
Sepertinya Rifal telah menjalankan hukumnya, meski Valen tidak menganggap serius akan hal itu. Namun, Rifal tetap menjalankan hal tersebut yang membuat dirinya sendri berpikir, mengapa dia harus mematuhi perintah Valen?
Dimeja makan, Rifal mengamati wajah Valen yang sedang sibuk dengan peralatan dapurnya, dia ingin membuat sarapan. Entah mereka berdua sarapan atau makan siang, karna dia kesiangan.
Rifal melihat wajah Valen masih nampak pucat, ini yang kedua kalinya Rifal melihat Valen mual seperti ini.
"Lo beneran nggak sakit?"
Valen melirik kearah Rifal, rupanya pria itu memperhatikan dirinya yang sedang menggoreng nasi untuk mereka makan.
Valen bersyukur, karna dia bisa mengobrol lagi dengan Rifal, setelah dia minta maaf. Meski Valen tidak tau apa letak kesalahannya, namun dia tetap minta maaf kepada Rifal.
"Gue nggak sakit," jawab Valen lalu kembali mengaduk nasi goreng buatannya.
Entah mengapa Rifal merasakan kecanggungan melandanya saat ini. Apakah dia kakuh? Apa mungkin salah tingkah kepada Valen?
Rifal hanya mengangguk kecil mendengar jawaban dari Valen. Meski dia tidak yakin jika gadis itu tidak sakit, kentara dari kelopak matanya dan juga wajahnya sedikit pucat. Meski Rifal bukan dokter seperti Valen, namun dia juga tau membedakan mana yang sakit, dan mana yang sehat.
Seperti sekarang ini, Rifal tidak yakin jika Valen tidak sakit, namun gadis itu saja tidak ingin mengatakannya.
"Apa perlu gue bawa lo ke RS?" tawar Rifal kepada Valen.
Valen terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya tanpa melihat kearah Rifal.
"Gue baik-baik aja. Gue 'kan dokter jadi gue bisa tau kondisi gue yang sekarang," bangga Valen membuat Rifal berdecih kearah Valen.
Valen menyajikan nasi goreng buatannya diatas meja, setelah satu bulan tidak makan bersama dengan Rifal, akhirnya dia bisa makan bersama pria itu.
Jujur saja, Rifal merindukan masakan buatan Valen. Seringkali Rifal secara diam-diam memakan makanan buatan Valen tanpa sepengetahuan gadis itu.
"besok gue bakalan kembali kerumah sakit," kata Valen sembari memberikan nasi goreng ke piring milik Rifal.
__ADS_1
Setelah tiga hari berisitirahat dirumah, karna saat itu Valen pingsan saat mengetahui bahwa Adelia sadar dan saat itu pula dia mengetahui jika dirinya hamil, anak Rifal.
Valen sudah memutuskan, dia akan kembali bekerja dirumah sakit setelah dia merasakan dirinya baik-baik saja, meski pagi tadi dia mual karna mencium aroma Rifal.
Valen yakin, jika sabun yang digunakan Rifal semalam sabun yang tidak ingin disentuh dan dicium oleh Valen. Kalian tau, sabun yang semalam Rifal pakai sabun milik Valen yang sama sekali Valen tidak ingin mencium wangi sabun tersebut.
Padahal itu wangi sabun kesukaannya, mungkin karna dia sedang hamil keanehan itu telah muncul, apa lagi ini hamil pertama untuk Valen.
"Lo 'kan sakit," kata Rifal memasukkan nasi goreng buatan Valen kedalam mulutnya. Dia sempat terkejut saat Valen mengatakan ingin kembali bekerja besok.
"Gue udah baikan. Gue nggak mau tinggalin tanggung jawab gue sebagai dokter," kata Valen menggeser kursinya duduk berhadapan dengan Rifal memakan nasi goreng.
Rifal menatap Valen yang sedang menikmati nasi goreng yang dia makan. Rifal ingin melarang Valen untuk kembali bekerja besok, karna dia bisa melihat jika wanita itu belum pulih sepenuhnya. Apa lagi Rifal melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Valen mual sangat kesakitan, bahkan Rifal saja jadi ibah melihat Valen.
Namun disisi lain, Rifal gengsi untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dia tidak tau bagaimana ekspresi Valen jika Rifal menyuruh wanita untuk istirahat dan tidak kembali bekerja besok.
Jangan peduli, Fal.
Valen beranjak dari kursi makan, hingga suara Rifal membuat langkah kakinya berhenti.
"Mau kemana?" tanya Rifal meminum teh yang telah diseduh untuknya.
Valen membalikkan badannya melihat kearah Rifal. Pertanyaan Rifal seperti ada yang janggal menurut Valen, namun dia tetap berusaha tenang jika pertanyan Rifal tidak berpengaruh untuk hatinya, apa lagi sampai mengharapakan pria itu.
"Gue mau ketemu Kayla sama Elga."
Rifal sudah tau, jika hari ini Kayla dan Elga telah tiba di Indonesia. Rifal juga merindukan sosok Elga sosok cowok yang selalu bersama dengannya semasa SMA meski mereka beda kelas. Dan ingat juga, kedua orang tua mereka sangatlah dekat apa lagi Aska dan Alvi sudah seperti adik kakak.
"Seharusnya lo nungguin gue selesei makan. Baru lo bisa berdiri dari kursi yang lo duduki."
Perkataan Rifal memang benar, seharusnya Valen tidak melakukan hal seperti itu. Namun jadi pertanyaanya, sejak kapan Rifal mempedulikan akan hal itu?
__ADS_1
Valen ragu, apakah dia harus kembali duduk ditempatnya atau melanjutkan langkah kakinya. Dia sudah merasa bersalah kepada Rara karna tidak menemani Rara kebendara menjemput Elga dan juga Kayla. Bagaimana jika Rifal tidak mengizinkan Valen untuk keluar? Valen harap, kata itu jauh dari benak pikiran Rifal.
Rifal masih duduk dikursi makan dengan Valen berdiri yang tidak jauh dari meja makan sembari melihatnya yang belum juga beranjak.
Rifal menyesap tehnya sembari menatap Valen membuat Valen jadi kikuk sendri harus seperti apa.
"Apa yang lo lakuin sekarang nggak baik. Suami masih makan dan lo udah pergi."
Lagi dan lagi Valen tercengang mendengar apa yang dikatakan Rifal. Apakah pria itu tidak salah mengucapkan kata -kata atau telinganya yang salah mendengarkan.
Suami dan istri? Kata-kata yang dikeluarkan Rifal tadi memang benar 'kan? Jika Valen tidak salah dengar.
Rifal kesambet apa sih.
Valen mengikuti kata hatinya berjalan kembali dikursi yang tadinya dia duduki, memang dia salah pergi begitu saja tanpa menunggu Rifal terlebih dahulu.
Tapi 'kan, Rifal tidak pernah mempermasalahkan akan hal itu.
Sial. Kenapa mulut gue ngomong seenaknya.
Valen duduk kembali ditempatnya, sembari melihat Rifal yang masih menatapnya.
"Lain kali jangan ngulangin apa yang lo lakuin tadi."
Lagi dan lagi Rifal hanya bisa membatin mencaci maki dirinya sendiri mengatakan hal seperti itu. Dia yakin, jika Valen akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinnya.
"Lo sehat 'kan?" pertanyaan itu langsung lolos dari mulut Valen membuat Rifal mengerutkan keningnya dalam-dalam atas pertanyaan Valen.
"Seharusnya gue yang tanya kayak gitu sama lo. Bukan sebaliknya," sanggah Rifal membuat Valen terdiam sejenak.
Namun Valen merasakan jika Rifal sakit, sedari dimeja makan pria itu sudah sedikit aneh atau lebih tepatnya berbeda dari hari yang lain.
__ADS_1
Apa lagi semalam mereka tidur bersama, membuat Valen tidak tau apa yang ada dalam benak Rifal semalam.