Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ke Kantor


__ADS_3

Rara memakaikan dasi untuk Frezan, pagi ini, Frezan akan ke kantor di temani dengan Rara. Hukuman untuk Rara dari Frezan baru pagi ini ingin di jalankan.


''Udah tampan,'' puji Rara merapikan dasi milik Frezan.


Setelah memakaikan dasi Frezan, Rara mengambil tas kerja Frezan. Rara juga sudah siap dengan blazer berwarna senada dengan jas kantor milik Frezan, serta Rara menggunakan celana kain dan juga sepatu yang hak yang tidak terlalu tinggi.


''Mau sarapan di kantor atau di rumah?'' tawar Rara berjalan beriringan dengan Frezan, seraya membawa tas kantor Frezan.


Frezan melirik jam di pergelangan tanganya. ''Kita sarapan di kantor,'' jawab Frezan. ''Udah aku hubungi orang kantor, untuk membawa sarapan di ruangan aku.''


Rara mengangguk mengerti dengan ucapan Frezan.


Frezan membawa mobil sendiri ke kantor, karna Rara ikut dengan dirinya.


Frezan fokus menyetir sementara Rara sibuk dengan pondoknya. Rara sedang mencari info mengenai Valen di sosial media.


Siapa tau saja, ada orang yang menemukan Valen dan membuat pengumuman di sosial media.


Sudah beberapa hari Rara melakukan hal ini, tapi dia tidak mendapatkan petunjuk apapun.


''Mikirin apa?'' tanya Frezan.


''Kita nggak saranin sama om Aska untuk lapor polisi aja, soal hilangnya Valen di pantai Bali,'' jawab Rara membuat Frezan menaikkan alisnya.


Dia melirik Rara kembali fokus menyetir, ''emangnya yang cari Valen di laut bukan polisi?'' terang Frezan membuat Rara langsung tersenyum tipis.


''Bahkan, om Aska kerahin angkatan laut hanya untuk mencari Valen,'' lanjut Frezan.


''Maksud aku, bukan cuman di laut aja. Tapi di sekitar Bali,'' usul Rara. ''Siapa tau aja kan, Valen di temukan sama nelayan.''


''Nggak ada nelayan di laut mencari ikan dengan awan yang sudah mulai menggelap,'' timpal Frezan.


''Kita nggak tau, siapa tau aja Kan, ada nelayan pulang lambat karna sesuatu,'' pikiran Rara berkelana sampai ke sana.


''Udah sebulan lebih Valen hilang, nggak ada sama sekali warga datang di tempat lokasi untuk mengatakan jika dia menemukan korban.''


''Kamu tau, kan, om Aska udah nyebarin semua poster foto Valen di area Bali. Bahkan, om Aska nyebarin foto Valen hampir di setiap sudut Jakarta. Kalau mau di pikir, Valen bukan hilang di Jakarta,'' lanjut Frezan.


''Om Aska juga udah nyebarin berita kehilangan Valen di stasiun tv, koran dan di sosial media.''

__ADS_1


Rara hanya memanyunkan bibirnya, jika berbicara dengan Frezan dia selalu di skak dengan pernyataan nyata yang di berikan Frezan untuknya.


Mobil Frezan masuk ke parkiran kantornya. Dia mematikan mesin mobilnya. ''Kamu tunggu di situ, aku yang bukain kamu pintu,'' ucap Frezan lalu keluar tanpa menunggu jawaban dari Rara.


Ini pertama kakinya Rara ke kantor Frezan, dia juga penasaran dengan suasana kantor suaminya.


Siapa tau saja dia betah mengikuti Frezan setiap kali suaminya itu ke kantor.


Para karyawan yang melihat kedatangan Frezan langsung menuju ke meja kerja masing-masing.


Ini pertama kalinya Frezan ke kantor semenjak Daniel meninggal dan Rara jatuh sakit.


Para karyawan melihat Frezan membukakan seseorang pintu mobil, mereka bisa menebak jika orang itu spesial karna Frezan membukakan pintu mobil.


Rara turun dengan setelan blazer yang dia kenakan, rambutnya tergerai indah, serta make up tipis di wajahnya membuatnya semakin cantik.


Dia seperti masih seorang gadis abg, apalagi tubunya dan wajahnya sangat pas.


‘’Gandeng tangan aku,'' perintah Frezan kepada Rara.


''Aku malu, kalau dilihat sama karyawan kamu,'' tolak Rara karna malu jika melihat karyawan Frezan menatap dirinya.


Tas Frezan sudah dibawa oleh Lukman. Lukman tugasnya membuat coffe hanya untuk Frezan dan membawa makanan untuk Frezan.


‘’Sarapannya sudah siapa di meja bapak,'' ucap Lukman lalu pamit berjalan lebih dulu.


Frezan berjalan beriringan dengan Rara, istrinya itu menundukkan kepalanya seperti wanita yang sedang ketakutan.


Frezan berjalan melewati para karyawanya yang sedang bekerja. Mereka semua hampir mengatakan jika wanita yang di gandeng Frezan adalah istrinya.


Mereka semua penasaran melihat wajah istri Frezan, karna Rara terus-terusan menundukkan kepalanya.


Dia yakin, jika mereka sedang membicarakan dirinya. Ini salahnya karna baru ke kantor suaminya sendiri.


''Jangan nunduk, lihat kedepan. Kalau kamu sampai nunduk...Aku bakalan buat kamu nggak tidur sebentar malam,'' ancam Frezan membuat Rara langsung mengangkat wajahnya.


Wajahnya yang cantik, imut, putih mulus serta pipihnya sedikit tembem bibir yang mungil membuat semua para karyawan Frezan terkejut melihat kecantikan Rara.


Dia seperti boneka hidup, karyawan Frezan sungguh memuji kecantikan milik Rara yang nyaris sempurna.

__ADS_1


Kedua pasangan suami istri itu, nyaris sempurna di mata para manusia yang melihatnya.


Mereka berdua sama-sama cantik dan tampan.


Frezan yang melihat tingkah Rara yang langsung mengangkat kepalanya berusaha menahan tawa.


Dia tidak ingin, jika sikapnya yang datar, dingin di kantor tiba-tiba tertawa di depan banyak orang apa lagi didepan para karyawanya.


''Kak Eza ngancam gitu sih!'' pekiknya tertahan.


Rara berusaha menjaga imegnya agar terlihat baik.


''Jangan bawel,'' balas Frezan.


Rara dan Frezan masuk kedalam lift, Frezan menekan tombol yang akan membawa mereka ke lantai ruanganya.


Tentu saja lift yang di pakai Frezan merupakan lift khusus untuk dirinya. Di lift itu, hanya Frezan dan Daniel saja yang boleh masuk.


Karyawan lain dilarang keras menaiki lift tersebut.


''Kak Eza nggak mau cari pengganti Daniel di kantor?'' tanya Rara bersamaan dengan lift terbuka.


Mereka berdua keluar dari lift, tak di pungkiri kantor milik Frezan begitu mewah.


''Untuk sementara tidak dulu,'' jawab Frezan seraya menekan sederatan angkah untuk membuka pintu ruangannya.


Pintu ruangan Frezan terbuka, setelah dia memasukkan pasword ruanganya.


''Apa aku nggak salah lihat, kalau pasword pintu ruangan kamu tanggal pernikahan kita?'' tanya Rara memastikan.


Rara berjalan masuk ruangan Frezan dan langsung di suguhkan oleh pemandangan kota Jakarta dari ketinggian sini.


Ruangan Frezan sangat rapih, serta ada tempat rak buku sederhana di pojok sana. Ada foto dirinya dan foto pernikahan mereka di dinding ruangan kerja Frezan.


''Kamu nggak salah, emang paswordnya tanggal pernikahan kita,'' ucap Frezan seraya mengambil sarapan yang berada diatas meja kerjanya lalu dia bawa menuju meja tempatnya biasa mengobrol dengan Daniel.


Jawaban dari Frezan mampu menbuat pipih Rara merah merona. Dia tidak hal kecil itu mampu menbuatnya salah tingkah.


''Kamu ngapain di situ berdiri? Sarapan dulu.''

__ADS_1


Rara langsung berjalan kearah Frezan, dia sudah melihat suaminya itu membuka kotak makanan yang dibawa oleh Lukman tadi, untuk sarapannya pagi ini di kantor.


__ADS_2