuanya.


“Tapi sebentar yah,” kata Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


“Sekalian besok saja, kalian tidak lihat cuaca di luar tidak kondisif,” tambah Aska membuat Rifal tersenyum dan setuju dengan perkataan Aska.


Rina terlihat jengkel kepada Aska, Rifal sudah memberikanya izin tapi suaminya itu menyahut.

__ADS_1


“Ayok Valen kita ke atas, kita bahas mengenai kehamilan kamu. Apa yang kamu rasakan selama hamil,” ajak Rina menggandeng tangan Valen lalu mereka berdua pergi meninggalkan Aska dan juga Rifal.


__ADS_2