
Sudah lima hari Rifal juga belum sadarkan diri. Valen dengan setia berada di dekat Rifal melap tubuh Rifal menggunakan tisu basah.
Seperti sekarang ini Valen di dekat Rifal sekali-kali mencium pipih suaminya yang tak kunjung bangun.
Nando juga setia menunggu Rifal, setiap pekerjaan kantor dikerjakan di ruangan rawat Rifal. Untung saja ada Amora yang membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor karna dia juga mencari siapa dalang di balik semua ini.
Rifal berjanji pada dirinya sendiri, dia akan memberikan pelajaran pada orang itu lalu menjebloskannya kedalam penjara.
Saat ini Nando berkutat dengan laptopnya setelah dia berkutat dengan berkas kantor. Pria itu fokus memperhatikan layar laptopnya menatap video di layar laptopnya.
Video tersebut dia melihat dengan jelas, bagaimana mobil berwarna hitam dengan sengaja tiba-tiba di hadapan mobil Rifal.
Sehingga Rifal sangat sulit mengendalikan mobilnya. Nando sangat yakin, jika orang itu merupakan orang suruhan seseorang karna telah berani membahayakan nyawanya sendiri.
“Siapa dia?” Menolog Nando sembari menutup laptopnya setelah dia menonton hasil CCTV tersebut.
“Gimana, Nan?” Tanya Valen berjalan menghampiri Nando sembari membawakan coffe untuk pria itu.
“Sepertinya orang itu sengaja ingin mencelakai Rifal,” ucap Nando. “Dia juga orang suruhan,” Lanjutnya sembari menyesap coffe yang diberikan oleh Valen.
Raut wajah Valen berubah khawatir, siapa yang menyuruh seseorang untuk mencelakai suaminya?
“Apa Rifal punya musuh?” Tanya Nando kepada Valen.
Valen menggelengkan kepalanya lalu juga mengangguk membuat Nando mengeritkan alisnya.
“Gue nggak tau Rifal punya musuh atau nggak,” kata Valen. “Bisa jadi Rifal punya musuh, dan bisa jadi juga nggak punya.”
“Menurut kamu gimana dengan Nathan?”
Valen langsung melirik Nando. Tiba-tiba saja pria itu menyebut nama Nathan.
“Yah, maksud saya. Bisa jadikan dia di balik semua ini, karna dia suka sama kamu,” tebak Nando. “Tapi saya juga belum yakin, tapi hanya dia saja yang dalam otak saya.” lanjutnya.
“Nggak mungkin Nathan yang lakuin ini semua,” bantah Valen. “Gue sama Nathan satu sekolah di SMA gue tau dia gimana….Meski tidak semuanya,” kata Valen di akhir katanya sedikit ragu.
“Ini hanya kesimpulan saja,” kata Nando membuat Valen mengangguk kecil.
Valen berharap Nathan bukan di balik ini semua, dia yakin jika bukan Nathan di balik ini semua. Dalam motif apa coba Nathan melakukannya? Jika karna motif Nathan menyukainya itu tidak mungkin.
Nathan bukan pria bodoh yang berpikir pendek. Tapi siapa yang berusaha mencelakai Rifal?
“Kamu nggak usah mikirin semuanya, biar saya yang cari tau sama Elga,” nasehat Nando agar Valen tidak larut dengan ini semua. “Kamu harus banyak istirahat, gimana nanti kalau Rifal bangun kamu sakit? Tentunya dia akan menyalahkan dirinya karna tidak bisa mengingatkan mu,” kata Nando dengan bijak membuat Valen tersenyum.
“Iya,” kata Valen. “Kamu sama Lea udah baikan?” Tanya Valen membuat Nando mengedikkan bahunya acuh.
__ADS_1
“Saya nggak peduli. Mau dia ngomong sama saya atau nggak saya tidak peduli, lagian juga saya tidak punya hubungan yang istimewa,” sombongnya membuat Valen tertawa geli.
“Bohong kamu.”
Ceklek
Pintu ruangan Rifal dibuka oleh sosok gadis cantik, dia membawa buah-buahan di tanganya.
“Pagi dokter Valen!” sapa Lea menyimpan buah yang dia bawa diatas meja lalu menghampiri Valen yang duduk bersama dengan Nando dengan kursi bedah.
“Pagi,” sapa balik Valen.
Lea memeluk Valen dan dibalas pelukan oleh Valen.
“Dokter Valen udah makan?” Tanya Lea.
“Udah.”
Lea bernafas legah. “Alhamdulillah kalau gitu,” kata Lea.
“Lea bawa buah untuk dokter Valen,”kata Lea lagi.
“Kamu dapat uang dari mana?” sahut Nando tanpa mengalihkan matanya dari layar handponenya.
“Dokter Valen dengar suara itu tadi nggak?” Tanya Lea. “Ada suara tidak ada gambar,” lanjutnya membuat Nando berdesis kearah Lea.
“Kenapa!?” Nyolot Lea pada Nando.
“Dasar bocah ingusan!”
“Kak Nando buta atau apa? Emangnya kak Nando lihat ingus Lea?” sewot gadis itu menunjuk hidungnya membuat Valen tertawa geli.
Kehadiran Nando dan juga Lea berhasil mengalihkan pikirannya.
Nando berdecak kesal kearah Lea.
Sepertinya Nando sudah tersekat dengan perkataan Lea, karna pria itu sudah tidak membalas perkataan Lea lagi.
“Kalian berdua saling ngambek?” tanya Valen.
“Nggak!”
“Tidak!”
Sahutan Nando dan Lea yang hampir bersamaan membuat Valen tersenyum tipis.
__ADS_1
Nando dan Lea saling bertatap membuat Lea langsung membuang wajahnya kearah samping.
“Lea pamit,” kata gadis itu beranjak dari kursinya.
Lea berpamitan membuat Valen mengerutkan alisnya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Valen karna Lea baru saja sampai dia langsung mau pamit.
“Lea cuman mau ke toilet, perut Lea mules tiba-tiba lihat muka masam kak Nando!” Ejeknya membuat Nando melototkan matanya kearah Lea.
Lea langsung berjalan menuju kamar mandi membuat Nando mengumpat kasar gadis itu.
“Awas sampai suka,” kata Valen lalu berdiri dari tempat duduknya untuk melihat kondisi Rifal.
“Emang udah suka,” kata Nando dengan pelan, hanya dirinya saja yang mendengarkannya.
Valen terus saja memperhatikan wajah Rifal yang masih setia tertutup. “Gue kangen Fal,” menolognya. “Cepat bangun.”
Sudah lima hari semenjak kecelakaan itu, namun Rifal juga belum bangun meski operasinya berjalan dengan lancar.
Dokter yang menangani Rifal masuk dengan dua perawat untuk memeriksa kondisi Rifal. Sebenarnya Valen bisa saja mengambil alih untuk menangani Rifal namun tidak diberikan oleh Nando dengan keadaannya seperti ini.
Nando juga belum memberitahukan pada Valen, jika sebelum kecelakaan Rifal pernah berkata padanya, akan menyuruh Valen berhenti bekerja dan fokus pada suaminya dan juga anak yang dia kandung.
Namun belum sempat Rifal mengatakannya pada Valen, dia sudah kecelakaan.
Dokter Hamka memeriksa kondisi Rifal, Valen juga sempat memeriksa Rifal menggunakan perasanya tanpa bantuan alat medis.
“Gimana keadaan suami saya dok?” Tanya Valen pada dokter Hamka.
“Kondisinya jauh lebih baik,” kata dokter Hamka membuat Valen bernafas lega. “Dalam waktu dekat ini suami dokter Valen akan sadar,” lanjutnya membuat Valen bersyukur dengan penuturan dokter senior di depannya.
“Makasih yah dok,” kata Valen.
“Sama-sama dokter Valen.”
Dokter Hamka pamit pergi karna ingin mengecek kondisi pasien yang lainya juga.
“Nan, gue keluar bentar. Kamu lihat Rifal dulu,” kata Valen dan dibalas acungan jempol oleh Nando yang menunggu Lea keluar dari toilet.
Valen berjalan menuju ruangan Dokter Hamka, dia lupa menanyakan siapa rekan dokter yang menangani suaminya di ruangan operasi kemarin mendonorkan darahnya.
Valen hanya ingin berterimakasih secara langsung pada dokter tersebut yang sudah menyelamatkan suaminya dengan mendonorkan darahnya yang sangat berarti itu.
Setetes darah yang kita donorkan pada seseorang itu sangat berharga.
__ADS_1