
Pesta semalam membuat Rara menjadi tidur sampai sekarang, sudah pukul 9 pagi, ia belum bangun dari tempat tidurnya.
Sedari tadi Frezan mengguncang tubuhnya dengan pelan untuk segera bangun.
Mereka pulang dari rumah Rifal pukul satu dini hari, entahlah apa saja yang di gosipkan Rara beserta kedua sahabatnya.
Frezan hanya di suruh menunggu bersama anak-anak di kamar tamu. Melarang siapapun masuk kedalam kamar Anna.
''Bangun, Ra. Udah siang. Aku mau ke kantor ini.''
''Aku ngantuk,'' keluh Rara menaikkan selimutnya sampai kepalanya.
Frezan menghembuskan nafas berat. ''Aku ke kantor dulu. Kalau udah bangun cek kamar anak-anak.'' Frezan langsung mengambil tas kerjanya lalu melenggang pergi dari kamar mereka berdua.
Frezan menuruni anak tangga melihat Dyra dan Dyta sedang sarapan pagi di temani dengan Kayla.
Frezan menggelengkan kepalanya saat melihat Kayla menguap menyuapi Dyra, sementara Dyta makan tanpa ingin du suap oleh Kayla.
''Nggak sarapan dulu lo, Za?'' tanya Kayla dengan wajah lesuh karna rasa kantuk.
''Nggak.'' Frezan menjawab sekenanya lalu pergi dari rumah utama untuk segera ke kantor.
Ia sendiri yang akan terjun mengurus kantornya tanpa adanya tangan kanan. Frezan tidak bisa dengan mudah mempercayai orang lain untuk menjadi orang kepercayaanya.
Selama Daniel meninggal satu tahun yang lalu, ia sudah bekerja di kantor tanpa bantuan tangan kanan seperti Daniel.
Daniel merupakan tangan kananya yang sangat ia percayai, yang tidak akan bisa ia temui di orang lain.
''Mah,'' panggil Dyta dengan gemes.
''Iya, Ta. Kenapa?'' tanya Kayla menatap anak pertamanya itu dengan senyuman menahan kantuk.
''Papah masih lama pulang?'' tanya Dyta membuat rasa kantuk Kayla perlahan-lahan hilang karna pertanyaan anaknya.
Entahlah, sampai kapan Kayla harus menyembunyikan hal ini kepada anaknya, ia selalu mencari ide untuk mengatakan jika Elga sedang sibuk kerja untuk mereka.
''Nanti mamah Telfon papah, ya. Kamu bicara nanti sama papah. Tanya sama papah El kapan dia pulang.'' Tangan Kayla bergerak mengusap rambut Dyta.
Anak itu hanya mengangguk saja.
Dyta dan Hasya sudah selesai sarapan, Kayla membereskan meja makan lalu membawa kedua anaknya menuju keatas.
Rara bangun dari tempat tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi.
''Bunda!''
__ADS_1
Panggil Hasya dari luar membuat Rara dengan cepat membasuhi wajahnya.
Ceklek…
Rara membuka pintu kamarnya lalu menundukkan kepalanya mencium pipih anaknya.
''Ayah mana bun?'' tanya anak itu masuk kedalam kamar Rara.
''Udah berangkat kerja, sayang,'' jawab Rara membuat Hasya menjadi lesuh.
''Kok lesuh gitu,'' ucap Rara.
''Kemarin, kan, nggak jadi beli mangga. Jadi Hasya mau ajak ayah beli mangga.''
Rara tertawa kecil, kemarin mereka mengusulkan kepada anaknya untuk mengajak Frezan ke supermarket untuk membeli buah mangga saat pria itu pulang kerja.
Namun Frezan tidka bisa, karna ia sedang sibuk dengan berkas kantor yang menumpuk yang ia bawa pulang untuk ia kerjakan di kantor.
''Kayaknya ayah nanti pulang cepat,'' ucap Rara. ''Nanti bunda yang akan ngajak ayah kamu untuk ke supermarket.''
''Janji.'' Hasya menautkan jari kelingkingnya di hadapan Rara.
''Janji.'' Rara menyambut jari kelingking Hasya lalu meggendong anaknya itu dengan gemas.
Anak-anak mereka tidak ada yang ke sekolah, mereka semua mengantuk karna pesta semalam.
''Masuk sini, Rel.'' Rara menyuruh Farel masuk kedalam kamarnya.
Farel langsung masuk dengan wajah bangun tidur.
''Kok Farel nggak di bangunin buat ke sekolah?'' tanya Farel duduk di tepi ranjang Rara bersama Hasya.
''Kalian mau ke sekolah dengan rasa ngantuk? Percuma aja,kan, kalau ke sekolah tapi nggak konsentrasi. Mending lanjut tidur di rumah,'' ujar Rara dengan cekikikan membuat Farel tertawa.
''Setidaknya absen mbak, kata bang Nathan.''
''Abang Nathan kamu dari dulu kayak gitu. Waktu sekolah dulu dia menjabat sebagai ketua osis. Semogah aja kamu ngikutin jejak bang Nathan kamu daripada ngikutin jejak kak Eza kamu yang suka bolos saat di sekolah.'' Rara tersenyum saat mengingat masa SMA mereka di penuhi dengan cinta dan sedih.
''Kalau Bunda di sekolah jadi apa?'' tanya Hasya membuat Rara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Bunda dulu jabat sebagai ketua osis. Karna saat itu Nathan udah lepas jabatan sebagai ketua karna udah naik kelas 12.''
Kedua anak itu mengangguk kecil.
''Kalau kak Eza jadi apa?'' tanya Farel lagi membuat Rara tertawa.
__ADS_1
''Kak Eza kamu itu preman sekolah. Dia suka bolos, dan selalu nyusahin pihak sekolah.''
Mereka bertiga tertawa.
''Hasya, Farel, Dyta, Dyra dan Tegar harus sekolah yang benar nanti. Jangan suka bolos dan nyusahin guru-guru di sekolah,'' peringat Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Farel dan Hasya.
Rara mengajak kedua anak itu turun ke lantai bawah untuk makan, ia tau jika mereka belum makan.
Terlebih dahulu Rara ingin memasak namun ia urungkan karna makanan di meja makan sudah tertatah rapih.
Siapa yang memasak?
Rara berpikir jika yang memasak adalah Kayla. Tugas Siska bukan bagian dapur, karna tugasnya hanya menjaga anak-anak saja.
''Mbak, Farel mau ayam sama nasi sama sayur kangkungnya,'' tunjuk Farel pada makanan yang baru saja ia sebutkan tadi.
Rara langsung menuangkan nasi, ayam dan sayur kangkung diatas piring ipar kecilnya itu.
''Kalau Hasya mau makan apa?'' tanya Rara bersiap ingin mengambilkan makanan untuk Hasya.
''Ikan sama nasi aja, bun,'' jawab Hasya.
Rara langsung memberikan ikan dan nasi kedalam piring Hasya.
''Mbak Rara nggak bangunin Tegar buat makan?'' tanya Farel memasukkan ayam kedalam mulutnya.
''Astgah, aku sampai lupa,'' gumam Rara menepuk jidatnya.
Ia melupakan satu anaknya, untung saja Farel mengingatkan dirinya.
''Kalian makan duluan, bunda mau manggil Tegar buat makan.'' Farel dan Hasya mengangguk mengiyakan ucapan Rara.
Sementara di kamar Kayla ia nampak berpikir. Apakah ia harus tinggal di sini sampai Elga keluar? Atau ia memilih mencari rumah saja untuk tinggal bersama dengan ketiga anaknya.
Huft
Kayla menghembuskan nafas berat, ia harus memikirkan dengan matang sebelum memutuskan hal ini.
''Rara ngizinin nggak yah, kalau gue bilang mau beli rumah aja buat tinggal sama anak-anak gue.''
Rara dan Frezan sangat baik padanya, hanya saja Kayla merasa tidak enak jika terus-terusan tinggal di rumah Rara dan Frezan.
Kayla sudah menjamin 80 persen, jika Rara tidak akan membiarkan dirinya pergi dari sini tanpa Elga.
Apa lagi Revan masih kecil.
__ADS_1
‘’Besok gue coba ngomong sama, Rara. Semogah aja 20 persennya dia ngizin gue tinggalin rumah ini.''
Meski Elga tidak ada, bukan berarti keuangan Kayla akan menurun.