
Agrif sedari tadi merengek dan menangis kepada bibi. Dia menyuruh bibi tersebut untuk mendatangi rumah Lea malam ini juga.
''Bibi, Agrif mau kakak cantik!'' tangis anak itu membuat bibi berusaha menenangkan Agrif yang merengek memintanya untuk ke rumah Lea langsung.
''Bibi!'' Agrif merengek dengan tanganya menggenggam tangan bibi dengan erat. Dia tidak melepaskan sebelum bibi mengiyakan permintaannya.
''Bibi nggak lihat rumah kakak cantik,'' jawab Bibi seraya tanganya bergerak mengusap rambut Agrif agar anak itu tenang.
''Bibi pasti bohong!'' tangis anak itu masih tidak melepaskan sang bibi.
Didalam ruangan Daniel di penuhi dengan suara isak tangis milik Agrif yang begitu piluh. Nama Kakak cantik selalu keluar dari bibirnya yang bergetar hebat.
''Agrif, jangan nangis yah nak. Kasihan papah kamu lagi sakit.'' Bibi mengingatkan Agrif agar anak itu berhenti menangis.
''Hiks…Hiks… Agrif tambah bahagia, kalau papah bangun karna suara tangis Agrif!'' Bibi langsung membawa Agrif dalam pelukanya.
Anak majikannya itu sangat kesepian, dan hanya membutuhkan Lea di sini. ‘’Agrif mau kakak cantik!''
Tangisan Agrif yang begitu piluh terdengar samar keluar ruangan. Sehingga dokter Zul dan juga Nathan menghentikan langkah kakinya tepat di depan ruangan Daniel.
Kedua dokter tampan itu saling bertatapan seakan-akan berkomunikasi lewat mata mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mereka pikir, Daniel sedang dalam keadaan bahaya lalu mereka membuka pintu ruangan Daniel sehingga suara tangis Agrif semakin terdengar.
Padahal, mereka ingin ke ruangan pasien lain. Namun mendengar suara Agrif membuat mereka menghentikan langkah kakinya lalu masuk kedalam ruangan Daniel.
''Ada apa?'' Tanya dokter Zul dengan sedikit panik menghampiri bibi yang sedang menenangkan Agrif dalam pelukanya.
Sementara Nathan berjalan menuju bansal milik Daniel, dia memeriksanya. Namun kondisi pria itu masih sama seperti tadi. Lantas apa yang membuat anak itu menangis? Apa karna papahnya belum sadar? Bisa saja.
__ADS_1
Nathan sudah mengetahui jika anak itu adalah anak pasien yang sekarang berbaring lemah.
Daniel adalah pasien yang harus dia cek kondisinya setiap saat, karna pasien ini merupakan tangan kanan Frezan.
Frezan sudah memberikan perintah pada Nathan dan dua dokter lainya untuk menjaga Daniel dan memberikan info terkait mengenai kondisi Daniel.
Namun, pekerjaan ini lebih di berikan kepada dokter Zul. Bisa di katakan dokter Zul merupakan dokter pribadi yang setiap saat harus memeriksa kondisi Daniel dan memberikan kabar mengenai kondisi Daniel kepada Frezan.
Saat itu, Zul merasa senang karna Nathan dan dokter Kiki juga ikut serta. Sehingga dia tidak perlu takut mengenai pemeriksaannya apakah ada salah atau tidak.
Tentu saja dia takut, apa lagi berhadapan dengan Frezan membuat nyalinya menciut. Saat itu, dia belum tau jika dokter Nathan adalah adik dari Frezan.
Dokter Zul sempat berpikir, mengapa bukan Nathan saja menjadi dokter pribadi Daniel? Ternyata dia baru tau, jika dokter Nathan di butuhkan di setiap pasien.
Dokter Nathan dan dokter Kiki merupakan dokter profesional.
Nathan sudah memeriksa kondisi Daniel, masih sama seperti kondisinya tadi sore.
Mereka tau, dari sang bibi.
Zul mengacak rambut Agrif dengan gemes. ''Anak tampan nggak boleh cengeng. Papahnya entar tambah lama bangun.'' Dokter Zul berusaha menghibur Agrif.
''Agrif mau kakak cantik, hiks!''
Tangisan anak itu menbuat dokter Zul menjadi senduh, melihat anak sekecil ini sudah tidak mempunyai Ibu dan hanya mempunyai seorang papah saja yang kondisinya masih belum pulih.
Nathan mengerenyitkan alisnya mendengar Agrif ingin kakak cantik. ''Siapa kakak cantik?'' Tanya Nathan seraya menghampiri Agrif.
Agrif semakin menangis, membuat Nathan tidak tega melihat Agrif menangis seperti ini. Melihat Agrif, membuat Nathan mengingat adiknya Farel. Yang di mana papah mereka sudah meninggalkanya, dan Reta mamih Farel entah sekarang dimana bersama keluarga barunya.
__ADS_1
''Kakak cantik itu adalah gadis yang selalu kesini menemani Agrif, saat dia pulang kuliah. Dia selalu menemani Agrif di sini. Memandikannya, menyuapinya makan, dan menidurkan Agrif saat sudah jam tidur. Namun malam ini, dia tidak datang.'' Bibi menjelaskan membuat Zul mengangguk paham.
‘’Gadis imut itu yah, kalau tidak salah namanya Lea?''
Bibi mengangguk membenarkan ucapan dokter Zul. ''Iya benar. Dia selalu di panggil kakak cantik oleh Agrif.''
Dokter Zul menganguk.
''Kakak cantiknya itu, seperti ibu bagi Agrif. Meski baru beberapa bulan kenal namun Agrif sudah nyaman dengan keberadaan Lea. Meski usianya masih terbilang mudah, dia bisa berperan sebagai ibu untuk Agrif. Saya sampai kasihan melihatnya. Setiap pulang kuliah, dia langsung kesini hanya untuk melihat kondisi Agrif karna dia tau Agrif membutuhkan seseorang.'' Bibi menjelskan membuat dokter Zul takjub sementara Nathan mengangguk kecil seraya berpikir mengenai Lea, sosok gadis yang selalu mengejarnya jika dia berada di sini.
‘’Tapi entah kenapa, Lea sampai sekarang belum datang. Dia juga tidak menelfon Agrif hanya untuk memberikan kabar apakah dia kesini atau tidak,'' lanjut bibi seraya mengusap tubuh Agrif menenangkan anak itu yang selalu menyebut nama kakak cantik di setiap isak tangisnya.
''Kenapa tidak di Telfon saja?'' Tanya dokter Zul.
''Sudah berulang kali saya dan Agrif menelfonya. Namun satu panggilanpun tidak di angkat.''
Bukan hanya Agrif saja yang menelfon Lea, tapi bibi juga ikut serta menelfon Lea karna kasihan melihat Agrif.
Dokter Zul melirik Nathan, sehingga Nathan juga meliriknya membuat Nathan bertanya. ‘’Kenapa sampai liat saya seperti itu?'' Tanya Nathan karna melihat dokter Zul menatapnya seraya tersneyum tipis.
Dokter Zul sudah tau, jika gadis imut itu mengejar rekan kerjanya ini. Dokter Zul sempat berpikir mengapa gadis itu selalu mengejar dokter Nathan meski sudah berulang kali di tolak.
''Coba kamu yang Telfon,'' usul dokter Zul membuat Nathan terdiam. ''Siapa tau aja dia mengangkat Telfon dari kamu, Nath.''
''Kau tau kan, gadis itu menyukai mu.'' Lanjut dokter Zul. Sementara bibi sibuk mengurus Agrif karna anak itu masih belum juga berhenti untuk menangis.
''Saya tidak mau!'' tolak dokter Nathan memundurkan langkahnya menjauh dari bibi dan Agrif. Takut jika percakapanya di dengar dan membuat kesalah pahaman.
''Ayolah!'' pintah Zul karna dia tidak tega melihat Agrif menangis seperti ini.
__ADS_1
''Saya tidak mau yah, gadis itu semakin geer jika saya menghubunginya,'' Nathan menolak mentah-mentah suruhan dokter Zul.
Dokter Zul memutar bola matanya malas. ''Kamu tinggal bilang, kamu kenapa nggak ngangkat Telfon dari Agrif. Karna di sini dia sedang menangis memanggil nama mu dan menunggu dirimu.'' Dokter Zul menjelskan kepada Nathan. ''Itu yang kau katakan padanya.''