
"El!" panggil Kayla saat melihat Elga menaiki anak tangga dengan masih mengenakan baju kantornya. Kayla melirik jam sudah pukul sepuluh malam, pria itu baru kembali.
Elga melihat kearah bawa, dia melihat Kayla sedang menatapnya. Mengingat hal semalam membuat Elgara cemburu, pria itu kembali melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.
"El, aku minta maaf!"
Elga terkesima, mendengar penuturan kata maaf dari Kayla dari lantai bawah. Seharusnya memang seperti itu, Kayla yang harus mengucapakan kata maaf menurut Elgara.
"Maaf, buat yang kemarin," lanjutnya.
Elga menatap Kayla dari anak tangga.
"Maafin aku yah, El," kata Kayla lagi.
Perkataan Kayla yang tulus ditelinga Elga membuat pria itu mengangguk mengiyakan ucapan Kayla.
Elga mengangguk kecil, Kayla yang mendapatkan respon seperti itu dari Elga tersenyum hangat kearah Elga.
Kayla berjalan menaiki anak tangga, lalu dia berjalan beriringan dengan Elga.
Kayla melepaskan dasi yang melekat dileher Elga, dia melepaskan jas yang dikenakan oleh Elga serta membukakan kancing kemeja pria itu.
"Kay," panggil Elga dengan suara pelan.
"Kenapa?" tanya Kayla dengan tangannya dan matanya fokus membuka kancing kemeja Elga.
"Jangan dekat-dekat sama siapapun, aku cemburu," kata Elga dengan senduh sehingga membuat Kayla mendonggakkan kepalanya sehingga matanya dengan mata telanjang Elga bertemu.
Mungkin saja karna kecapean, Elga berkata seperti ini.
Kayla mengangguk kecil, "iya," jawabnya lalu melepaskan kemeja Elga setelah dia berhasil melepaskan kancing kemejanya.
"Termasuk sama mantan kamu."
Kayla melirik Elga, maksud Elga? Daniel bukan? Karna mantan Kayla hanya Daniel saja.
"Maksud kamu, Daniel?" tanya Kayla memastikan sembari melepaskan kemeja Elga dari tubuhnya yang kekar.
__ADS_1
"Iya, Kay. Mantan kamu 'kan cuman Daniel," kata Elga membuat Kayla hanya mengangguk saja, dia tidak mempertanyakan lebih lanjut lagi.
"Udah aku isi air di bathub pake air hangat," kata Kayla mengingatkan kepada Elga agar tetap mandi meski sudah jam sepuluh malam.
"Makasih, Kay," kata Elga dan dibalas anggukan kepala oleh Kayla.
"Sama-sama, El. Udah kewajiban aku sebagai istri," kata Kayla membuat Elga tersenyum tipis.
Elga masuk kedalam kamar mandi, sementara Kayla sudah menarik selimutnya untuk segera tidur, dia sangat mengantuk.
Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Elga telah usai mandi. Dia mengenakan baju piyama untuk segera tidur.
Cup
Elga mencium kening Kayla yang sudah tertidur nyenyak. Pertengkaran dirumah tangga udah pasti selalu ada. Tapi gue harap pertengkaran kita nggak seperti orang lain, Kay. Gue cuman mau milikin lo sampai kita menua dan menjadi salah satu jalan memisahkan kita hanya maut. Batin Elga sembari menatap wajah Kayla yang sudah tidur nyenyak.
Elga mematikan lampu kamarnya, hanya tersisa lampu tidur saja. Lepas itu dia berbaring didekat Kayla. Elga memejamkan matanya untuk segera tidur, tiga detik dia menutup matanya dia langsung membuka matanya. Ada yang dia lupakan.
Dia bangun dari tempat tidurnya, dia menyalakan lampu kamar kembali, dia melupakan kedua anaknya. Dia belum memberikan ciuman kepada kedua anaknya.
"Anak papah yang cantik," menolog Elga menol pipih Dyta dengan gemas. Dia ingin melakukan hal yang sama kepada Dyra namun dia agak takut karna anak itu mudah menangis saat tiba-tiba mendapatkan sentuhan secara mendadak apa lagi dia tengah tertidur.
Tangan Elga bergerak menoel pipih Dyra, namun dia urungkan kembali karna takut jika anak itu menangis, apa lagi Kayla tengah tertidur.
Tapi, tangannya sangat gemas untuk mencubit pipi Dyra. Elga melirik Kayla dia kembali mendekati pipih Dyra.
Semogah aja Dyra nggak nangis, kalau sampai nangis mampus gue kena amukan, Kayla.
Elga langsung menol pipih Dyra membuat anak itu langsung menggeliat, Dyra begitu sensitif dengan sentuhan tiba-tiba. Apa lagi jika yang menyentuhnya orang lain.
Dyra sangat tidak suka disentuh dengan cara mendadak, apa lagi jika orang baru. Berbeda dengan Dyta. Elga tidak tau, sifat dari mana didapatkan anak bungsunya itu.
Elga meneguk salivanya susah payah, saat suara tangisan anak itu pecah.
Elga melirik kearah tempat tidur, dia merasakan atmosfer dikamarnya langsung hilang begitu saja saat melihat Kayla tengah duduk diatas tempat tidur dengan menatap Elga dengan gerak.
Tatapan Kayla sangat horor, apa lagi tidurnya tengah terganggu. Elga melirik Dyra, bukannya tangisnya redah suara anak itu semakin keras membuat Elga jadi gelagapan.
__ADS_1
Jika mengurus soal anak, Elga akan menjadi gelagapan, dia tidak tau harus memulai dari mana.
Elga melirik Kayla, hanya Kayla saja yang dapat meredakan tangisan Dyra. Untung saja kamar mereka kedap suara, jika tidak bisa-bisa Rara dan Frezan akan terusik dengan suara tangisan Dyra tengah malam begini.
Elga melirik Kayla dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, sementara Kayla menatapnya dengan horor.
"EL!" geram Kayla.
"Sorry, Kay."
Bagaimana tidak, jika Kayla tengah mengantuk dan dibangunkan suara tangisan Dyra. Dia tau, jika yang menangis itu adalah Dyra si tukang nangis.
***
Valen merenggangkan otot-otot tubuhnya, jadwalnya dirumah sakit sangat padat sehingga membuatnya harus lembur dan pulang jam 12 malam.
Dari lantai atas, Rifal memperhatikan Valen. Dia belum tidur jam segini, entah mengapa dia belum tidur. Mungkin saja pikirannya susah diajak berkompromi malam ini.
Valen menyandarkan kepalanya diatas sofa. "Capek banget," keluhnya kepada dirinya sendiri.
"Aku mau kamu berhenti kerja."
Valen langsung melirik keasal suara tersebut, entah sejak kapan Rifal berdiri dengan posisi tidak jauh darinya.
"Kenapa aku harus berhenti?" tanya balik Valen kepada Rifal.
"Apa kamu tidak sadar? Kamu pulang jam begini bisa membahayakan nyawa anak aku didalam kandungan kamu. Aku tidak mau, karna bekerja kamu akan kelelahan dan membahayakan janin dalam kandungan kamu," kata Rifal menatap manik mata Valen yang tengah duduk disofa.
Valen beranjak dari sofa yang dia duduki. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan janin dalam perut aku. Aku bisa menjaga anak aku tanpa kamu ingatkan," Valen menekan setiap perkataannya. Dia tidak mau Rifal memberikan dirinya perhatian yang akan membuatnya semakin berharap.
Katakan jika dia mudah baper, dia tidak mau jatuh untuk kesekian kalinya, bukan untuk kedua kalinya.
Valen langsung pergi meninggalkan Rifal. "Aku bisa ingatkan pada diri ku sendiri, kapan aku istrihat dan makan demi janin yang aku kandung. Aku seorang dokter jadi aku udah tau apa yang harus aku lakukan," ucap Valen lalu pergi meninggalkan Rifal.
Rifal melihat punggung Valen yang semakin jauh, rasanya ada yang bedah dengan perkataan Valen, namun dia tidak bisa memprotes akan hal ini.
Valen lebih berhak akan hal ini, namun Rifal tidak peduli. Karna anak yang dikandung Valen anaknya juga.
__ADS_1