Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Detik-detik


__ADS_3

Sudah tiga puluh menit Rifal berada di rumah kakek Halan. Istrinya bernama Nenek Daro sedang menyiram bunga-bunganya di luar, padahal matahari sedang panas.


Selain menunggu Kakek Halan, Rifal juga penasaran dengan ibu Kianna, bagaimana cantiknya ibunya Kianna sehingga melahirkan anak semenggemaskan Kianna.


Nenek Daro masuk membawa ember yang tadi dia isi air. ''Sepertinya suami saya akan pulang malam,'' ucap Daro seraya meletakkan embernya di samping pintu.


''Kalau ibunya Kianna?'' tanya Rifal membuat Daro tersenyum tipis.


Entah mengapa wanita tua itu merasa Rifal pria baik, auranya sangat kuat. ''Dia sedang di perjalanan, saya menyuruhnya untuk pulang cepat karna Anna sedang menangis,'' ucap nenek itu duduk di kursi depan Rifal. ''Untung saja kamu pandai menenangkan Anna, jika tidak anak itu akan menangis terus-menerus.''


Anna tadi menangis karna Rifal tiba-tiba memberikanya kepada nenek Daro, dan dia pula menenangkan anak menggemaskan itu.


''Apa kamu sudah berpengalaman mengurus anak?'' tanya nenek Daro dan dibalas gelengan kepala oleh Rifal.


''Tidak, saya belum mempunyai anak,'' ungkap Rifal membuat Daro mengangguk kecil.


''Kenapa belum menikah?'' tanya nenek Daro lagi.


Rifal menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya perlahan-lahan. ''Saya sudah menikah. Hanya saja, istri saya hilang,'' ucap Rifal menahan sesak di dadahnya.


''Satu tahun yang lalu, saya dan istri saya liburan di pantai sini,'' ucap Rifal menjelaskan, karna rumah kakek Halan tidak jauh dari pantai tempatnya mendapatkan musibah dan membuat Valen hilang sampai sekarang.


''Istri saya sampai sekarang belum di temukan, dengan kondisi dia sedang hamil anak pertama kami,'' lanjutnya membuat nenek Daro langsung terdiam.


''Istri saya sangat cantik, dia mempunyai kulit putih, rambut yang panjang,'' ucap Rifal mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. ''Ini foto istri saya,'' lanjutnya memperlihatkan fotonya berdua dengan Valen membuat Daro menahan nafas beberapa detik saking terkejutnya.


Ibunya Kianna.


Ruangan kerja yang biasa di tempati oleh Rifal kini di duduki oleh Nando dengan berkas yang sibuk ia periksa.

__ADS_1


''Capek!'' keluhnya seraya menyandarkan kepalanya di kursi kebesaran Rifal.


''Andai aja orang tua Rifal masih ada di sini. Saya nggak akan kewalahan seperti ini,'' lanjutnya dengan kasar.


Nando melirik ponselnya, sepahit inilah hidupnya mencintai seseorang yang tidak bisa ia genggam.


Walpaper pria itu merupaka foto Lea, ahk, sangat miris sekali hidupnya jika ia yang mencintai.


''Emang paling enak itu di cintai, bukan mencintai!'' gumamnya seraya memikirkan nasibnya nanti jika Lea meninggalkanya menikah dengan dokter Nathan.


Nando memejamkan matanya, dia harus memulai dari sekarang untuk melepaskan Lea. Hal itu sudah dia lakukan satu tahun yang lalu namun hasilnya nihil.


''Lea....Bocah ingusan yang sudah buat saya jatuh tapi tidak dapat cintanya!'' menolognya seorang diri.


Bebanya semakin banyak, menghandel perusaaan Rifal bukanlah hal mudah baginya. Di tambah lagi hadiah yang di tawarkan pria itu padanya.


Jika dia menjalankan dengan baik perusahaanya, maka Rifal akan memberikanya hadiah dengan jumlah banyak. Tapi...hadiah yang di berikan Rifal adalah, dia akan menanggung seluruh acara pernikahan Nando jika pria itu akan menikah kelak.


Nando memejamkan matanya, senyuman, canda dan tawa Lea berputar-putar di otaknya saat ini.


***


Ini yang kedua kalinya Nathan datang kerumah Lea, dengan tujuan yang membuat orang tua Lea harus berpikir keras dulu.


''Apa nggak terlalu cepat dokter Nathan ingin meminang anak saya?'' Novi memberikan pertanyaan.


Nathan saat ini sedang duduk di ruangan tamu rumah sederhana milik Lea, tujuannya datang untuk melamar Lea di rumah orang tuanya.


''Pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk di jalankan, pernikahan adalah jalan yang paling lama untuk bersama. Ibu cuman tidak mau, jika dokter Nathan terlalu gegabah melamar anak saya.''

__ADS_1


Nathan mengangguk, dia tau bagaimana kekhawatiran orang tua jika ingin melepaskan anaknya dalam pernikahan yang mengikat mereka seumur hidup.


''Apa lagi usia Lea masih 20 tahun,'' lanjut Novi.


Sementara Lea masih berada di dalam kamarnya, dia tidak berani keluar, dia sudah mencegat Nathan untuk datang kerumahnya namun pria itu tetap nekad untuk datang.


Lea yakin, mamahnya tidak akan membiarkan dirinya untuk menikah di usinya masih 20 tahun.


''Saya tau bu,'' ucap Nathan sopan seraya tersenyum kearah Novi. ''Saya hanya ingin menikah dengan wanita yang saya cintai. Usia saya sudah tidak muda lagi, saya juga ingin seperti teman sebaya saya mempunyai keturunan dengan menikahi orang yang dia cintai.''


''Meski usia Lea masih terbilang muda, saya bisa membimbing Lea sebaik mungkin,'' lanjut Nathan dengan mantap. ''Hanya Lea saja yang saya inginkan untuk melahirkan anak saya.''


Novi sempat terdiam. ''Jika hanya ingin keturunan kamu ingin menikah dengan anak saya secepat ini, lebih baik dokter Nathan mencari wanita lain,'' ucap Novi.


Nathan tersenyum. ''Jika saya mau saya akan melakukan hal itu. Tapi saya ingin menikah dengan wanita pilihan saya, yang saya cintai, bukan wanita yang hanya ingin melahirkan seorang anak saja.''


''Jika usia Lea menjadi keraguan untuk ibu menikahkan Lea dengan cepat, maka pikiran ibu belum sampai. Usia bukan penghalang bagi seseorang jika sudah siap untuk menikah. Saya Nathan sudah siap untuk menikahi anak ibu, secara mental dan materi saya sudah siap,'' ucap Nathan dengan bangga.


Materi jangan di tanyakan lagi, dia berprofesi sebagai dokter hanya untuk sampingan karna kerjanya yang muliah.


''Jadi bagaiamna bu?'' tanya Nathan dengan serius. ''Apakah ibu menerima saya untuk melamar anak ibu?''


Novi menarik nafasnya dalam-dalam, secara fisik, materi, usia, Nathan sudah mantap untuk menikah.


Hanya saja, Novi tidak yakin jika anaknya itu mampu mengurus seorang suami, Lea saja tidak becus mengurus dirinya sendiri. Bagaiaman jika dia mengurus suami? Ahk, memikirkan itu membuat Novi takut jika akan ada pertengkaran antara Nathan dan Lea kelak jika Lea tidak becus mengurus dirinya dan sang suami.


''Lea mengurus pekerjaan rumah saja dia tidak becus,'' Novi menggelengkan kepalanya seraya mengingat anaknya itu tidak tau apa-apa di rumah. Yang dia tau hanya memasak itupun kelebihan garam.


''Mengurus rumah saja dia masih belajar, bagaimana jika dia sudah mengurus suami kelak? Dan mempunyai anak.''

__ADS_1


Nathan tertawa kecil membuat Novi hanya tersenyum tipis. Entah mengapa dia menceritakan kebiasaan anaknya itu kepada dokter Nathan.


''Saya mencari istri bu, bukan mencari wanita yang ingin bekerja di rumah saya kelak.'' Nathan berkata membuat Novi terdiam. ''Soal mengurus suami, itu akan dia tau seiring berjalanya waktu. Bukankan ibu pernah seperti itu?''


__ADS_2